Merawat Pemikiran Faisal Basri untuk Ekonomi Negeri

kompas.id
10 jam lalu
Cover Berita

Sudah dua tahun Faisal Basri, ekonom yang sangat disegani, pergi. Namun, pemikirannya yang visioner, progresif, dan prorakyat akan selalu dikenang masyarakat. Kritik-kritik tajam yang dituangkan semasa hidupnya malah menjadi semakin relevan di masa kini. 

Pandangan itu dibagikan oleh Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Esther Sri Astuti, seusai peluncuran wajah baru blog Faisal Basri di Jakarta, Kamis (5/11/2026). Secara perlahan, ia membuka lembaran ingatan saat masih mengenal baik sosok Faisal, pendiri lembaga tempat ia memimpin saat ini. 

”Kalau kalian melihat ketidakbenaran dalam satu kebijakan, ya teriaklah. Kalau kalian hanya diam saja, berarti kalian itu bagian dari mereka,” ucap Esther sambil meniru cara berbicara Bang Faisal, panggilan akrabnya.

Ia ingat betul betapa vokalnya mendiang terhadap politik perekonomian Indonesia yang kian lama kian mencekik rakyat. Suara dan tulisannya untuk pemerintah terus menuntut perubahan kebijakan yang mendasar, terlebih untuk keuangan negara. 

Esther bercerita, semasa hidup, Bang Faisal menggambarkan kondisi perekonomian Indonesia seperti orang yang sudah hampir mengalami serangan stroke ketiga. Stroke sekali saja sudah parah, apalagi ketiga kalinya. Artinya, ekonomi Indonesia sudah dalam kondisi yang tidak baik-baik saja sejak dulu. 

Keberpihakan mendiang kepada masyarakat juga terlihat dalam perhatiannya terhadap persoalan lingkungan dan sumber daya alam. Di mata Faisal, tutur Esther, persoalan ini tidak terlepas dari relasi antara kekuasaan ekonomi dan politik.

Baca JugaDemokrasi Ekonomi Faisal Basri

Contoh saja penanganan kebakaran hutan dan lahan. Ia teringat, semasa hidup, mendiang juga sering kali mengkritik keras lemahnya penegakan hukum terhadap pelaku perusakan lingkungan serta maraknya pertambangan ilegal. Apa yang dikritik Faisal masih relevan dengan kondisi negara saat ini.

”Kalau kondisi ekonomi dan elite-elite oligarki tidak punya kemauan politik yang baik, selamanya Republik ini akan begini-begini saja,” ujarnya mengutip perkataan Faisal.

Bagaimana dedikasi Faisal dalam persoalan ini terlihat saat mendiang mendampingi masyarakat yang menghadapi konflik dengan kepentingan usaha berskala besar, termasuk petani di Dairi, Sumatera Utara. Bagi Esther, Faisal kerap kali keras kepala dalam membela kelompok masyarakat yang kerap memiliki posisi tawar lebih lemah.

Kata Esther, mendiang bisa saja hidup enak tanpa harus bersusah payah menyuarakan keresahan masyarakat. Toh, semasa hidupnya, beliau sering ditawari posisi penting di pemerintahan. Belum lagi, pemikiran beliau kerap digunakan sebagai pertimbangan pejabat negara.

Namun, Bang Faisal selalu menolak dan tetap memilih berdiri di jajaran warga yang lemah dan para aktivis yang berjuang.

”Beliau malah lebih ngopeni aktivis-aktivis itu, misalnya ada yang ngadu ke beliau, ya, beliau ngopeni,” kenang Esther.

Cerita lain dituturkan oleh ekonom sekaligus kolega dan rekan dekat mendiang Faisal, Prof Ahmad Erani Yustika. Bagi Erani, seluruh pikiran, kesadaran, dan pergerakan yang telah dikerahkan mendiang perlu untuk dirawat dan dirayakan bersama.

Ia mengenang sosok Faisal Basri sebagai seorang intelektual. Saat ia masih menjadi mahasiswa, mendiang menjadi etalase penting para mahasiswa ilmu ekonomi dan sosial untuk mengetahui situasi ekonomi Indonesia. Terlebih lagi, mendiang sering menghadiri seminar-seminar tentang isu monopoli, ketimpangan, konglomerasi, dan sejenisnya.

Menurut Erani, apa yang didedikasikan dan disuarakan oleh Bang Faisal bersama dengan kelompok kritis lainnya, itulah yang menjadi sumber perubahan dan obor pencerahan di masyarakat.

Gairah beliau untuk melakukan pemberontakan harus terus disuarakan dan menjadi kesadaran masyarakat luas. Hal ini harus kita rawat.

Erani berpendapat, Faisal pantas menyandang titel ”intelektual organik”. Sambil menahan tangis, ia menceritakan bagaimana dedikasi mendiang untuk membantu kaum buruh, petani, dan kelompok masyarakat akar rumput, menyatukan diri dengan mereka dan melawan kezaliman kebijakan pemerintah.

Ia melanjutkan, pikiran dan nasihat mendiang terus diminta, baik secara langsung maupun tidak langsung. Oleh presiden, para menteri, dan pejabat untuk mendesain kebijakan yang kredibel. Sampai hari ini pun, banyak orang masih mengakses dan membaca tulisan-tulisannya karena imajinasi dan prediksi mendiang tentang masa depan terbukti valid.

”Gairah beliau untuk melakukan pemberontakan harus terus disuarakan dan menjadi kesadaran masyarakat luas. Hal ini harus kita rawat,” ucap Erani.

Sang adik, Ramdan Malik, takjub sekaligus terheran, melihat pemikiran sang kakak masih tecermin dengan jelas di kondisi negara sekarang. Seolah-olah, tidak pernah ada habisnya.

