Tubuh Ardian Gunawan terangkat dari lantai Studio Bonbon, Jakarta. Kedua kakinya berayun dan terentang di udara. Lututnya mengait pada tiang. Ia berganti posisi lalu memperagakan pose blackbird split dengan kaki membentuk garis vertikal. Selang beberapa detik, tubuhnya berbalik dan kembali memutari tiang.
Tak ada musik maupun lampu sorot. Hanya tubuh Ardian, tiang besi, dan serangkaian gerakan akrobatik.
Selagi menari di sekeliling tiang, Ardian menemukan kebebasan. Baginya, pole dance bukan sekadar olahraga. Lewat aktivitas ini, dia berdamai dengan tubuhnya. Secara psikologis, pole dance bisa menjadi sarana terapi dan penerimaan diri.
Ketika telapak kaki Ardian mendarat di lantai, napasnya memburu. Jejak-jejak kemerahan tertoreh di paha dan lengan. Bekas-bekas itu disebabkan gesekan kulit dengan permukaan tiang besi. Demi bisa mengangkat tubuh dengan bertumpu pada tiang seperti tadi, ia tak hanya mengandalkan kelenturan, tetapi juga kekuatan otot inti dan stamina.
Selama menari dengan tiang, busana membalut tubuhnya amat minim. Ardian mengenakan celana pendek ketat dan kaus tak berlengan.
Pilihan berbusana ini kerap memancing pandangan negatif dari orang-orang. ”Emang harus banget telanjang, ya?” ujar Ardian, menirukan pertanyaan yang pernah dilemparkan kepadanya.
Ardian tahu stigma itu berakar dari sejarah pole dance sebagai tarian striptis kelab malam. Namun, ia punya jawaban teknis yang kuat. Kulit adalah rem alami bagi tubuh. Jika ia mengenakan celana panjang atau kaus tertutup, kain akan membuatnya tergelincir dari tiang besi.
Semakin banyak bagian kulit yang bersentuhan dengan tiang, titik yang dapat digunakan untuk menopang tubuh pun kian bertambah. Orang-orang yang belum pernah mencoba, kata Ardian, sering salah paham. Mereka mengira pakai baju terbuka berarti ingin memamerkan tubuh ke orang lain.
It’s most likely (boleh jadi) kita mau impress (mengesankan) diri kita sendiri juga.
Padahal, Ardian sendiri mengaku tak memiliki niat semacam itu. ”It's most likely (boleh jadi) kita mau impress (mengesankan) diri kita sendiri juga,” ungkapnya saat ditemui di Jakarta, Rabu (30/9/2026).
Kendati begitu, laki-laki berusia 32 tahun ini tak menampik keterkaitan pole dance dengan tari striptis. ”Memang tidak bisa dimungkiri, ada basisnya dari sana,” kata Ardian.
Perjalanan pole dance menjadi olahraga dirangkum dalam artikel History of Pole Dance yang terbit di laman Lupit Pole. Awal mulanya, sekitar tahun 1920 di Amerika, penari-penari hoojie coochie, tari erotis yang mirip tari perut, memanfaatkan tiang sebagai properti pertunjukan.
Baru di era 1950-an, mereka berpindah dari tenda sirkus ke bar dan kelab burlesque. Seiring berjalannya waktu, para penari makin kreatif. Mereka menciptakan trik-trik sulit seperti memanjat dan mengangkat tubuh secara terbalik (invert).
Perkembangan itu pula yang dikenali Mieke Suharini ketika pertama kali mencoba pole dance pada 2016. Instruktur pole dance sekaligus dosen ilmu administrasi bisnis ini tertarik setelah menyaksikan video musik Guilt yang dilantunkan grup Nero dalam album Welcome Reality. Dalam video itu, tampak seorang perempuan meliuk-liukkan tubuh di sekeliling tiang. Tangannya mencengkeram tiang dan mengangkat torso ke udara.
Mieke muda pun terkesan menontonnya. Ia takjub menyaksikan kekuatan dan kelenturan yang dimiliki si penari.
Sejak saat itu, Mieke mulai menekuni pole dance di studio Indonesia Pole Dance Association (IPDA) Jakarta. Sekalipun tak punya latar belakang olahraga, ia tetap berani memulai dari nol. Dari hari ke hari, kekuatan otot, kelenturan, maupun staminanya mulai bertambah.
