Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga (DSDABM) Kota Surabaya tetap menarget proyek drainase di kawasan Babatan–Unesa, Wiyung bisa selesai pada 11 November 2026. Target itu dipertahankan, meski pengerjaan yang selama ini dijadwalkan berlangsung malam hari, sempat molor hingga pagi akibat sejumlah kendala teknis.
Adi Gunita Kepala Bidang Drainase DSDABM Kota Surabaya menjelaskan, salah satu kendala utama berasal dari kondisi tanah ekspansif atau tanah yang mudah mengalami perubahan volume. Kondisi tersebut menyebabkan pergerakan tanah hingga longsoran saat proses penggalian dan pemasangan pipa.
“Jadi sesuai dengan schedule-nya kita 11 November, memang kita perlu akselerasi. Jadi memang kemarin itu ada beberapa kendala teknis di lapangan yang mungkin memang harus kita, mau enggak mau kita kerja itu sepakat malam hari, tapi ada kendala-kendala teknis yang memang tidak bisa terhindarkan sehingga kita ada overtime di situ,” kata Adi saat on air dalam program Semanggi Suroboyo di Radio Suara Surabaya, Jumat (6/11/2026).
Kiri ke kanan: Dedy Purwito Kepala Bidang (Kabid) Jalan dan Jembatan Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga (DSDABM) Kota Surabaya, Hidayat Syah Kepala DSDABM Kota Surabayam dan Adi Gunita Kabid Drainase DSDABM Kota Surabaya saat mengisi program talkshow Semanggi Suroboyo di Radio Suara Surabaya, Jumat (6/11/2026), membahas persiapan menghadapi musim penghujan di Kota Surabaya. Foto: Billy suarasurabaya.netAdi menerangkan, proyek drainase Babatan–Unesa dikerjakan menggunakan kombinasi metode penggalian terbuka (open cut) dan pengeboran horizontal. Pekerjaannya dibagi jadi tiga segmen. Segmen pertama yang menghubungkan saluran menuju Jalan Raya Tengah Wiyung telah selesai menggunakan metode penggalian terbuka.
Sementara pengeboran horizontal sepanjang 120 meter yang menghubungkan segmen pertama dan kedua juga telah rampung. “Lalu yang di bit 1, bit 2 itu sudah kita selesaikan untuk HDD-nya, horizontal directional drilling-nya sepanjang 120 meter. Nah, itu sudah selesai,” ujarnya.
Kabid Drainase itu menjelaskan, kendala terbesar saat ini berada pada segmen berikutnya karena kontur tanah yang bervariasi, dengan kedalaman pemasangan pipa mencapai sekitar enam hingga sembilan meter.
“Panjangnya 300 meter. Yang sekarang posisinya belum terselesaikan itu tinggal 42 meter,” katanya.
Selain kondisi tanah, kata Adi, keterbatasan waktu pengerjaan turut menjadi tantangan. Petugas hanya punya waktu sekitar delapan jam pada malam hari, untuk mengurangi gangguan terhadap lalu lintas dan aktivitas masyarakat.
“Karena kita memang kita sadar bahasanya kita hanya dikasih window time (rentang waktu) itu delapan jam untuk bekerja malam hari,” jelasnya.
Tapi, ketika terjadi pergerakan tanah atau longsoran, petugas tidak selalu dapat menghentikan pekerjaan sesuai jadwal. Penanganan harus segera dilakukan untuk mencegah longsoran meluas hingga mengganggu badan jalan.
“Karena kemarin pada waktu ada pergerakan tanah itu membuat risiko yang dampaknya lebih besar ke jalan, takutnya sliding lebih besar, itu akhirnya kemarin kita putuskan ada tambahan waktu pada waktu pelaksanaan di pagi hari,” jelas Adi.
Dia mengakui, pekerjaan yang melewati jadwal tersebut menimbulkan ketidaknyamanan bagi masyarakat, khususnya pengguna jalan yang melintasi kawasan proyek. Karenanya, ia memohon maaf kepada masyarakat.
“Memang membuat warga masyarakat pengguna jalan khususnya pendengar Radio Suara Surabaya juga, ini merasa terganggu atau ketidaknyamanan di situ. Kami mengaturkan mohon maaf sebesar-besarnya,” ucapnya.
Sementara Hidayat Syah Kepala DSDABM Kota Surabaya menambahkan, proyek Babatan–Unesa punya tingkat kesulitan cukup tinggi. Pekerjaan yang menghubungkan saluran kawasan Babatan–Unesa menuju saluran tengah Wiyung itu harus menyesuaikan kontur tanah yang tidak rata.
Menurut Hidayat, metode pengeboran horizontal butuh ketepatan waktu dalam proses penarikan pipa. Salah satu kendalanya berasal dari material bentonit yang digunakan saat pengeboran, karena dapat mengeras apabila pekerjaan terhenti terlalu lama.
Kondisi itu, kata Hidayat, sempat terjadi ketika aktivitas proyek harus dihentikan untuk menyesuaikan kegiatan masyarakat sekitar, termasuk pelaksanaan ibadah pada hari Minggu.
“Jadi kadang-kadang memang harus berhenti total. Kalau sudah minggu itu kami berhentikan. Karena kenapa? Karena kami tahu bahwa mereka juga banyak yang ke gereja toh. Jadi kami juga harus mengalah itu,” ujar Hidayat.
Dia menjelaskan, penghentian pekerjaan itu berdampak pada proses penarikan pipa, karena material bentonit telanjur mengeras sehingga sebagian tahapan harus dikerjakan kembali.
Karenanya, untuk mengatasi kendala itu, DSDABM menerapkan kombinasi metode penggalian terbuka dan pengeboran horizontal sesuai kondisi masing-masing segmen.
“Jadi pekerjaan itu kan kami bagi tiga pit ini ya. Pit pertama itu kami open kan. Jadi kami gali terus kami pasang itu saja,” jelasnya.
Hidayat mengatakan, metode penggalian terbuka tidak bisa digunakan di seluruh jalur karena perbedaan kontur dan kedalaman tanah. Karena itu, pengeboran horizontal tetap diperlukan pada bagian tertentu agar pipa dapat tersambung menuju saluran tengah Wiyung.
Sebagai informasi, proyek drainase Babatan–Unesa itu bagian dari upaya Pemkot Surabaya meningkatkan konektivitas saluran air dan mengurangi potensi genangan di kawasan Wiyung saat musim hujan.(bil/ipg)




