Terang dari Landu, Pulau Paling Selatan Indonesia

kompas.id
5 jam lalu
Cover Berita

Kabar gembira itu datang dari Wenang Aryz Lauwing (34), seorang pendeta yang tinggal di Pulau Landu, Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur. Pada Rabu (4/11/2026), ia mengabarkan perkembangan pendidikan di wilayah paling selatan di NTT itu. Anak-anak kini bisa belajar dengan leluasa lantaran mereka terbantu dengan aliran listrik.

Aryz mengatakan dengan bangga, sejumlah bocah tiduran sembari membaca buku cerita bergambar dengan suara lantang. Mereka unjuk kemampuan diri bahwa kini sudah lancar membaca. Cahaya lampu listrik memungkinkan mereka belajar di malam hari. Hal yang sebelumnya tidak bisa dilakukan ketika listrik belum masuk wilayah tersebut.

Ia senang melihat perkembangan anak-anak sejak dimulainya kegiatan belajar malam tiga tahun belakangan. "Ini setelah hadirnya listrik di pulau kami," ujar Aryz yang menghubungi dari Pulau Landu,

Jastin (10), satu di antara para bocah itu, dalam sekali sapuan mata bisa melahap satu paragraf tulisan hanya dalam beberapa detik. Tulisan berisi dongeng tentang makhluk jin yang menyerang manusia. Ada karikatur disertai narasi.

Untuk membuktikan bahwa mereka tidak menghafal tulisan pada buku yang sering dibaca itu, sesekali Aryz menyodorkan tulisan dari buku lain. Mereka ladeni. Bahkan dalam nada guyon, mereka menantang balik Aryz yang juga seorang pendeta itu.

"Ayo Bapak, kasih (tulisan) lagi. Beta (saya) sudah lancar baca," ujar Jastin yang kini kelas tiga sekolah dasar. Ia begitu percaya diri. Berbeda dengan semester sebelumnya, ia kesulitan merangkai kalimat. Untuk menyelesaikan satu paragraf, ia butuh waktu lebih dari dua atau tiga menit.

Selain Justin, ada juga Manto Messakh siswa kelas 6, Jeksen kelas 5, David kelas 5, dan Vadil kelas empat. Mereka termasuk siswa yang rajin berkunjung ke rumah baca yang dikelola Aryz. Jumlahnya 80 anak sekolah dasar di satu-satunya sekolah di pulau mungil itu. Namanya SDN Landu.

Baca JugaCerita Terang dari Landu, Pulau Berpenghuni Paling Selatan Indonesia

Landu berada di bagian selatan Pulau Rote. Ini merupakan pulau berpenghuni di titik paling selatan Indonesia. Dari Kota Kupang, perjalanan menggunakan kapal laut selama enam jam. Tiba di Pulau Rote, lanjut dengan mobil sekitar satu jam, kemudian menyeberang lagi dengan perahu motor sekitar 20 menit. Kompas berkesempatan mendatangi pulau itu, 8 Juli 2026.

Sejak listrik masuk ke pulau mungil seluas lebih kurang 643 hektar (ha) itu, kegiatan di taman baca mulai hidup. Pada sore hingga malam hari, anak-anak berkumpul di sana. Dengan bantuan cahaya lampu, mereka membaca buku dan menulis puisi. Berkat aliran listrik, mereka memutar film, latihan menyanyi dan belajar tampil di muka umum.

Aliran listrik pula yang menghidupkan pemancar sinyal internet di pulau itu sehingga memungkinkan anak-anak terhubung dengan dunia luar. "Intinya kalau ada listrik dan sinyal internet, ilmu pengetahuan ada dalam genggaman kita," ujar Aryz.

Ia memang tak memasang target tinggi. Ia hanya ingin anak-anak memahami literasi dasar. Membaca, menulis, dan berhitung. Di daerah itu, dan NTT pada umumnya, banyak siswa pada jenjang SMA belum lancar membaca. Bahkan, di level mahasiswa pun banyak yang belum tuntas literasi dasar.

Berdasarkan data indeks literasi tingkat SMA di NTT pada 2024, hanya 24,7 persen sekolah yang masuk kategori baik. Sementara itu, yang masuk kategori sedang sebesar 25,80 persen, kategori kurang 25,36 persen, dan kategori paling rendah sebesar 24,15 persen.

Aryz tak mengukur dalam angka, atas perkembangan diri anak-anak. Namun ada capaian individu yang membanggakan. Di antaranya, pada 2025, Welyanchay S Pah (8), siswa kelas 3, meraih juara satu lomba menyanyi solo tingkat Kabupaten Rote Ndao.

