JAKARTA, KOMPAS.TV - Mantan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD mengungkap tiga budaya internal yang dinilai merusak profesionalitas Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri).
Ketiganya meliputi praktik suap-menyuap, geng-gengan, hingga kebiasaan menjadi pelindung atau backup penjahat.
Mahfud mengatakan, Polri sebenarnya telah memiliki pedoman, asas, visi, misi, serta instrumen untuk menjalankan tugas secara profesional.
Namun, persoalan justru terletak pada penerapan aturan tersebut di lingkungan internal institusi.
Menurut dia, budaya yang berkembang di dalam tubuh Polri dapat menghambat pelaksanaan profesionalitas meskipun perangkat aturan telah tersedia.
"Polri itu sebenarnya sudah punya pedoman-pedoman yang bagus. Baik sebagai asas-asas atau visi dan misi maupun instrumen-instrumen pelaksanaannya. Nah, yang jadi masalah itu kan implementasinya. Sehingga implementasi profesionalitas Polri itu dirusak oleh budaya," kata Mahfud dalam tayangan program Kompas Siang, Jumat (6/11/2026).
Baca Juga: Terungkap! Bareskrim Polri Beberkan Peran Tersangka SU di Kasus Penyadapan Presiden Prabowo
Tiga Budaya yang Disoroti MahfudMahfud kemudian merinci tiga budaya yang menurutnya menjadi persoalan di lingkungan Polri.
Pertama, budaya suap-menyuap yang dapat memengaruhi pelaksanaan tugas kepolisian.
Kedua, budaya geng-gengan atau terbentuknya kelompok-kelompok tertentu di dalam institusi.
Ketiga, kebiasaan menjadi pelindung bagi pelaku kejahatan, termasuk mafia dan pelaku kriminal di jalanan.
"Kulturalnya apa? Kultural suap-menyuap. Kultural geng-gengan. Kultural menjadi backup penjahat. Penjahat mafia, penjahat di jalanan dan sebagainya. Dengan saling tukar uang itu sudah jadi kultur Polri," ujar Mahfud.
Menurut Mahfud, persoalan tersebut tidak cukup diselesaikan hanya dengan memperbaiki aturan atau pedoman organisasi.
Perubahan juga perlu dilakukan terhadap budaya yang berkembang dan memengaruhi perilaku anggota di dalam institusi.
Baca Juga: [FULL] Penyadapan Presiden oleh Eks Kapolri Listyo, Benarkah Berujung Makar dan Pemakzulan? | ROSI
Ia menilai, posisi pimpinan dalam organisasi Polri yang bersifat hierarkis turut berpengaruh terhadap perilaku jajaran di bawahnya.
"Oleh sebab itu, karena Polri itu hierarkis, maka sekarang kalau pimpinannya baik, yang ke bawah pasti akan takut, akan baik juga. Ini kemarin kan banyak yang jahat karena pimpinannya juga seperti itu," tuturnya.
Mahfud pun menekankan pentingnya pembenahan internal agar profesionalitas Polri dapat diterapkan dalam pelaksanaan tugas, bukan hanya tercantum dalam pedoman dan aturan institusi.
Download KompasTV Apps di TV kamu, sekarang juga di https://app.kompas.tv/. Satu apps untuk semua Video Premium, Breaking News, dan Live Streaming 24/7 dari Kompas Gramedia.
Penulis : Laela Putri Rahmadani Editor : Desy-Afrianti
Sumber : Kompas TV
- polri
- mahfud md
- tiga budaya rusak profesionalitas polri
- suap hingga geng-gengan





