Sabang, CNBC Indonesia - PT Bank Danamon Tbk. merevisi naik proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 dan 2027. Perbaikan prospek ini didorong oleh perkembangan geopolitik global yang berpotensi meredakan tekanan harga energi serta peningkatan investasi pemerintah dan kinerja ekspor.
Kepala Ekonom Bank Danamon Irman Faiz menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 menjadi 5,35%, dari perkiraan sebelumnya sebesar 5,2%.
Sementara itu, proyeksi pertumbuhan ekonomi pada 2027 juga direvisi naik menjadi 5,26%, dari sebelumnya 5,1%.
Irman menjelaskan, terdapat sejumlah faktor yang mendasari perbaikan prospek ekonomi Indonesia. Salah satunya adalah dinamika politik di Amerika Serikat (AS), menyusul kemenangan Partai Demokrat dalam pemilihan sela atau midterm election pada 3 November 2026.
Menurutnya, kemenangan partai oposisi Presiden AS Donald Trump tersebut berpotensi membatasi ruang gerak pemerintahan Trump dalam melanjutkan konflik geopolitik, khususnya perang AS dan Iran.
Pasalnya, Partai Demokrat kini menguasai mayoritas kursi di House of Representatives dan Senat AS. Kondisi ini membuat pemerintah Trump akan menghadapi tantangan lebih besar untuk mendapatkan persetujuan anggaran tambahan bagi kelanjutan perang.
"House dan Senate itu dipegang majority oleh Demokrat. Nah, dengan demikian maka budget bagi pemerintahan Trump untuk melanjutkan perang antara US dan Iran itu semakin akan susah ditambah karena harus semuanya lewat Kongres. Jadi kalau kayak kita lewat DPR gitu untuk nambah budget. Nah, itu yang diekspektasikan akan menahan nih eskalasi konflik di geopolitik," ujarnya dalam paparan pada media briefing Bank Indonesia di Sabang, Aceh, Kamis (5/11/2026).
Meredanya risiko eskalasi geopolitik tersebut berpotensi menekan harga minyak dunia. Hal ini terlihat dari pergerakan harga minyak mentah yang mulai terkoreksi setelah sempat melonjak akibat konflik.
Harga minyak mentah Brent pada perdagangan 5 November 2026 tercatat sebesar US$96,95 per barel, turun 17,6% dari posisi tertinggi pada semester II-2026 sebesar US$117,64 per barel pada 30 Oktober 2026.
Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) berada di level US$89,44 per barel, atau turun 14,1% dibandingkan posisi tertingginya sebesar US$104,12 per barel pada 30 Oktober 2026.
Selain faktor geopolitik, prospek penurunan harga minyak juga didukung oleh potensi peningkatan pasokan dari negara-negara produsen minyak yang tergabung dalam OPEC+.
Irman mengatakan, OPEC+ berkomitmen mempertahankan tingkat produksi pada 2027 di level yang lebih tinggi dibandingkan proyeksi permintaan. Jika konflik geopolitik mereda dan kilang-kilang minyak yang sempat berhenti beroperasi kembali dibuka, pasokan minyak dunia berpotensi meningkat hingga menciptakan kondisi kelebihan pasokan (oversupply).
"Jadi kalau misalnya konflik geopolitik ini de-escalate dan juga refineries yang ditutup karena konflik ini dibuka kembali, maka OPEC plus countries bisa catch up dengan produksi sehingga nanti kondisi di market oil ini akan oversupply," jelasnya.
"Jadi ini yang kita expect di tahun depan itu harusnya kondisi membaik karena faktor utamanya tadi midterm electionnya sudah sesuai dengan perkiraan," sambung Irman.
Faktor berikutnya yang menopang optimisme pertumbuhan ekonomi Indonesia adalah perbaikan kinerja ekspor, terutama yang mulai terlihat pada semester II-2026.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai ekspor Indonesia pada September 2026 mencapai US$27,59 miliar, meningkat 11,87% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kenaikan terutama ditopang oleh ekspor nonmigas yang mencapai US$26,64 miliar, tumbuh 12,39% secara tahunan.
Menurut Irman, peningkatan ekspor akan memberikan dampak lanjutan terhadap konsumsi rumah tangga. Namun, transmisi kenaikan penerimaan ekspor ke daya beli masyarakat membutuhkan waktu sekitar dua kuartal.
Dengan demikian, dampak positif peningkatan ekspor terhadap konsumsi rumah tangga diperkirakan akan semakin terasa pada kuartal I-2027.
"Ekspor naik, penerimaan ekspor naik turun ke bawah dalam bentuk bonus dan orang bisa belanja, dampaknya baru dua kuartal lagi dirasakan secara full ke konsumsi rumah tangga. Nah, ini yang membuat kami melihat konsumsi rumah tangga di first semester tahun depan itu akan relatively lebih baik," katanya.
Prospek konsumsi rumah tangga juga diperkirakan mendapat dukungan dari stimulus pemerintah, terutama melalui berbagai program bantuan sosial yang dapat memperkuat daya beli masyarakat.
Kombinasi perbaikan ekspor dan dukungan stimulus tersebut menjadi salah satu alasan Bank Danamon menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2027.
"Dan ini yang menjadi dorongan kenapa kami merevisi ke atas pertumbuhan ekonomi di tahun 2027," imbuh Irman.
(haa/haa)




