Harga CPO Turun 4 Hari Beruntun, Sentuh Level Terendah 25 Pekan

idxchannel.com
3 jam lalu
Cover Berita

Harga minyak sawit mentah (CPO) kembali melemah pada perdagangan Kamis (5/11/2026), mendekati level terendah dalam 25 pekan.

Harga CPO Turun 4 Hari Beruntun, Sentuh Level Terendah 25 Pekan. (Foto: Magnific)

IDXChannel – Harga minyak sawit mentah (CPO) kembali melemah pada perdagangan Kamis (5/11/2026), mendekati level terendah dalam 25 pekan.

Tekanan datang dari kekhawatiran lonjakan stok dan produksi yang lebih besar dari perkiraan, ditambah pelemahan harga minyak mentah serta minyak nabati pesaing.

Baca Juga:
Samin Tan Juga Didakwa Pencucian Uang Rp18,1 Triliun dari Penjualan Batu Bara Ilegal

Kontrak berjangka CPO untuk pengiriman Januari di Bursa Malaysia Derivatives Exchange turun 2,20 persen menjadi 4.397 ringgit per ton hingga pukul 14.56 WIB.

Penurunan tersebut memperpanjang pelemahan harga CPO untuk hari keempat berturut-turut.

Baca Juga:
OJK: Gelombang Instabilitas Politik Global Dorong Investor Pasar Keuangan Bersikap Hati-Hati

Kepala Riset broker minyak nabati Sunvin Group yang berbasis di Mumbai, Anilkumar Bagani, mengatakan, seperti dikutip Reuters, pasar masih dibayangi sentimen bearish akibat kekhawatiran kenaikan persediaan yang lebih besar.

Hal ini menyusul perkiraan produksi yang berpotensi meningkat melampaui estimasi sebelumnya.

Baca Juga:
BPS: Indeks Pembangunan Manusia Indonesia Meningkat di 2026, Ini Indikatornya

Selain itu, Indonesia berpeluang mempercepat ekspor minyak sawit dalam dua bulan ke depan.

Langkah tersebut dapat dimanfaatkan untuk memperoleh tarif pungutan ekspor yang lebih rendah sekaligus menghindari potensi biaya transaksi Danantara atas registrasi ekspor yang mulai berlaku pada Januari, kata Bagani.

Tekanan terhadap harga CPO juga datang dari proyeksi kenaikan persediaan minyak sawit Malaysia.

Berdasarkan survei Reuters, stok minyak sawit Malaysia diperkirakan meningkat 6,8 persen dari rekor 3,51 juta ton pada September menjadi 3,75 juta ton.

Dewan Minyak Sawit Malaysia (Malaysian Palm Oil Board/MPOB) dijadwalkan merilis data pasokan dan permintaan minyak sawit periode Oktober pada 10 November.

Di pasar energi, harga minyak mentah kembali turun untuk hari keempat berturut-turut. Pelaku pasar memperkirakan kekalahan Partai Republik yang dipimpin Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dalam pemilihan kongres pekan ini dapat mengurangi risiko eskalasi lebih lanjut dalam konflik AS-Israel dengan Iran.

Pelemahan harga minyak mentah membuat minyak sawit menjadi kurang menarik sebagai bahan baku biodiesel.

Tekanan juga terlihat pada minyak nabati pesaing.

Kontrak minyak kedelai paling aktif di Dalian turun 0,45 persen, sedangkan kontrak minyak sawit di bursa yang sama melemah 1,4 persen.

Sementara itu, harga minyak kedelai di Chicago Board of Trade terkoreksi 1,23 persen.

Pergerakan harga minyak sawit cenderung mengikuti minyak nabati pesaing karena komoditas tersebut bersaing untuk memperoleh pangsa pasar dalam perdagangan minyak nabati global.

Dari sisi mata uang, ringgit Malaysia menguat 0,37 persen terhadap dolar AS.

Penguatan ringgit membuat harga minyak sawit menjadi sedikit lebih mahal bagi pembeli yang menggunakan mata uang asing, sehingga turut membatasi permintaan. (Aldo Fernando)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Jokowi Jadi Saksi di Sidang Roy Suryo Hari Ini, PN Jaktim Batasi Pengunjung
• 11 jam lalurctiplus.com
thumb
Jokowi "Absen" Satu-Satu Mata Kuliah yang Diambilnya di Persidangan Roy Suryo: Industri Kayu Lapis hingga Struktur dan Sifat Kayu
• 7 jam lalutvonenews.com
thumb
Dicecar Soal Pendaftaran Kuliah di UGM, Jokowi: Ini Sudah 45 Tahun Lalu
• 1 jam lalurepublika.co.id
thumb
Indonesia usung transisi energi hingga keadilan iklim di COP31 Turki
• 22 jam laluantaranews.com
thumb
Jabar dan Australia Kolaborasi Perkuat Sistem Kesehatan via Program KITA SEHAT
• 17 jam lalurepublika.co.id
Berhasil disimpan.