Pariwisata dalam Pusaran AI: ”High Tech, High Touch”

kompas.id
54 menit lalu
Cover Berita

Akal imitasi atau artificial intelligence (AI) selalu menjadi topik pembahasan yang selalu relevan dibahas dari berbagai sektor, termasuk pariwisata. Jika selama ini banyak yang membahas AI memberi ragam fasilitas yang memudahkan banyak orang, pertanyaan berikutnya lantas bagaimana para pekerja yang selama ini bekerja pada bidang tersebut?

McKinsey Global Institute mengestimasikan, pekerjaan-pekerjaan yang digarap lebih dari setengah total jam pegawai di Amerika Serikat (AS), secara teori, akan diotomatisasi sejumlah teknologi yang sudah ada. Namun, tetap saja, AI tidak dapat dan tidak akan menggantikan pekerjaan orang-orang secara penuh. Sebaliknya, pekerjaan akan berubah dan para pekerja akan beradaptasi.

Lebih dari 70 persen keahlian yang dicari perusahaan relevan untuk pekerjaan otomatisasi dan non-otomatisasi. Artinya, kebanyakan kemampuan manusia masih akan tetap berguna, tetapi bagaimana dan di mana akan diaplikasikan bakal berkembang.

Baca JugaKetika Akal Imitasi Mengubah Lanskap Pariwisata

Karena AI mengambil pekerjaan-pekerjaan rutin, khususnya bidang digital, seperti memasukkan (input) data dan memproses informasi, orang-orang akan lebih fokus pada apa yang bisa dilakukan manusia. Beberapa bentuk konkretnya, yakni mengajukan pertanyaan yang lebih baik, menginterpretasikan hasil, mengarahkan mesin, dan membuat penilaian.

“Kecepatan perubahan teknologi akan membuat kemampuan beradaptasi menjadi kekuatan super manusia,” demikian tertulis dalam laman McKinsey yang dikutip Time.

Fenomena tersebut juga dijabarkan dalam laporan OECD bertajuk “AI and Tourism in APEC Economies (2026)”. Seiring AI yang membentuk kembali dinamika pekerjaan, para pekerja pariwisata akan menghadapi perubahan menonjol, berkisar dari otomatisasi tugas-tugas rutin hingga augmentasi pekerjaan.

Dalam hal otomatisasi yang digerakkan AI, chatbots dan robotik telah dites untuk membersihkan, layanan dasar tamu, dan logistik. Sebaliknya, karyawan baris depan (frontline) dapat terlibat dalam layanan pengiriman yang sangat terpersonalisasi.

Baca JugaHiperpersonalisasi oleh AI Bisa Memandu Konsumen, namun Bisa Juga Menyesatkan

Dengan adanya AI, para pekerja diuntungkan dengan analisis teknologi tersebut yang menyediakan gagasan-gagasan mendalam dan tersaji secara cepat. Pelatihan juga makin maju guna meningkatkan sumber daya dan kapasitas perencanaan.

Dalam pariwisata di mana interaksi manusia masih menjadi aset utama, integrasi efektif AI akan bergantung pada kemampuan sektor untuk melengkapi tenaga kerjanya dengan kompetensi teknis dan manusia-sentris.

Meski dampak keseluruhan penyerapan tenaga kerja dan gaji belum sepenuhnya terbukti, tetapi sekitar 27 persen pekerjaan di seluruh sektor ekonomi diestimasikan berisiko terdampak otomatisasi AI. Hal ini utamanya berkaitan erat dengan pekerjaan-pekerjaan repetitif dan rutin, masih dilansir dari laporan OECD.

Menyikapi kondisi ini, para pemangku kepentingan perlu secara proaktif terlibat dalam penyerapan tenaga kerja oleh AI guna menghasilkan outcome yang menguntungkan bagi banyak orang. Pelatihan dan pendidikan bagi tenaga kerja pariwisata menjadi penentu guna menyiapkan mereka beradaptasi, di tengah perkembangan teknologi yang begitu cepat.

Menyiapkan pekerja mumpuni

Serupa dengan optimisme laporan-laporan sebelumnya, sejumlah pelaku industri dan pakar pariwisata meyakini bahwa para pekerja pariwisata masih banyak dibutuhkan dalam sektor ini. AI memang memudahkan, menyederhakan, dan membuat segala pekerjaan menjadi lebih praktis. Namun, tak serta-merta pekerjaan manusia akan digilas begitu saja oleh mesin. Sebab, inti pekerjaan pariwisata bertumpu pada pelayanan yang interaksi dan relasi antarmanusia hanya bisa dilakukan manusia.

“Jadi, AI tidak akan menggantikan para pekerja pariwisata. Saya meyakini itu, tetapi para pekerja pariwisata yang dapat menggunakan AI akan menggantikan mereka yang tidak mampu memanfaatkannya,” tutur Dekan Faculty of Digital Communication and Hotel & Tourism BINUS University Dea Prasetyawati dalam ASEAN-Korea Roundtable in Tourism di Gedung Kementerian Pariwisata, Jakarta, Jumat (6/11/2026).

Forum itu dihadiri sejumlah pakar dan pelaku pariwisata dari beberapa negara tetangga. Beberapa di antaranya adalah Chair, ASEAN AI Council, Ethel Agnes Pascua-Valenzuela (Filipina); CEO, Heritage Tourism Association, Macario Floarian Sanches (Timor-Leste); serta, Director of the Tourism Professional Development Division, Department of Tourism, Patthanasiri Salyasiri Ewtoksan (Thailand).

