Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat terdapat 864 titik api kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Indonesia hingga Rabu (4/11).
Luas lahan yang saat ini dalam penanganan mencapai 1.615 hektare, dengan sejumlah wilayah mengalami peningkatan titik api maupun luas lahan yang ditangani.
Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan mengatakan, terdapat 10 provinsi yang menjadi wilayah penanganan karhutla, dengan enam provinsi yang menjadi perhatian BNPB.
“Untuk penanganan dan pengendalian karhutla di Indonesia, ada 10 provinsi yang kami catat, namun kami dapat laporkan ada 6 yang signifikan yang menjadi perhatian kami. Dari total fire spot atau titik api ada 864 titik, sedangkan luas lahan yang saat ini dalam penanganan ada 1.615 hektare,” tutur Berton dalam konferensi pers di Gedung BNPB, Jakarta Timur, Rabu (4/11).
Kalimantan Tengah menjadi salah satu wilayah yang mendapat perhatian karena jumlah titik api meningkat 50 persen menjadi 425 titik. Luas lahan yang ditangani di provinsi tersebut mencapai 664 hektare.
Selain itu, peningkatan titik api juga terjadi di Sumatera Selatan dan Jambi. Di Sumatera Selatan, jumlah titik api mencapai 60 titik atau naik sekitar 186 persen, sedangkan luas lahan yang ditangani mencapai 105 hektare atau meningkat 66 persen. Sementara di Jambi, BNPB mencatat 150 titik api atau meningkat 134 persen, dengan luas lahan yang ditangani mencapai 403 hektare.
Sebaliknya, jumlah titik api di Papua Selatan turun menjadi 120 titik dengan luas lahan yang ditangani 203 hektare atau berkurang 78 persen. Adapun di Nusa Tenggara Timur, jumlah titik api turun menjadi 24 titik, tetapi luas lahan yang ditangani justru meningkat menjadi 58 hektare.
Terakhir, di Kalimantan Timur, jumlah titik api turun menjadi 85 titik, sedangkan luas lahan yang terbakar meningkat menjadi 182 hektare.
Dalam hal ini, BNPB pun mengimbau pemerintah daerah untuk memberikan perhatian khusus terhadap wilayah yang mengalami peningkatan titik api maupun luas lahan yang ditangani.
“Tentu kami mengimbau kepada pemerintah daerah secara khusus melihat, terutama adanya peningkatan titik api dan juga jumlah lahan yang sedang ditangani,” ujar Berton.
BNPB Gelar OMC di 3 ProvinsiUntuk mendukung penanganan karhutla, BNPB terus melakukan operasi modifikasi cuaca (OMC) di sejumlah wilayah. Berton merincikan, operasi tersebut dilakukan di Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Sumatera Selatan.
Di Kalimantan Tengah, BNPB melakukan enam sorti dengan menyemai 10.600 kilogram dry ice maupun garam.
“Kami akan menyampaikan tiga provinsi yang secara signifikan kami melakukan kegiatan ini, di mana di Kalimantan Tengah ada 6 sorti, sebanyak 6 sorti dan ada 10.600 kg dry ice maupun garam yang disemaikan,” ungkapnya.
Dia menerangkan, operasi tersebut dilakukan untuk memicu hujan ringan di Palangka Raya dan sejumlah kabupaten, termasuk Sukamara, Katingan, Kotawaringin Timur, Seruyan, Kotawaringin Barat, Gunung Mas, hingga kawasan Taman Nasional Tanjung Puting.
Sementara di Kalimantan Selatan, BNPB melakukan dua sorti dengan menyebarkan garam atau NaCl. Operasi tersebut dilaporkan menghasilkan hujan ringan di sejumlah wilayah.
“Kita mendapat laporan bahwa terjadi hujan ringan di Banjarbaru, Banjarmasin, Tanah Laut, dan Tanah Bumbu,” jelas Berton.
OMC juga dilakukan di Sumatera Selatan melalui dua sorti dengan penyebaran 5.600 kilogram garam. Dari hasil OMC tersebut, BNPB menerima laporan hujan cenderung lebat di sejumlah wilayah, termasuk Indralaya, Ogan Ilir, sekitar Bandara Palembang, Muara Padang, dan Banyuasin.
Selain OMC, BNPB mengoperasikan dan menyiagakan 47 unit alutsista untuk mendukung penanganan karhutla.
Berton mengatakan, terdapat penambahan masing-masing satu unit di Maluku Utara dan Sulawesi Tenggara, serta reposisi alutsista dari satu provinsi ke provinsi lainnya sesuai kebutuhan penanganan.
Penyesuaian penempatan alutsista, kata Berton, dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi karhutla di setiap wilayah.
“Tentu ini juga kita lihat adanya penyesuaian ketika karhutla yang terbakar maupun yang ditangani jauh lebih sedikit, tentu kita bisa mereposisi ke tempat yang lain,” pungkas Berton.
