Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, kembali memetakan jalur evakuasi dan lokasi posko pengungsian menyusul erupsi Gunung Bromo pada Kamis (5/11/2026) petang kemarin.
Langkah itu dilakukan sebagai upaya mitigasi untuk mengantisipasi kemungkinan erupsi susulan, meski aktivitas vulkanik Gunung Bromo masih berada pada Level II atau Waspada. Oemar Sjarif Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Probolinggo mengatakan, pemetaan dilakukan bersama personel TNI dan Polri pada Jumat (6/11/2026).
“Hari ini kami bersama TNI dan Polri melakukan pemetaan kembali jalur evakuasi dan titik-titik posko pengungsi sebagai upaya mitigasi apabila sewaktu-waktu Gunung Bromo erupsi kembali,” kata Oemar dilansir Antara, Jumat (6/11/2026).
Gunung Bromo sebelumnya mengalami erupsi pada Kamis pukul 17.11 WIB. Kolom letusan teramati mencapai sekitar 500 meter di atas puncak atau 2.829 meter di atas permukaan laut (mdpl). Erupsi itu jadi yang pertama tercatat sejak 19 Juli 2019. Berdasarkan catatan petugas, letusan pada 2019 tidak teramati secara visual.
Oemar menjelaskan, BPBD terus berkoordinasi dengan sejumlah pihak untuk memantau perkembangan aktivitas vulkanik Bromo, termasuk Pos Pengamatan Gunung Api (PPGA) Bromo dan Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BB TNBTS).
“BPBD Probolinggo tetap melakukan koordinasi dengan sejumlah pihak lintas sektor untuk memantau aktivitas Gunung Bromo seperti Pos Pengamatan Gunung Api (PPGA) Bromo dan Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BB TNBTS) yang memiliki wilayah kawasan wisata tersebut,” ujarnya.
Berdasarkan pemantauan melalui kamera pengawas atau CCTV pada Jumat pagi, aktivitas Gunung Bromo terpantau relatif stabil dan belum menunjukkan peningkatan status.
“Tidak ada peningkatan atau kenaikan status Gunung Bromo, sehingga statusnya tetap waspada. Masyarakat dan wisatawan dilarang memasuki kawasan dalam radius 1 km dari kawah aktif Bromo,” jelas Oemar.
Sementara berdasarkan pengamatan kegempaan selama 24 jam pada Kamis, tercatat satu kali gempa letusan dengan amplitudo 23 milimeter dan durasi 46 detik.
Petugas juga merekam empat kali gempa frekuensi rendah, enam kali gempa hybrid atau fase banyak, serta tremor menerus dengan amplitudo dominan 0,5 milimeter.
Dari pengamatan visual, asap kawah utama Bromo terlihat berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tipis sampai tebal dan ketinggian sekitar 50–500 meter dari puncak.
Meski status gunung belum meningkat, BPBD meminta masyarakat dan wisatawan tetap mematuhi rekomendasi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), terutama larangan beraktivitas dalam radius satu kilometer dari kawah aktif.
Oemar juga mengingatkan potensi letusan freatik yang dapat terjadi secara mendadak tanpa tanda-tanda aktivitas vulkanik yang jelas.
“Masyarakat di sekitar Gunung Bromo, pedagang, wisatawan, pendaki, dan pengelola wisata Gunung Bromo agar mewaspadai terjadinya letusan freatik yang bersifat tiba-tiba dan tanpa didahului oleh gejala-gejala vulkanik yang jelas,” tegasnya. (ant/bil/ipg)




