Waterfront Research Proyeksikan Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,33 Persen pada Kuartal III-2026

kumparan.com
2 jam lalu
Cover Berita

Waterfront Research memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III-2026 mencapai 5,33 persen secara tahunan (year-on-year/yoy). Pertumbuhan tersebut diperkirakan meningkat dibandingkan kuartal II-2026 sebesar 5,29 persen dan kuartal III-2025 sebesar 5,04 persen, dengan permintaan domestik, terutama belanja pemerintah dan investasi, menjadi penopang utama.

Raffi Hemas dari Waterfront Research Team menjelaskan, penguatan investasi tercermin dari pertumbuhan kredit investasi sebesar 23,2 persen secara tahunan. Sementara itu, realisasi investasi pada kuartal III-2026 mencapai Rp528,7 triliun atau meningkat 7,6 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

“Permintaan domestik masih menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi Indonesia. Belanja pemerintah dan investasi memberikan kontribusi penting, sementara konsumsi rumah tangga diperkirakan tetap tumbuh moderat di kisaran 5 persen,” ujar Raffi dalam Economic Notes Waterfront Research.

Meski demikian, kinerja perdagangan luar negeri masih menjadi salah satu faktor penahan pertumbuhan. Sepanjang Januari hingga Agustus 2026, impor tumbuh 19,84 persen, lebih tinggi dibandingkan ekspor yang meningkat 4,74 persen. Kondisi tersebut membuat kontribusi ekspor neto belum optimal dalam menopang pertumbuhan ekonomi.

Di sisi lain, aktivitas manufaktur menunjukkan momentum penguatan. Indeks PMI manufaktur meningkat menjadi 54,0 pada Oktober 2026. Dengan perkembangan tersebut, Waterfront Research memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2026 berada di kisaran 5,3 persen.

Dari sisi fiskal, belanja negara hingga September 2026 tercatat tumbuh 19 persen secara tahunan menjadi Rp2.660,5 triliun, dengan realisasi mencapai 69,2 persen dari pagu anggaran. Sementara itu, defisit anggaran masih terjaga pada level 1,24 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).

“Ruang fiskal yang masih tersedia, termasuk sisa pagu anggaran sekitar 30,8 persen dan stimulus akhir tahun yang diperkirakan mencapai Rp31 triliun, diharapkan dapat menjaga permintaan domestik pada kuartal IV-2026,” jelas Raffi.

Namun, pemerintah tetap perlu mencermati risiko kenaikan harga minyak dunia. Apabila harga minyak bertahan di atas 100 dolar AS per barel, peningkatan kebutuhan subsidi energi berpotensi menggeser sebagian alokasi anggaran yang seharusnya dapat digunakan untuk belanja produktif.

Pada sisi moneter, Waterfront Research memperkirakan Bank Indonesia akan mempertahankan suku bunga acuan atau BI Rate di level 5,75 persen hingga akhir 2026. Proyeksi tersebut mempertimbangkan pertumbuhan kredit yang masih mencapai 13,26 persen secara tahunan.

Meski demikian, tekanan terhadap nilai tukar rupiah dan perubahan kebijakan suku bunga Amerika Serikat tetap menjadi faktor yang perlu diperhatikan. Jika Federal Reserve kembali menaikkan suku bunga pada Desember dan rupiah bertahan di atas Rp18.500 per dolar AS, terdapat potensi kenaikan BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 6,00 persen.

Tekanan juga terlihat di pasar saham. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi 41,5 persen secara year-to-date ke level 5.057, disertai aksi jual bersih investor asing sebesar Rp94,87 triliun. Waterfront Research menilai pelemahan tersebut lebih mencerminkan peningkatan premi risiko terkait tata kelola pasar setelah munculnya usulan reklasifikasi dari MSCI, bukan semata-mata disebabkan pelemahan fundamental ekonomi.

“Volatilitas pasar saham berpotensi berlanjut hingga proses konsultasi MSCI berakhir pada 30 April 2027. Percepatan reformasi terkait free float dan keterbukaan kepemilikan saham menjadi faktor penting untuk memperbaiki persepsi investor terhadap pasar modal Indonesia,” kata Raffi.

Berbeda dengan pasar saham, kepemilikan investor asing pada Surat Berharga Negara (SBN) justru meningkat 4,77 persen secara year-to-date menjadi Rp921,96 triliun. Hal ini mengindikasikan persepsi risiko terhadap pemerintah dan instrumen utang negara masih relatif terjaga. Kendati demikian, imbal hasil atau yield SBN tenor 10 tahun meningkat menjadi 7,67 persen mengikuti pergerakan US Treasury.

Waterfront Research memperkirakan yield SBN tenor 10 tahun berada pada kisaran 7,4–7,9 persen hingga akhir 2026. Tekanan dapat meningkat dan mendorong yield mendekati 8 persen apabila yield US Treasury tenor 10 tahun menembus 5,2 persen.

Sementara itu, nilai tukar rupiah masih menghadapi tekanan dan melemah ke level Rp18.183 per dolar AS. Tekanan tersebut dipengaruhi kenaikan imbal hasil global serta arus keluar modal dari pasar saham. Meski demikian, cadangan devisa sebesar 146,3 miliar dolar AS dinilai masih memadai sebagai bantalan untuk menjaga stabilitas eksternal.

“Rupiah diperkirakan bergerak pada kisaran Rp17.900–Rp18.400 per dolar AS hingga akhir 2026. Namun, pelemahan lebih lanjut perlu diwaspadai karena dapat memperlebar defisit perdagangan migas yang telah mencapai 23,6 miliar dolar AS sekaligus meningkatkan tekanan inflasi dari barang-barang impor,” tutup Raffi.

Dengan berbagai perkembangan tersebut, Waterfront Research menilai permintaan domestik masih menjadi fondasi utama pertumbuhan ekonomi Indonesia. Namun, keberlanjutan pertumbuhan tetap membutuhkan pengelolaan fiskal yang terukur, stabilitas moneter, serta penguatan kepercayaan investor di tengah tekanan pasar keuangan global.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Shanghai Fair 2026 Bidik Peluang Bisnis Indonesia-Tiongkok, Hadirkan Ratusan Perusahaan
• 14 jam lalumedcom.id
thumb
Hasto Puji Anggota Polri yang Bongkar Penyadapan Prabowo: Hati Nurani Masih Ada!
• 23 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Heboh! Ratusan Karung Limbah Misterius di Bangkalan Bikin Mata Perih dan Tenggorokan Sakit
• 21 jam lalurctiplus.com
thumb
Listyo Sigit Prabowo Cuma 35 Hari Menjabat Kepala Staf Presiden
• 20 jam laludetik.com
thumb
Pemprov Lampung Tawarkan Diskon Pajak 50 Persen untuk Investor Kawasan Wisata Terpadu di Tiga Kabupaten
• 8 jam lalupantau.com
Berhasil disimpan.