Serial Artikel

Siswa Naik Kuda ke Sekolah Saat BBM di Pulau Rote Langka

Dengan jumlah penduduk Pulau Rote sekitar 150.000 jiwa dan berada di beranda negeri, Pertamina perlu mempertimbangkan untuk menghadirkan depo di sana.

Baca Artikel
Listrik tenaga surya

Cahaya terang di Pulau Landu ditopang pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) dengan kapasitas beban puncak 110 kilowatt. Dibangun PT Perusahaan Listrik Negara (PLN), pembangkit mulai beroperasi pada 2023. Jumlah penerima manfaat adalah seluruh penduduk pulau. Total 200 rumah dengan 803 jiwa di dalamnya.

Setiap hari, Ardi Langga, salah satu petugas, memastikan semua peralatan PLTS berfungsi dengan baik. Ia merawat 345 unit lempengan panel yang menerima radiasi matahari. Juga 66 unit baterai dan peralatan lain yang mengonversi panas menjadi listrik.

"Potensi panas di sini sangat bagus karena berada di tepian Samudera Hindia. Tidak ada pohon besar. Tidak ada gunung. Radiasi matahari langsung tembak ke sini," ujarnya.

Baca JugaPemerintah Targetkan PLTS Capai Produksi 100 GWp Tiga Tahun Lagi

Sejak Januari 2023 hingga Juni 2026, PLTS Landu telah memproduksi energi listrik sebesar 218.688 kilowatt jam (kwh).

Pandhu Setyo Wibowo, Asisten Manajer Operasi dan Pemeliharaan Pembangkit PLN Uni Pembangkit Wilayah NTT, secara terpisah mengatakan, berdirinya PLTS Landu merupakan wujud dari komitmen PLN dalam menghadirkan layanan bagi masyarakat di seluruh pelosok negeri. Pulau Landu masuk dalam kategori wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar.

Menurut Pandhu, PLTS Landu menghadirkan energi ramah lingkungan. Jika dikonversi, biaya produksi listrik selama lebih dari tiga tahun itu bisa menghabiskan 72.825 liter bahan bakar minyak. Dengan menggunakan tenaga surya, tak ada pengeluaran bahan bakar minyak. "Ini juga mengurangi emisi karbon dioksida sebanyak 195 ton," ucapnya.

Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena mengapresiasi perluasan layanan listrik oleh PLN serta berbagai pihak lainnya ke wilayah pelosok, pulau terluar, dan perbatasan. Saat ini, rasio elektrifikasi NTT berkisar pada angka 96,5 persen. Adapun rasio desa berlistrik mencapai 97,56 persen. "Ini menjadi pekerja rumah kita bersama untuk menuntaskannya," ucapnya.

Baca JugaPLN NTT Melistriki 97 Desa dan Dusun yang Masuk Kategori 3T

Menurut Melkiades, hadirnya listrik akan membawa kemajuan. Ia mengajak anak-anak untuk belajar pada malam hari. Baru-baru ini, ia menerbitkan Peraturan Gubernur NTT tentang Gerakan Jam Belajar selama 90 menit mulai pukul 18.00 Wita. Keluarga diminta proaktif.

Ia berharap kehadiran listrik mengungkit geliat ekonomi setempat. Seperti di Pulau Landu, nelayan mulai mengawetkan hasil tangkapan menggunakan es balok yang diproduksi di rumah. Memang masih terbatas sebab kapasitas PLTS Landu belum mampu melayani sampai 24 jam per hari.

Kini, pada malam hari, pulau mungil yang berada di dekat garis batas negara itu tempak bercahaya listrik. Bola lampu menerangi kegelapan literasi. Juga membuka jalan bagi terang kehidupan ekonomi di masa mendatang.

Serial Artikel

”Sonde” Bisa Berpaling dari Rote

Rote Ndao punya nyaris segalanya yang memanjakan mata, dari laut biru hingga senja jingga. Kendati banyak destinasi tersembunyi, ”healing” terasa paripurna di sana.

Baca Artikel


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Airlangga sebut konsumsi pemerintah topang pertumbuhan ekonomi RI
• 16 jam laluantaranews.com
thumb
Prabowo Perintahkan Revitalisasi Stasiun Gambir, Kawasan Monas, hingga Bangun Kereta di Bali
• 18 jam laluidxchannel.com
thumb
Karangan Bunga Berjejer di Mabes Polri, Dukung Pengusutan Kasus Penyadapan Prabowo
• 1 jam laluokezone.com
thumb
KAI Tidak Jadi Impor KRL Bekas dari Jepang, Dirut: Buat Rakyat Harus yang Baru
• 12 jam lalutvonenews.com
thumb
Foto Gibran Dicopot di DPRD DIY, NasDem Bicara Harus Peka Tanda-tanda Zaman
• 12 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.