Adakalanya pula Mieke ingin berhenti. Gerakan invert sempat membuatnya kewalahan. Namun, ia urung menyerah. Porsi latihannya bertambah. Dia bisa berlatih tiga hingga empat kali dalam sepekan.
Kegigihan Mieke berbuah manis. Lambat laun, gerakan-gerakan sulit yang semula terasa mustahil mulai ia kuasai. ”Berlanjut terus. Hingga akhirnya jadi passion-ku sampai sekarang,” ujarnya.
Tujuh tahun sejak memulai pole dance, Mieke mendirikan Bonbon Studio. Ia melihat potensi pole dance menjadi kegiatan berolahraga untuk orang-orang Indonesia. Di studionya, murid-murid yang datang berasal dari berbagai kalangan. Laki-laki dan perempuan. Tua maupun muda.
Menurut Mieke, semua orang bisa melakoni pole dance. Modal utamanya adalah konsistensi. Ia mengatakan, ”Harus rutin untuk bisa jago.”
Sebab, olahraga ini menuntut kekuatan otot, kelenturan, dan stamina. Misalnya, gerakan split di bagian atas tiang tidak hanya membutuhkan kelenturan. Perlu kemampuan otot untuk mempertahankan posisi tubuh. Di sisi lain, satu rangkaian gerakan berdurasi satu sampai dua menit. Untuk bisa bertahan selama itu, dibutuhkan daya tahan tubuh yang mumpuni.
Jadi, ’pole’ itu bukan hanya untuk sekadar olahraga saja, melainkan kita lihat dari sisi artistiknya atau keseniannya.
Banyaknya tuntutan keterampilan yang harus dikuasai untuk pole dance membuat Mieke percaya, stigma buruk pada olahraga ini bisa berubah. Dia beranggapan, cara seorang pole dancer membawakan gerakan turut memengaruhinya. Rangkaian gerakan yang dibawakan secara elegan bisa menonjolkan sisi artistiknya. Bukan semata-mata mempertontonkan sensualitas.
“Jadi, pole itu bukan hanya untuk sekadar olahraga, melainkan kita lihat dari sisi artistiknya atau keseniannya,” tambah Mieke.
Selain itu, Mieke juga menyoroti keunggulan olahraga yang ia lakoni dibandingkan olahraga lain. Jika disandingkan dengan latihan otot di gym, pole dance lebih efektif. Hanya dalam satu sesi, kelompok otot yang dilibatkan lebih banyak.
Ketika berolahraga di gym, beberapa bagian otot dilatih secara terpisah. Lengan, punggung, dan kaki memiliki rangkaian latihan masing-masing. Butuh tiga hingga empat jam untuk melatih seluruh bagian tubuh.
Sementara itu, menurut Mieke, satu jam latihan pole dance sudah cukup membuat bermacam otot tubuh bekerja secara bersamaan. ”Kalau di sini, selama satu jam, kita dapat semua,” ujarnya.
Selain Ardian dan Mieke, ada pula Vie Vicky. Baginya, tantangan dari pole dance tak sekadar kelenturan dan kekuatan otot. Keberanian menghadapi tubuh sendiri juga menjadi masalah.
Bertahun-tahun lamanya, Vicky bergelut dengan standar kecantikan Indonesia yang menuntut perempuan memiliki tubuh kurus dan kulit putih. Semenjak berkenalan dengan pole dance pada 2023, pergulatannya mereda. Dalam pole dance, pakaian yang dikenakan memang cenderung terbuka supaya tubuh mudah menempel pada tiang.
Keharusan mengenakan pakaian minim membuat Vicky terbiasa melihat tubuhnya sendiri. Seiring berjalannya waktu, kepercayaan dirinya terbentuk.
Pengalaman itu kemudian ia tampilkan di akun Instagram. Embracing body positivity, begitu bunyi kalimat yang tertulis di profilnya. ”So here I am (Di sinilah aku). Punya lengan gede, perut bergelambir, stretch mark, paha hitam. It’s okay (Itu tidak masalah),” tutur Vicky.
