Lembaga Donor Darah Prancis (EFS) berhasil menggagalkan serangan siber yang menargetkan sistem pendingin penyimpanan stok darah nasional, Rabu (4/11). Pelaku menyusup ke jaringan vendor pihak ketiga dan mencoba memanipulasi suhu lemari pendingin di tiga fasilitas strategis. Otoritas kesehatan Prancis memastikan insiden sabotase digital ini tidak merusak pasokan kantong darah maupun mengganggu rantai pasok medis.
Peretas masuk ke sistem pengawasan dan kontrol suhu lemari pendingin melalui penyedia layanan teknis eksternal. Fasilitas pendingin tersebut menyimpan ribuan sampel darah serta kantong plasma untuk kebutuhan transfusi dan pembuatan obat-obatan kritis.
Berdasarkan laporan majalah investigasi Prancis Le Canard Enchaîné, pelaku sengaja memprogram ulang suhu lemari pendingin agar melonjak drastis hingga 110 derajat Celsius. Padahal, unit penyimpanan tersebut memiliki standar suhu operasional minus 30 derajat Celsius untuk menjaga kualitas plasma.
Meski peretas sempat mengubah parameter suhu, sistem alarm otomatis langsung mendeteksi kejanggalan tersebut dan menggagalkan kerusakan material. EFS memastikan mitigasi teknis berjalan cepat sehingga seluruh stok darah tetap berada dalam kondisi aman.
"Tidak ada dampak kesehatan dan tidak ada produk darah yang hilang," tegas EFS dalam pernyataan resminya dilansir AFP.
Kantor Menteri Kesehatan Prancis, Stéphanie Rist, menyatakan bahwa keandalan sistem pemantauan dan alarm internal berhasil melindungi pasokan darah vital nasional dari ancaman sabotase.
Insiden peretasan sistem pendingin ini menaikkan status kewaspadaan institusi publik dan korporasi di seluruh penjuru Eropa. Sebelumnya, serangkaian serangan siber misterius juga menyasar sistem pendingin jaringan supermarket di Eropa hingga memicu gangguan logistik massal.
Kementerian Kesehatan Prancis kini menggandeng tim forensik digital untuk menyelidiki celah keamanan vendor penyedia pendingin tersebut. Hingga saat ini, pemerintah belum merilis identitas kelompok peretas maupun motif di balik serangan siber berbahaya ini.
Menurut laporan France 24, insiden ini merupakan bagian dari gelombang serangan siber terkoordinasi di Eropa. Pada hari yang sama, peretas juga menyerang salah satu bank koperasi terbesar di Prancis, Crédit Mutuel Arkéa. Pelaku membobol 100 juta euro dari bank tersebut.
Tak hanya itu, aksi sabotase pendingin serupa sempat melumpuhkan jaringan pendingin di ratusan supermarket lintas negara, mulai dari Prancis, Belgia, hingga Belanda. Aksi tersebut memaksa pengelola ritel membuang berton-ton pasokan makanan beku. Salah satu korbannya, raksasa ritel Ahold Delhaize, menaksir kerugian penjualan akibat insiden peretasan kulkas tersebut mencapai 250 juta euro.





