tvOnenews.com - Dugaan pelecehan seksual saat sport massage di kawasan Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta, menjadi perhatian publik setelah seorang pelari perempuan membagikan pengalaman traumatisnya melalui media sosial Threads.
Pengalaman yang semestinya menjadi bagian dari pemulihan kondisi tubuh setelah berolahraga justru berubah menjadi peristiwa yang membuat korban merasa takut dan tidak nyaman.
Unggahan tersebut memicu reaksi luas, terutama di kalangan komunitas olahraga lari. Pasalnya, layanan sport massage atau pijat olahraga selama ini menjadi salah satu pilihan pemulihan fisik bagi pelari yang mengalami ketegangan otot maupun kelelahan setelah berlatih.
Kasus ini pun memunculkan pertanyaan mengenai batas profesionalitas terapis dan keamanan perempuan ketika menggunakan layanan pemulihan fisik di ruang publik.
Melalui akun Threads @litaambrsr, perempuan tersebut menceritakan dugaan pelecehan yang dialaminya ketika menjalani sesi sport massage pada 18 Oktober 2026.
Ia mengungkapkan pengalaman tersebut bukan semata-mata untuk menceritakan kejadian yang dialaminya, melainkan sebagai bentuk edukasi dan peringatan bagi sesama pelari agar lebih berhati-hati dalam memilih coach, fisioterapis, maupun terapis olahraga.
Perkembangan kasus ini semakin menjadi sorotan setelah Hamda DF, sosok yang namanya ikut terseret dalam persoalan tersebut, akhirnya menyampaikan permintaan maaf secara terbuka.
Kronologi Dugaan Pelecehan Seksual saat Sport Massage di GBK
Berdasarkan cerita yang dibagikan melalui Threads, peristiwa tersebut bermula ketika korban membuat janji untuk menjalani sesi sport massage pada Minggu (18/10/2026) sekitar pukul 12.00 WIB.
- Tangkapan layar threads
Saat itu, perempuan tersebut mengeluhkan rasa pegal dan ketegangan otot pada bagian kaki serta punggung. Ia kemudian menyepakati sesi pemijatan dengan seorang terapis di salah satu sudut kawasan Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta Pusat.
- Gambar ilustrasi AI
Namun, sejak awal proses pemijatan, korban mulai merasakan sejumlah kejanggalan. Salah satunya ketika terapis meminta dirinya membuka kaitan bra.
Permintaan tersebut membuatnya merasa risih, terlebih proses pemijatan dilakukan di area terbuka yang bukan merupakan ruang privat.
Situasi semakin membuat korban tidak nyaman ketika pemijatan beralih ke bagian tubuh atas. Menurut pengakuannya, tangan terapis tidak hanya menyentuh area punggung dan pundak, tetapi juga bergerak ke bagian dada hingga meraba sisi payudaranya beberapa kali.