Vicky memperjelas maksud dari konsep body positivity. Ia tidak menganggap semua kondisi tubuh sehat. Justru, ia ingin mengingatkan bahwa setiap orang memiliki kondisi fisik yang berbeda. Mereka tidak perlu terus membandingkannya dengan tubuh orang lain.
Tubuh yang gemuk, kurus, mudah berotot, atau sulit membentuk otot memiliki tantangan masing-masing. Yang penting, kata Vicky, setiap orang perlu menerima kondisi tubuhnya dan mendengarkan kebutuhannya.
Perjalanan serupa dialami Ardian. Mula-mula, ia tidak puas dengan bentuk tubuhnya. Apalagi ketika dia harus memasuki studio pole dance yang berdinding kaca. Lama-kelamaan ia biasa dihadapkan dengan tubuhnya sendiri. ”Di tahun 2019, aku mulai pole dance di Milan Studio, Amerika. Ini jadi semacam exposure therapy sampai aku selesai dengan masalah body dysmorphia,” ujarnya.
Dari kacamata psikologi, rutinitas menatap tubuh di cermin memang bisa menjadi terapi paparan (exposure therapy). Psikolog klinis Rini Hapsari menjelaskan, para penari pole dance dihadapkan dengan isu-isu dalam diri. Lama-kelamaan, mereka belajar menerima.
Segala manfaat itu, menurut Rini, tumbuh dari pemaknaan atas proses olahraga itu sendiri. Kepuasan saat berhasil mencapai target gerakan serta sensasi bugar pada tubuh menjadi hadiah yang mengikis obsesi pada bentuk fisik semata.
Ekosistem suportif di studio juga berpengaruh. Kehadiaran instruktur yang positif akan memudahkan perjalanan tubuh seseorang. ”Biasanya, mereka akan terbantu dengan instruktur yang memberi feedback (umpan balik) yang sehat, mendukung, dan membimbing,” kata Rini.
Every time I touch a pole and I start moving, I feel free (Setiap kali menyentuh tiang dan mulai bergerak, aku merasa bebas).
Berdamai dengan bentuk tubuh bukan satu-satunya yang diperoleh Ardian dari pole dance. Muncul sensasi lain yang ia rasakan setiap kali tubuhnya bergerak mengitari tiang.
"Every time I touch a pole and I start moving, I feel free (Setiap kali menyentuh tiang dan mulai bergerak, aku merasa bebas),” katanya.
Sensasi kebebasan paling terasa sewaktu Ardian berputar dengan tiang. Alih-alih merasa kehilangan kendali, batinnya malah diliputi ketenangan. Tubuhnya dibiarkan mengalir seiring putaran tiang. Beriringan dengan itu, ia mengatur kondisi badannya. Beberapa bagian harus mengencang, sedangkan sisanya perlu meregang.
”Kaki, tangan, dan perutku mengikuti kontrol yang aku kuasai. Engage ini, engage itu. Dan aku jadi tenang,” kata Ardian seraya tersenyum tipis.
Kebebasan Ardian sekarang tidak datang tanpa rasa sakit. Rasa perih sekaligus nyeri kerap mendera tubuhnya saat menahan beban dan gesekan.
”Ini olahraga yang sakit dan sulit. Kalau masalah kuat enggak kuat, kita rasa semua orang yang tekun itu pasti kuat. Tapi pasti ada sakitnya, pasti ada pedesnya,” ujar Ardian.
Ardian sadar, ada banyak orang di luar sana yang ingin mencoba pole dance. Mereka mengurungkan keinginan karena cemas akan rasa sakit. Ardian mendukung orang-orang itu untuk memulai.
"You'll see from there. If you like it, then just engage in the community and I think you'll find very meaningful people inside it (Kamu akan merasakannya setelah mencobanya. Jika menyukainya, bergabunglah dengan komunitas ini. Menurutku, kamu akan menemukan orang-orang yang sangat berarti di dalamnya),” tuturnya dengan lembut.
Di mata Ardian, Mieke, dan Vicky, tiang itu tetap sama. Tubuh yang menempel padanya juga tak banyak berubah. Mereka bisa memar dan perih. Namun, lewat pole dance, tubuh yang dulu menjadi sumber ketidakpercayaan diri kini memberi ruang untuk merengkuh kebebasan.





