Jakarta: Ekonom Josua Pardede menilai reformasi struktural menjadi salah satu kunci untuk meningkatkan kepercayaan investor dan mendorong investasi masuk ke Indonesia. Menurut dia, pembenahan perlu dilakukan secara berkelanjutan, baik di sektor perekonomian maupun pasar modal dan pasar keuangan.
Josua mengatakan, Indonesia masih menghadapi sejumlah risiko dari sisi global dan domestik yang dapat memengaruhi prospek ekonomi serta keputusan investasi. Dari sisi global, ketidakpastian arah suku bunga negara maju dan perkembangan geopolitik, khususnya di Timur Tengah, menjadi faktor yang perlu diwaspadai.
Sementara itu, dari dalam negeri, Josua menilai pemerintah perlu mengelola ekspektasi investor terhadap kondisi fiskal dan transaksi berjalan. Kedua aspek tersebut berkaitan dengan risiko defisit kembar atau twin deficit yang turut memberikan tekanan terhadap nilai tukar rupiah.
"Jadi makanya oleh sebab itu kami melihat bahwa ada risiko global, ada risiko domestik sehingga kebijakan domestik ini harus bersinergi. Jangan sampai terus melanjutkan reformasi struktural agar investasi itu bisa lebih deras lagi masuk ke Indonesia," ujar Josua.
Investasi perlu menjadi motor pertumbuhan ekonomi
Josua menilai konsumsi rumah tangga masih dapat diandalkan untuk menopang perekonomian Indonesia dalam jangka pendek hingga menengah. Namun, untuk mendorong Indonesia menjadi negara maju, pemerintah perlu memperkuat peran investasi, baik investasi portofolio maupun investasi langsung di sektor riil.
Menurut dia, investasi perlu menjadi salah satu motor utama pertumbuhan ekonomi ke depan. Potensi demografi Indonesia juga dapat menjadi daya tarik bagi investor, terutama jika dibandingkan dengan sejumlah negara maju yang mulai menghadapi persoalan penuaan penduduk atau aging population.
Ilustrasi. Foto: dok MI.
Baca Juga :
Ekonomi Tumbuh Tinggi, Dampak Sektor Investasi Dinanti"Kalau kita mau nanti menjadi negara maju, justru bagaimana investasi, baik itu investasi portofolio dan juga investasi sektoralnya, ini harus kita pacu terus," kata dia.
Ia menambahkan, investasi tidak cukup hanya meningkatkan angka pertumbuhan ekonomi. Pemerintah juga perlu memastikan manfaatnya dirasakan masyarakat melalui penciptaan lapangan kerja dan peningkatan daya beli.
Reformasi struktural untuk memperbaiki kualitas pertumbuhan
Lebih lanjut, Josua menyoroti persoalan menyusutnya kelas menengah atau shrinking middle class. Menurut dia, kondisi tersebut berkaitan dengan persoalan struktural, termasuk pertumbuhan ekonomi yang belum sepenuhnya dirasakan masyarakat.
Ia menilai investasi perlu diarahkan ke sektor industri padat karya agar mampu menyerap lebih banyak tenaga kerja. Dengan demikian, pertumbuhan ekonomi tidak hanya tercermin dalam angka produk domestik bruto (PDB), tetapi juga memberikan dampak nyata terhadap pendapatan masyarakat.
"Permasalahan intinya adalah ekonomi tumbuh lima persen, tapi mungkin tidak dirasakan di dompet kita semua. Belum kualitas begitu ya pertumbuhannya. Artinya tidak merata," ungkap Josua.
Josua menegaskan, upaya mendorong pertumbuhan ekonomi tidak cukup hanya mengandalkan kebijakan fiskal. Reformasi struktural di sektor perekonomian, pasar modal, dan pasar keuangan juga perlu dilanjutkan untuk memperkuat kepercayaan investor.
"Saya pikir reformasi struktural di perekonomian, di pasar modal, di pasar keuangan, itu harus terus dilakukan agar kepercayaan investor ini akan terus meningkat," jelas dia. (Selsha Septifanie Gunawan)




