PT Pupuk Indonesia (Persero) membutuhkan pasokan gas bumi sekitar 880 billion British thermal units per day (BBTUD) untuk mendukung produksi pupuk nasional. Perusahaan meminta pemerintah memprioritaskan kebutuhan gas industri pupuk melalui kebijakan Domestic Market Obligation (DMO), mengingat gas bumi menjadi bahan baku utama produksi amonia dan urea.
SVP Corporate Strategic PT Pupuk Indonesia Dade Sanja Wijaya mengatakan, hampir seluruh produksi pupuk urea di Indonesia menggunakan gas alam. Karena itu, kepastian pasokan gas domestik menjadi faktor penting untuk menjaga keberlangsungan produksi pupuk dan mendukung ketahanan pangan.
"880 BBTUD per hari ya, kita memerlukan gas bumi untuk produksi pupuk," ujar Dade dalam Minerba Convex di Jakarta, Selasa (3/11/2026).
Dia menegaskan, perusahaan mendukung kebijakan yang memprioritaskan pemanfaatan gas bumi untuk kebutuhan industri dalam negeri, terutama sektor pupuk.
"Kami sebetulnya sangat mengapresiasi sekali apabila gas bumi itu menjadi konsep DMO itu menjadi prioritas bagi dalam negeri, itu sangat setuju sekali," katanya.
Dade menjelaskan, gas bumi digunakan sebagai bahan baku untuk menghasilkan amonia yang kemudian diolah menjadi urea. Selain sebagai bahan baku, sebagian gas juga dimanfaatkan sebagai bahan bakar dalam proses produksi di pabrik pupuk.
Menurutnya, kebutuhan gas tersebut berkaitan langsung dengan produktivitas pertanian. Dia menyebut pemupukan berkontribusi sekitar 62% terhadap produktivitas pertanian, dengan 35% kontribusi berasal dari penggunaan pupuk urea berbasis nitrogen.
Selain gas bumi, Pupuk Indonesia juga menggunakan batu bara untuk memenuhi kebutuhan energi operasional sejumlah pabrik. Dade menyebut perusahaan membutuhkan sekitar 1,5 juta ton batu bara setiap tahun untuk menghasilkan uap (steam) melalui fasilitas boiler.
"Untuk yang batu bara memang kami menggunakan batu bara untuk boiler batu bara. Di situ kurang lebih sekitar 1,5 juta ton kita memerlukan batu bara," ungkapnya.
Kebutuhan batu bara tersebut digunakan di sejumlah fasilitas produksi, yakni Pupuk Sriwidjaja Palembang, Pupuk Kalimantan Timur, dan Petrokimia Gresik.
Baca Juga: PTPP Raih Kontrak Rp400 Miliar dari Pupuk Kaltim, Garap Proyek Dermaga 11
Baca Juga: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
Di sisi lain, Pupuk Indonesia menjalankan program revitalisasi pabrik untuk memperkuat kapasitas dan efisiensi produksi pupuk berbasis gas. Perusahaan telah menyelesaikan revitalisasi pabrik Kaltim 2 di Bontang yang diresmikan pada 2025.
Perusahaan juga menyiapkan pengoperasian pabrik Pusri 3B di Palembang pada rentang Januari hingga April 2027. Kehadiran pabrik baru tersebut akan diikuti penutupan pabrik Pusri 3 dan Pusri 4 yang telah berusia sekitar 46 tahun.
Selain itu, Pupuk Indonesia menyiapkan pengembangan fasilitas produksi urea di Pulau Yamdena, Maluku, setelah menandatangani Perjanjian Jual Beli Gas (PJBG) dengan Inpex pada 28 Oktober 2026.





