BANDUNG -- Peran akuntan dalam dunia usaha tidak lagi sebatas mencatat dan menyusun laporan keuangan. Akuntan kini dituntut memahami aspek keberlanjutan, mulai dari dampak lingkungan, kontribusi sosial, hingga tata kelola perusahaan untuk mendukung pengambilan keputusan bisnis.
Ketua Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) Jawa Barat Prima Yusi Sari mengatakan, perubahan tersebut membuat profesi akuntan memiliki tanggung jawab lebih strategis dalam dunia usaha. Informasi yang disajikan akuntan tidak hanya berkaitan dengan kondisi keuangan, tetapi juga kinerja perusahaan dalam menjalankan prinsip keberlanjutan.
Baca Juga
MHU Tekan Emisi, Perkuat Transparansi ESG
Inovasi Pengelolaan Sampah SCG Raih ESG Now Awards 2026
Literasi HAM dan Data Riil Jadi Tantangan Uji Tuntas ESG Perusahaan
"Kita lihat peran akuntan sekarang itu sudah bergeser juga ke peran yang lebih strategis. Tidak hanya mencatat, tapi juga support untuk pengambilan keputusan," kata Prima dalam International Conference Parade Riset Akuntansi XI di Kampus Universitas Islam Bandung (Unisba), Kamis (5/11/2026).
Menurut Prima, perusahaan juga perlu menyampaikan laporan mengenai program keberlanjutan dan dampak perubahan iklim. Karena itu, akuntan dituntut mampu memahami berbagai aspek di luar angka keuangan dalam menilai kinerja perusahaan.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
"Mereka juga harus melaporkan terkait dengan climate change. Makanya kalau kita lihat judulnya See Beyond the Numbers, jadi sekarang itu tidak hanya yang dilihat itu angka saja oleh akuntan tersebut, tapi juga meliputi berbagai hal," ujarnya.
IAI Jawa Barat mengangkat isu tersebut melalui penyelenggaraan International Conference Parade Riset Akuntansi XI pada 5-6 November 2026. Kegiatan ini menghadirkan pemaparan hasil penelitian melalui konferensi, seminar, dan presentasi makalah yang membahas perkembangan ilmu serta praktik akuntansi.
Selain konferensi, kegiatan tersebut menyediakan klinik pendampingan bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta klinik penulisan riset. IAI Jawa Barat juga melibatkan forum dosen akuntansi dan forum guru akuntansi tingkat SMA dan SMK.
Rangkaian kegiatan lainnya mencakup lomba video pendek untuk pelajar SMA dan SMK, Business Simulation Games bagi mahasiswa, serta kompetisi perdagangan virtual bagi mahasiswa akuntansi.
Prima berharap kegiatan tersebut dapat memperluas manfaat profesi akuntan, tidak hanya bagi kalangan akademisi, tetapi juga masyarakat dan pelaku usaha. Pengenalan profesi akuntan kepada pelajar juga diharapkan menarik minat generasi muda untuk menekuni bidang tersebut.
"Harapannya ini kita bisa mencakup berbagai kegiatan, targetnya supaya peran IAI, peran akuntan itu bisa dirasakan di masyarakat. Tidak hanya untuk para dosen, tapi juga bisa dirasakan langsung oleh masyarakat," kata dia.
Konferensi tersebut melibatkan 16 perguruan tinggi dengan sekitar 300 peserta dari berbagai kalangan. Sejumlah peserta juga berasal dari Vietnam, Singapura, dan Malaysia.
Dalam kegiatan tersebut, IAI Jawa Barat turut memberikan pendampingan kepada 60 UMKM di Jawa Barat melalui klinik pengelolaan dan pelaporan keuangan. Prima mengatakan, keterbatasan sumber daya manusia masih menjadi salah satu kendala pelaku UMKM dalam mengelola administrasi keuangan.
"Nah, itu memang salah satu kendala di UMKM. Kalau melek, alhamdulillah sebetulnya sudah semakin meningkat literasi mereka terhadap kebutuhan untuk pelaporan keuangan ini," ungkapnya.