Seekor bangau cangak merah terbang di atas pepohonan di hutan konservasi (HCV) PT Gersindo Minang Plantation, anak perusahaan Wilmar, di Kabupaten Pasaman Barat, Sumatera Barat, Rabu (14/10/2026). KOMPAS/RADITYA HELABUMI
Lutung perak (Trachypithecus), salah satu satwa yang dijumpai di hutan konservasi atau area high conservation value PT Gersindo Minang Plantation. KOMPAS/RADITYA HELABUMI
Rambu larangan berburu terpasang di kawasan hutan konservasi. KOMPAS/RADITYA HELABUMI
Debu beterbangan saat roda mobil minibus yang kami tumpangi melibas jalan tanah dan berbatu. Jalan dengan lebar sekitar 5 meter itu membelah di tengah-tengah perkebunan.
Di sisi kanan dan kiri mobil yang sedang melaju itu terhampar perkebunan sawit yang rapat. Saat melihat aplikasi peta pada gawai, hutan konservasi yang menjadi tujuan masih sekitar 15 menit lagi.
Hutan itu berada di wilayah Lingkuang Aua Hilia, Kecamatan Pasaman, Kabupaten Pasaman Barat, Sumatera Barat. Menjelang pukul 11.00 WIB, Rabu (14/10/2026), akhirnya kami tiba di lokasi hutan konservasi tersebut. Kawasan seluas 54,64 hektar tersebut berada di tengah perkebunan kelapa sawit dan merupakan area konservasi bernilai tinggi atau high conservation value (HCV) milik PT Gersindo Minang Plantation (GMP), salah satu anak perusahaan Wilmar Group.
Kawasan konservasi tersebut masih menyimpan lebih dari 240 jenis flora dan fauna. Sejumlah satwa tersebut antara lain lutung perak (Trachypithecus) yang dikenal pula sebagai lutung kelabu, monyet ekor panjang (Macaca fascicularis), bangau cangak merah (Ardea purpurea), serta kangkareng perut putih (Anthracoceros albirostris), burung rangkong yang dilindungi. Di dalam hutan konservasi, satwa-satwa tersebut mencari makan, berlindung, dan berkembang biak.
Menurut Koordinator HCV Wilmar Regional Sumatera Barat Ityasman, meskipun hutan konservasi berada di dalam kawasan perkebunan, bukan berarti keberadaan satwa itu bebas dari ancaman. Perburuan terhadap satwa liar menjadi salah satu ancaman yang harus diwaspadai meski sebenarnya flora dan fauna di dalam hutan memiliki relasi yang saling berkaitan.
Pohon dan tumbuhan lainnya adalah tempat berlindung dan sumber makanan, sementara satwa membantu keberlangsungan vegetasi. Lutung kelabu adalah salah satu satwa yang memiliki peran penting menjaga regenerasi hutan.
Buah-buahan yang mereka makan dapat membawa biji ke tempat lain, kemudian membantu tumbuhnya pepohonan baru. Lutung-lutung tersebut mudah dijumpai di beberapa lokasi di dalam hutan konservasi. Mereka dengan lincah melompat dari balik pepohonan yang rimbun.
”Kehadirannya sangat penting untuk lingkungan di sekitar habitatnya. Ia menyebarkan biji makanannya. Hutan-hutan ini masih dibiarkan sejak awal tidak dibuka. Jadi, bisa dibilang, pohon-pohon di sini hasil dari penyebaran biji-biji bekas makanan lutung,” kata Ityasman.
Masuk ke dalam area hutan konservasi. KOMPAS/RADITYA HELABUMI
Pengukuran pohon cempedak air di hutan konservasi. KOMPAS/RADITYA HELABUMI
Pencatatan hasil pemantauan di dalam hutan konservasi. KOMPAS/RADITYA HELABUMI
Untuk menjaga keberlangsungan hutan konservasi, petugas HCV rutin melakukan patroli menyusuri kawasan konservasi. Selain untuk melihat langsung perubahan kondisi hutan, juga untuk memitigasi potensi ancaman terhadap habitat satwa.
Pengukuran, pemotretan, dan pencatatan menjadi rutinitas dan bagian penting dari upaya mengenali perubahan kondisi kawasan. Data yang telah dikumpulkan itu membantu petugas memantau perkembangan vegetasi serta keberadaan satwa yang hidup di dalam hutan rawa itu.
Tak hanya menjadi habitat satwa, hutan rawa tersebut memiliki fungsi ekologis yang tidak kalah penting. Meski bukan termasuk gambut dalam, tanah di kawasan tersebut mampu menyimpan cukup banyak air. Genangan air yang banyak tersebar di antara lebatnya pepohonan membuat kawasan itu berperan sebagai tempat menampung air.
Saat Kompas turut menyusuri hutan bersama petugas patroli HCV, di beberapa titik, genangan air menutup jalur yang hendak dilalui. Air yang tertahan di antara akar dan batang pohon membentuk rawa-rawa kecil yang menyatu dengan lanskap hutan.
Ketika melangkahkan kaki di area yang tampak kering, ternyata tanah di bawahnya lunak dan ambles. Sepatu bot yang dikenakan akhirnya kemasukan air karena menginjak lahan gambut yang agak dalam.
Keberadaan kawasan hutan bernilai konservasi tinggi akan memberi manfaat ekologis apabila dikelola dan dijaga dengan baik. Hutan perlu memiliki keanekaragaman hayati yang memadai, termasuk menyediakan sumber pakan bagi satwa yang hidup di dalamnya.
Sementara masyarakat di sekitar kawasan hutan bernilai konservasi tinggi dapat memanfaatkan hasil hutan bukan kayu yang sesuai dengan prinsip kelestarian. Hal itu menjadikan pengelolaan kawasan hutan bernilai konservasi tinggi di tengah perkebunan juga tidak mudah.
Tantangan utamanya adalah menemukan keseimbangan antara perlindungan kawasan dan manfaatnya bagi masyarakat sekitar.