”Karena setiap ada isu, pemikiran Bang Ical (panggilan dekat Faisal) pasti muncul lagi. Makanya saya sebut seperti zombi,” cerita Ramdan.

Yang digunakan Ramdan untuk menggambarkan kakaknya adalah seorang aktivis keadilan yang selalu percaya bahwa pertumbuhan ekonomi tidak bisa dinikmati sendirian. ”Harus ada kue yang dibagi rata,” pungkasnya.

Wajah baru

Untuk merawat gagasan Faisal Basri, Indef memperbarui blog pribadi sang pendiri lembaga dengan tampilan yang lebih segar. Setidaknya, agar tulisan-tulisan mendiang dapat lebih mudah diakses oleh publik. 

Peluncuran ulang blog faisalbasri.com sengaja dipilih Kamis, karena berdekatan dengan ulang tahun sang pendiri Indef itu pada 6 November. Dalam agenda ini turut hadir rekan ekonom senior Indef Prof Ahmad Erani Yustika, Prof Didik J Rachbini, Fadhil Hasan, serta keluarga besar mendiang, di antaranya sang adik Ramdan Malik dan Ana Saharah, juga sang istri Fitriana Nasution dan sang putri Nabila Basri.

”Kami memutuskan untuk merawat blog almarhum Pak Faisal Basri karena beliau adalah pendiri dan tokoh senior Indef. Namun, beliau tidak hanya milik Indef atau milik UI, tetapi juga tokoh nasional, di mana pemikiran-pemikiran beliau yang sangat kritis itu tetap harus disuarakan,” kata Esther.

Ide untuk merawat blog milik Faisal Basri datang dari anak perempuannya pada September 2026. Nabila berinisiatif menghubungi pihak Indef dan mengabari bahwa blog milik ayahnya masih aktif. Merasa sayang, pihak keluarga berharap blog itu tetap dirawat agar gagasan dan tulisan mendiang dapat terus diakses oleh publik.

Inisiasi itu tentu disambut baik oleh Indef, yang kemudian diamini dengan dokumentasi karya tulis dan dan pembaruan fitur yang ada di blog tersebut. Proses tersebut sudah berjalan dua bulan hingga akhirnya diputuskan untuk diluncurkan secara resmi kepada publik.

Bang Faisal adalah milik masyarakat. Blog itu juga harus tetap terbuka.

Pengarsipan oleh Indef berhasil mengumpulkan kurang lebih 808 tulisan dan 64 video atau rekaman yang menampilkan Faisal Basri dalam rentang waktu 2013-2024. Dalam arsip ini pula, terdapat tema khusus ”Analisis Ekonomi Kompas” yang berisikan 26 tulisan mendiang yang terbit di Harian Kompas.

Esther menyampaikan, blog Faisal Basri menurut rencana tidak hanya memuat tulisan-tulisan mendiang, tetapi juga disesuaikan dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan pembaca. Salah satunya dengan pembagian tema dan format yang lebih rapi dan terstruktur.

Menurut Esther, sejumlah tulisan Faisal Basri dinilai masih relevan dengan perkembangan situasi saat ini. Bahkan, beberapa prediksi mendiang terbukti terjadi, mulai dari depresiasi nilai tukar rupiah hingga potensi konflik dan berbagai peristiwa besar lainnya. Ini juga yang menjadi alasan kuat Indef ingin merawat blog tersebut.

Peremajaan blog ini tidak akan berhenti sampai peluncuran inia. Beberapa halaman masih terdapat tanda ”segera hadir”. Indef akan terus menghimpun berbagai pemikiran Faisal Basri yang terbit di media massa untuk melengkapi konten blog tersebut secara bertahap. Informasi kegiatan juga akan diumumkan melalui halaman kabar dan surat elektronik (surel) blog.

”Rencananya tidak hanya berisi tulisan-tulisan, tetapi juga ada video, ada tulisan beliau yang muncul di berbagai media massa yang akan kita kumpulkan, serta beberapa arsip seperti podcast, foto-foto beliau, dan seterusnya,” ujar Esther.

Di sisi lain, Erani mengusulkan untuk mengintegrasikan blog milik mendiang dengan situs Indef. Harapannya, blog tersebut dapat berkembang menjadi portal yang memuat berbagai pemikiran ekonom dan memperkaya gagasan terkait ekonomi.

Dengan demikian, portal tersebut nantinya dapat memiliki sejumlah kanal khusus yang menampilkan gagasan dan tulisan dari para ekonom yang juga memiliki blog pribadi, seperti Didik J Rachbini, Nawir Messi, dan tokoh lainnya.

”Karena Bang Faisal adalah milik masyarakat, blog itu juga harus tetap terbuka. Mungkin nanti bisa diisi juga oleh publik yang memiliki pemikiran dan kejernihan yang sesuai dengan visi-misi beliau,” ucap Erani.

Baca JugaJejak dan Sumbangan Pemikiran Kritis Ekonom Faisal Basri

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
MAKI Spill Inisial Pegawai KPK Terduga Pembocor Dokumen Kasus ATR/BPN
• 15 menit laludetik.com
thumb
Negara Diguncang Kolapsnya Sebuah Bank Digital, Presiden Paraguay Putuskan Mundur
• 17 jam lalurepublika.co.id
thumb
Kesaksian Jokowi di Sidang Kasus Ijazah | PARASOT
• 23 jam lalukompas.tv
thumb
KPK Sita Rp 2 Miliar dari Dirut KAI, Terkait Kasus Digitalisasi SPBU
• 1 jam lalukatadata.co.id
thumb
Arti Mimpi Minum Kopi Punya Makna Tersembunyi, Salah Satunya Disebut Bakal Bertemu Orang Penting
• 11 jam lalugrid.id
Berhasil disimpan.