Menteri Perindustrian (Menperin) Muhammad Sarmuji membeberkan sederet tantangan yang dihadapi industri plastik nasional, termasuk soal persaingan produk dalam negeri dengan produk impor.
Hal ini diutarakan Sarmuji usai rapat dengan Asosiasi Industri Olefin, Aromatik, dan Plastik Indonesia atau Indonesian Olefin, Aromatic, and Plastic Industry Association (Inaplas).
“Dari pertemuan itu banyak persoalan yang harus kita selesaikan juga. Yang persoalan itu ada yang terkait dengan lintas kementerian dan lembaga, ada persoalan tentang produk-produk impor yang harus kita batasi, ada kemungkinan-kemungkinan dumping yang tadi sempat di review,” kata Sarmuji di Kantor Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Jakarta Selatan, Kamis (5/11).
Sarmuji meminta Dirjen Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil (IKFT) Kemenperin Taufiek Bawazier menginventarisasi berbagai persoalan yang dihadapi industri plastik, termasuk kendala dan opsi penyelesaiannya
Dia juga membuka kemungkinan penyelesaian permasalahan yang dihadapi oleh industri plastik tersebut harus melibatkan koordinasi dengan lintas kementerian atau lembaga.
Sarmuji juga mengakui, berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS), industri kimia, farmasi, dan obat tradisional tumbuh 8,10 persen sepanjang kuartal III 2026.
“Tumbuhnya lumayan, tetapi persoalannya juga banyak, gitu,” tuturnya.
Kemudian persoalan industri plastik yang lain menurut Sarmuji adalah tingkat utilisasi yang belum maksimal dan masih berada di angka 60 persen sampai 70 persen.
Sarmuji memastikan Kemenperin akan melakukan sederet upaya untuk melindungi industri dalam negeri. Tujuannya supaya sektor ini bisa semakin kompetitif, berdaya saing tinggi
“Segala cara mungkin akan kita lakukan, baik SNI, anti-dumping, mungkin hal-hal yang lain yang memungkinkan kita untuk bisa menghambat impor produk yang sebisa diproduksi oleh dalam negeri. Proteksi kita lakukan, produksi dalam negeri mutunya juga harus kita tingkatkan supaya bisa bersaing fair dengan produk luar negeri,” jelasnya.





