Jakarta, tvOnenews.com - Tantangan geopolitik dan terganggunya rantai pasok energi global menuntut Indonesia untuk memperkuat ketahanan energi nasional.
Di sela-sela konferensi energi ADIPEC 2026 di Abu Dhabi, Rabu (4/11), Pakar Kebijakan Energi, Prof. Jun Arima, mengingatkan bahwa ketergantungan pada energi impor membuat Indonesia rentan terhadap guncangan internasional, terutama di tengah kebutuhan energi domestik yang terus melonjak untuk pertumbuhan ekonomi.
Arima menyarankan Indonesia untuk berkaca pada pengalaman Jepang dalam membangun sistem cadangan energi strategis sejak dekade 1970-an.
Menurutnya, Indonesia harus memperkuat kapasitas penyimpanan, memperkuat kelembagaan, serta menjalin kerja sama regional yang solid.
"Indonesia perlu memperkuat kapasitas penyimpanan energi, mengembangkan sumber daya domestik, dan membangun mekanisme kolaborasi dengan negara-negara lain di kawasan," ujar Arima.
Sebagai solusi, Indonesia didorong untuk mengoptimalkan potensi gas alam, panas bumi, dan mineral kritis.
Arima menekankan bahwa fokus hilirisasi mineral kritis sangat krusial untuk meningkatkan nilai tambah ekonomi, tidak sekadar menjual bahan mentah.
Dalam hal ini, kemitraan strategis dengan Jepang dipandang sebagai peluang emas.
Dengan mengombinasikan kekayaan sumber daya alam Indonesia dan teknologi lingkungan serta industri Jepang, kedua negara dapat memperkuat infrastruktur energi dan transisi menuju ekonomi rendah karbon secara lebih pragmatis.
Secara keseluruhan, ketahanan energi Indonesia ke depan tidak hanya bergantung pada sumber daya, tetapi juga pada investasi teknologi, kesiapan infrastruktur, dan kerja sama regional yang lebih erat. (dpi)




