Harga Cabai Dorong Inflasi Oktober, El Nino Bayangi Produksi Pangan

medcom.id
4 jam lalu
Cover Berita
Jakarta: Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi Indonesia sebesar 0,22 persen secara bulanan pada Oktober 2026. Meski terlihat relatif terkendali, kenaikan harga sejumlah bahan pangan menjadi perhatian besar karena terjadi bersamaan dengan perkiraan penurunan produksi beras dalam beberapa bulan mendatang.

Mengutip data BPS pada Kamis, 5 November 2026, Indeks Harga Konsumen (IHK) meningkat dari 112,31 pada September menjadi 112,56 pada Oktober 2026. Secara tahunan, inflasi tercatat sebesar 3,23 persen, sedangkan inflasi tahun kalender mencapai 2,40 persen.

Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang inflasi bulanan terbesar dengan kontribusi 0,15 persen. Kenaikan harga cabai merah memberikan andil 0,13 persen, disusul cabai rawit sebesar 0,05 persen dan tomat sebesar 0,04 persen.

Pergerakan harga komoditas pangan menjadi salah satu faktor yang memengaruhi inflasi pada periode tersebut.

 

Baca Juga :

Inflasi AS dan Harga Minyak Jadi Penentu Nasib Rupiah hingga Akhir 2026

 

Produksi Beras Dibayangi El Nino
Di tengah kenaikan harga pangan, BPS juga mencatat adanya penurunan produksi padi. Pada September 2026, luas panen padi diperkirakan mencapai 0,91 juta hektar atau turun 19,4 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Penurunan luas panen tersebut turut memengaruhi produksi padi. BPS memperkirakan produksi padi pada September mencapai 4,88 juta ton gabah kering giling (GKG), turun 18,29 persen. Sementara itu, produksi beras untuk konsumsi penduduk diperkirakan sebesar 2,81 juta ton atau berkurang 18,25 persen.

Tekanan produksi diperkirakan berlanjut hingga akhir tahun. Untuk periode Oktober-Desember 2026, produksi beras diproyeksikan mencapai 5,01 juta ton, turun 16,32 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

BPS mengaitkan proyeksi tersebut dengan pengaruh El Nino yang diperkirakan lebih kuat dibandingkan kejadian pada 2023. Dampaknya terhadap sektor pertanian berpotensi semakin terasa dalam tiga bulan berikutnya.

Meski demikian, kondisi produksi sepanjang Januari-Agustus 2026 masih menunjukkan peningkatan. Artinya, penurunan pada beberapa bulan terakhir perlu dilihat bersama perkembangan produksi sepanjang tahun, bukan hanya dari satu periode pengamatan.

Di sisi lain, Nilai Tukar Petani (NTP) pada Oktober 2026 tercatat sebesar 132,60 atau meningkat 1,13 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Kenaikan ini didorong oleh indeks harga yang diterima petani sebesar 1,55 persen, lebih tinggi dibandingkan kenaikan indeks harga yang dibayar petani sebesar 0,41 persen.

 

Baca Juga :

Inflasi September 2026 Tembus 0,30%, Cabai Rawit Jadi Penyumbang Terbesar
  Perdagangan Masih Surplus, Pariwisata Tumbuh
Selain perkembangan harga dan produksi pangan, BPS mencatat neraca perdagangan Indonesia masih membukukan surplus sebesar USD10,61 miliar sepanjang Januari-September 2026.

Surplus tersebut berasal dari perdagangan nonmigas yang mencapai USD34,21 miliar dan sektor migas masih mengalami defisit sebesar USD23,60 miliar.

Dari sisi perdagangan, nilai ekspor Indonesia mencapai USD221,23 miliar atau tumbuh 5,58 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Namun, impor meningkat lebih cepat, yaitu 19,67 persen menjadi USD210,63 miliar. Kenaikan impor terutama didorong oleh barang bahan baku dan penolong yang mencapai USD150,57 miliar.

Sektor pariwisata juga menunjukkan perkembangan positif. Jumlah kunjungan wisatawan mancanegara selama Januari-September 2026 mencapai 12,01 juta kunjungan, meningkat 5,01 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Sementara itu, perjalanan wisatawan nusantara mencapai 938,84 juta perjalanan atau tumbuh 4,10 persen. Pada triwulan III 2026, rata-rata pengeluaran wisatawan mancanegara tercatat sebesar USD1.374,48 dengan rata-rata lama tinggal 11,01 malam.

Pergerakan penumpang transportasi juga menunjukkan tren yang beragam. Jumlah penumpang kereta api pada September 2026 mencapai 48,55 juta orang, meningkat 7,83 persen. Sebaliknya, jumlah penumpang angkutan udara domestik turun 12,39 persen menjadi 4,22 juta orang.

Secara keseluruhan, data BPS memperlihatkan aktivitas perdagangan dan pariwisata masih tumbuh, sementara tekanan pada harga pangan dan produksi beras perlu diperhatikan. Terlebih, potensi dampak El Nino pada akhir tahun dapat menjadi tantangan tambahan bagi sektor pertanian dan stabilitas harga kebutuhan pokok. (Wisa Irena Br Sitepu)

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
  • URL Berhasil di Salin Harga Cabai Dorong Inflasi Oktober, El Nino Bayangi Produksi Pangan Klik untuk baca: https://www.medcom.id/ekonomi/keuangan/dN6yRGRK-harga-cabai-dorong-inflasi-oktober-el-nino-bayangi-produksi-pangan

(ANN)

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
I League Cup: Carlos Pena Akui Ada Hal Positif di Balik Kekalahan Persita dari Dewa United
• 50 menit lalubola.com
thumb
Panduan Berburu Motor Jadul Bekas, Jangan Cuma dari Tampilan Mulus
• 7 jam lalukumparan.com
thumb
Wali Kota Medan: Keterampilan Jadi Kunci, Bukan Sekadar Ijazah
• 14 jam lalurepublika.co.id
thumb
Canva Pangkas 22 Persen Karyawan, 1.271 Pekerja Terdampak Restrukturisasi
• 3 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Roy Suryo Tertawa Saat Jokowi Tunjukan Ijazah di Sidang Kasus Fitnah
• 3 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.