PT Brantas Abipraya (Persero) memperkuat kontribusinya dalam percepatan pemulihan wilayah terdampak banjir di Aceh melalui penanganan infrastruktur dan penataan kawasan bersama Kementerian Pekerjaan Umum (PU).
Upaya kolaboratif ini telah menjangkau 16 desa, terdiri dari 11 desa di Kabupaten Pidie dan 5 desa di Kabupaten Bireuen, sebagai bagian dari langkah nyata mengembalikan fungsi lingkungan dan aktivitas masyarakat pascabencana. Respons tersebut merupakan tindak lanjut atas bencana banjir yang melanda sejumlah wilayah di Aceh pada November 2025.
Dalam pelaksanaannya, Brantas Abipraya bersama Kementerian PU melakukan serangkaian pekerjaan pemulihan, mulai dari pembersihan material sisa banjir, pembersihan akses lingkungan, normalisasi saluran dan drainase, hingga pemulihan fasilitas umum.
Sekretaris Perusahaan Brantas Abipraya, Dian Sovana, menyampaikan bahwa keterlibatan perusahaan dalam pemulihan pascabencana merupakan bagian dari komitmen untuk hadir memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, khususnya ketika wilayah dan kehidupan warga menghadapi kondisi sulit akibat bencana.
"Pemulihan pascabencana bukan sekadar mengembalikan kondisi infrastruktur seperti semula, tetapi juga bagaimana kita membantu masyarakat bangkit, kembali menjalankan aktivitas sehari-hari, dan menumbuhkan optimisme untuk menata kehidupan ke depan. Melalui sinergi bersama Kementerian PU, kami berupaya memastikan setiap langkah penanganan memberikan dampak nyata bagi masyarakat terdampak," ujar Dian yang dikutip di Jakarta, Kamis (5/11/2026).
Lebih dari sekadar pekerjaan fisik, pemulihan infrastruktur juga menjadi pintu masuk bagi kebangkitan sosial dan ekonomi masyarakat. Lingkungan yang kembali bersih, akses yang dapat digunakan, serta saluran drainase yang berfungsi menjadi elemen penting untuk mendukung aktivitas warga dan mempercepat normalisasi kehidupan di kawasan terdampak.
Brantas Abipraya memandang bahwa keberhasilan pemulihan pascabencana membutuhkan kolaborasi berbagai pihak, termasuk partisipasi masyarakat setempat. Semangat gotong royong menjadi kekuatan penting dalam proses membangun kembali kawasan terdampak, sekaligus membuka ruang bagi tumbuhnya kesempatan kerja dan aktivitas ekonomi masyarakat.
"Semangat gotong royong menjadi fondasi penting dalam proses pemulihan ini. Kami percaya bahwa ketika pemerintah dan masyarakat bergerak bersama, yang dibangun bukan hanya infrastruktur, tetapi juga kepercayaan diri dan harapan masyarakat untuk kembali bangkit. Bersama, kita tidak hanya memulihkan lingkungan, tetapi juga menguatkan harapan untuk kembali," tambah Dian.
Baca Juga: Kesenjangan Literasi dan Inklusi Keuangan Syariah Masih Lebar, OJK dan Prudential Turun ke Aceh
Tak hanya itu, Brantas Abipraya juga hadir berperan aktif dalam pemulihan pasca hujan deras mengguyur Aceh pada Sabtu, 31 Oktober 2026 malam. Bencana ini menyebabkan beberapa desa di kecamatan terendam air. Berdasarkan laporan Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA), banjir terjadi akibat meningkatnya debit air sungai setelah hujan dengan intensitas tinggi.
Sebagai wujud kepedulian terhadap masyarakat terdampak, Brantas Abipraya juga menyalurkan bantuan kemanusiaan bagi korban bencana di Aceh. Bantuan ini melengkapi upaya pemulihan infrastruktur, sekaligus menjadi bentuk solidaritas perusahaan dalam meringankan beban masyarakat yang tengah menghadapi masa sulit.
Ke depan, melalui sinergi dengan Kementerian PU dan berbagai pemangku kepentingan, Brantas Abipraya berharap proses pemulihan wilayah terdampak dapat berlangsung semakin optimal. Tidak hanya mengembalikan fungsi infrastruktur dan fasilitas umum, upaya ini juga diharapkan dapat memperkuat ketahanan kawasan terhadap potensi bencana di masa mendatang.