Kualitas Udara Kotawaringin Timur dan Palangka Raya Masuk Kategori BerbahayaDi sisi lain, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) terus memantau dampak kabut asap karhutla terhadap kesehatan masyarakat, terutama kelompok rentan.
Juru Bicara Kemenkes Widyawati menyampaikan, berdasarkan pemantauan Indeks Standar Udara (ISPU) pada 3 November 2026 pukul 09.00 WIB, terdapat dua kabupaten/kota dengan kualitas udara kategori berbahaya, yakni Kotawaringin Timur dan Palangka Raya.
“Ada dua wilayah yang perlu menjadi perhatian khusus, yaitu Kabupaten Kotawaringin Timur dengan nilai PM2.5 sebesar 580, dengan Kota Palangka Raya sebesar 348. Keduanya ini sudah masuk dalam kategori berbahaya,” beber Widyawati.
Sementara itu, Kemenkes juga mencatat sejumlah daerah dengan kategori tidak sehat, antara lain Muara Jambi, Barito Selatan, Sukamara, Katingan, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Palembang, hingga Bengkalis.
Kemenkes Catat 401.586 Kasus ISPALebih lanjut, Kemenkes mencatat 401.586 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) secara kumulatif di tujuh provinsi dan 63 kabupaten/kota terdampak karhutla, berdasarkan data per 2 November 2026 pukul 16.00 WIB. Pada tanggal tersebut, terdapat pula penambahan 3.906 kasus.
Dari jumlah tersebut, tercatat 91.913 kasus ISPA pada kelompok balita usia 0-5 tahun, 87.704 kasus pada anak usia 6-9 tahun, dan 56.092 kasus pada kelompok lansia di atas 60 tahun.
Selain itu, pemantauan juga mencakup 590 ibu hamil, 1.530 penderita asma, serta 8.086 pekerja luar ruangan.
Menurut Widyawati, tren kasus ISPA menunjukkan perkembangan berbeda di pemantauan pada lima provinsi.
“Tiga provinsi menunjukkan tren penurunan kasus yaitu Kalimantan Tengah, Sumatera Selatan, dan Riau, sementara di dua provinsi lainnya, Kalimantan Timur dan Kalimantan Barat menunjukkan tren peningkatan,” terangnya.
Masih Selidiki Laporan Kematian Masyarakat akibat KarhutlaDalam kesempatan itu, Widyawati mengumumkan Kemenkes masih menyelidiki laporan kematian masyarakat yang diduga berkaitan dengan karhutla.
Hingga saat ini, Widyawati menyebut Kemenkes belum dapat memastikan apakah kematian itu disebabkan paparan asap karhutla atau faktor lainnya.
“Sampai saat ini kami masih dalam penyelidikan, apakah yang meninggal itu karena terpapar atau karena korban karhutla. Nanti kalau memang sudah ada hasilnya, kami akan beritahukan kepada media,” tutur Widyawati.
Dia menjelaskan, dalam data Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR), terdapat enam korban jiwa yang tercatat. Namun, korban tersebut merupakan petugas, bukan masyarakat umum dan disebabkan oleh luka bakar.
“Jadi sebetulnya kalau korban jiwa di dalam survei kita, di dalam data kita di dari SKDR itu memang ada, tapi bukan dari masyarakat. Itu adalah petugas,” ungkap dia.
Siapkan 360 Rumah Sakit Rujukan dan 1.691 PuskesmasLebih lanjut, untuk mengantisipasi dampak kesehatan, Kemenkes telah mendistribusikan logistik kesehatan ke tujuh provinsi terdampak karhutla.
Bantuan tersebut mencakup sekitar 3,8 juta masker, 280 unit oksigen konsentrator, 41.000 pasang sarung tangan medis, 939 tabung oksigen, serta berbagai obat, vitamin, dan alat pelindung diri.
Selain itu, Kemenkes juga menyiapkan 360 rumah sakit rujukan dan 1.691 puskesmas untuk menangani masyarakat terdampak, yang didukung dengan 87 laboratorium kesehatan masyarakat dan layanan darurat Public Safety Center (PSC) di 119 lokasi.
“Seluruh jaringan fasilitas ini didukung penuh oleh pasokan logistik medis serta ribuan tenaga medis dan dokter spesialis yang siap siaga di lapangan,” ucap Widyawati.
Pada kesempatan itu, Kemenkes turut mengimbau masyarakat untuk melakukan sejumlah langkah pencegahan guna mengurangi risiko gangguan kesehatan akibat paparan kabut asap karhutla.
“Seperti biasa, selalu gunakan masker, mengurangi paparan partikel berbahaya dari asap, terutama ketika harus beraktivitas di luar rumah,” jelas Widyawati.
“Jaga kesehatan dan kebersihan, pastikan kebutuhan air putih tercukupi, cuci tangan secara rutin, konsumsi makanan bergizi, jaga kebersihan lingkungan, pantau informasi selalu kualitas udara melalui kanal resmi,” pungkasnya.





