JAKARTA, KOMPAS.TV - Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) periode 2003-2008 Jimly Asshiddiqie meyakini Presiden Prabowo Subianto benar-benar merasa dikhianati dengan adanya penyadapan ilegal yang diduga dilakukan sejumlah perwira tinggi Polri.
Seperti diketahui, Polri telah menetapkan empat perwira tinggi Polri sebagai tersangka kasus dugaan penyadapan Presiden, termasuk eks Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo.
Jimly mengatakan Prabowo merupakan sosok yang sejak lama mewaspadai penyadapan.
“Pak Presiden Prabowo ini sejak dari zaman dulu, dia itu paling antisadap, maka dia tidak pernah pakai handphone dan kalau ada tamu mau ketemu sama dia, hp-nya mesti ditaruh di luar,” kata dia dalam program ROSI KompasTV, Kamis (5/11/2026).
Baca Juga: Jimly Asshiddiqie Bahas Penyadapan Presiden, Ungkit Resistensi Listyo Sigit soal Reformasi Polri
“Jadi, sikap batin dia itu sejak lama dia antisadap. Tiba-tiba dia kena sadap, dia betul-betul merasa dikhianati,” tegasnya.
Oleh sebab itu, lanjut Jimly, sangat masuk akal jika Prabowo kemudian bertindak tegas terkait dugaan penyadapan tersebut.
“Jadi saya rasa masuk akal kalau dia eh bertindak tegas berkenaan dengan soal ini.”
Motif PolitikJimly juga menilai dugaan penyadapan ilegal itu bermotif politik. Ia menyampaikan hal itu menjawab pertanyaan tentang tujuan dari tindakan itu.
“Ya, pasti itu ada motif politiklah. Kelihatan bahwa, memang selama ini kan ada istilah parcok, ya kan? Partai coklat. Maksudnya polisi,” tegasnya.
“Polisi ini sudah mengalami politisasi. Kedudukannya itu dipengaruhi oleh, nah, inilah sebetulnya salah satu yang mau kita reformasi,” tambahnya.
Tujuan melakukan reformasi tersebut, lanjut Jimly, agar Polri independen, netral, dan tidak terkontaminasi aspirasi-aspirasi politik.
Baca Juga: Jadi Tersangka Baru Dugaan Penyadapan Presiden Prabowo, Ini Peran Irjen Slamet Uliandi
“Jangan dipimpin perlakuan seperti partai ini. Semua, macam-macam kan untuk kepentingan politik. Gitu loh. Jadi, itu aspirasi yang harus kita perbaiki dari kinerja kepolisian, supaya dia menjadi secured from politics,” ujarnya.
Saat ditanya mengenai kemungkinan pihak yang ada di balik motif politik itu, Jimly justru kembali bertanya tentang apa tujuan melakukan penyadapan jika tidak bermotif politik.
“Iya, bisa saja. Jadi, misalnya, misalnya kenapa dia mau menyadap presiden coba, atau pejabat-pejabat atau ketua-ketua partai. Itu kan ada motif politik,” katanya.
Download KompasTV Apps di TV kamu, sekarang juga di https://app.kompas.tv/. Satu apps untuk semua Video Premium, Breaking News, dan Live Streaming 24/7 dari Kompas Gramedia.
Penulis : Kurniawan Eka Mulyana Editor : Edy-A.-Putra
Sumber : Kompas TV
- prabowo
- penyadapan presiden
- penyadapan prabowo
- jimly asshiddiqie
- prabowo subianto
- penyadapan