Negara lain juga mengirimkan perwakilannya, seperti Secretary General, Myanmar Tourism Federation, Than Htut (Myanmar); Deputy Director, Hospitality and Tourism Talent, Singapore Tourism Board, Candace Lim (Singapura); President Malaysian Association of Tour & Travel Agents, Nigel Wong Chun Teim (Malaysia); Dekan Faculty of Digital Communication and Hotel & Tourism BINUS University Dea Prasetyawati (Indonesia); dan, Deputy Permanent Secretary Ministry of Economy, Trade and Industry, Yusree Junaidi (Brunei Darussalam).

“AI harus membuat manusia menjadi lebih ‘manusia’, tidak kurang.”

Kini, Dea melanjutkan, tugas akademisi dan perusahaan untuk memikirkan dan bersiasat guna memenuhi gap. Berkaca dari salah satu pimpinan perusahaan terkemuka di Indonesia, penggunaan program atau perangkat lunak, seperti Microsoft Excel sudah digunakan dengan berbeda. Program masih dipakai, tetapi sudah dikolaborasikan dengan AI untuk membuat keputusan.

“Pengambilan keputusan masih diambil kita sebagai manusia, tetapi dalam waktu bersamaan, hal itu dilakukan sangat cepat juga dengan AI. Jadi, jika pemberi kerja kita pada masa depan tidak tahu cara belajar seperti ini, ia tidak akan bisa beradaptasi,” ujar Dea.

Saat ini, pemanfaatan AI dalam pariwisata banyak digunakan untuk layanan asisten AI, pemasaran digital, pemesanan daring (online booking), serta keamanan siber dan etika data. Dengan AI pula, pekerjaan dapat didesain ulang.

“AI harus membuat manusia menjadi lebih ‘manusia’, tidak kurang,” ucapnya.

Baca JugaWisatawan Era AI Tak Mau Dibohongi

Perwakilan Malaysia, Nigel mengemukakan, pihaknya membuat silabus bagi para pekerja pariwisata, khususnya di kawasan rural. Mereka diajak untuk memahami budaya daerah yang ditinggalinya secara mendasar. Tidak hanya mewakili budayanya, tetapi juga belajar untuk memahami budaya para turis.

“Ada sesuatu yang hanya bisa dilakukan manusia, sehingga tak perlu membutuhkan banyak keterlibatan teknologi atau hal-hal teknis ke dalam kerangka kerja. Anda hanya perlu melihat kemampuan nonteknis (soft skills) orang-orang, dan menyadari bahwa di situ ada sesuatu yang bisa dikapitalisasi dan dibangun,” tuturnya.

Berbeda dengan kebutuhan pekerja pariwisata di daerah rural, kemampuan para pekerja urban yang dibutuhkan adalah keahliannya dalam berpikir secara strategis. Alhasil, mereka mampu mendorong dan menggerakkan industri pariwisata.

Singapura dengan budaya yang sangat terstruktur, Candace mengemukakan bahwa mereka mencari para pekerja potensialnya, baik pada level menengah atau pimpinan, skema untuk tiap orang yang mampu mengisi posisi tersebut telah disiapkan. Skema detail ini akan membantu mereka menyiapkan pelatihan dengan posisi yang berbeda-beda.

“Kami terobsesi dengan produktivitas. Kami mendorong perusahaan-perusahaan untuk memperbarui teknologi-teknologinya, untuk mengadopsi solusi AI. Itu juga artinya bahwa kami harus melatih staf-staf agar bisa mengelola apa yang diusulkan AI. Ketika AI melakukan tugas-tugas biasa, para pekerja bisa fokus pada pekerjaan bernilai tinggi,” ujarnya.

Manusia adalah inti

Meski banyak orang harap-harap cemas peran dan pekerjaannya akan dilibas AI, tetapi harapan masih ada. Pariwisata berkelanjutan yang tengah dirintis sekaligus menjadi tren baru global, justru akan menjadi pegangan bagi semua pihak dalam industri ini bahwa manusia tidak akan digantikan AI. Mereka menyebutnya, “High tech, high touch”.

Than Htut dari Myanmar mengatakan bahwa pariwisata berkelanjutan bukan sekadar melindungi lingkungan dan alam sekitar, tetapi juga menjaga budaya, serta mendukung komunitas lokal. Terlebih dari itu, keberlanjutan berarti memastikan pariwisata menciptakan keuntungan jangka panjang untuk semua orang dan pemangku kepentingan.

“Bagi saya, kunci pariwisata berkelanjutan adalah manusia. Kita bisa memiliki kebijakan dan praktik yang lebih baik, perencanaan penuh ambisi, tetapi tanpa pemahaman dari orang-orang untuk mengaplikasikannya, maka hasilnya juga tidak akan optimal,” tutur Than.

Guna menanamkan hal ini, setidaknya ada tiga cara yang bisa dilakukan secara konkret. Pertama, buat kegiatan keberlanjutan dalam keseharian. Para pegawai hotel, pemandu wisata, serta operator pariwisata perlu belajar cara praktis dan sederhana untuk mengurangi sampah, hemat energi, dan melindungi budaya lokal.

Baca JugaAI dan Industri Kreatif, Memberi Makna pada Algoritma

Kedua, libatkan komunitas lokal. Pariwisata dapat menciptakan pekerjaan dan mendukung bisnis-bisnis lokal sembari tetap menghormati tradisi lokalnya. Ketiga, buat pelatihan pariwisata berkelanjutan yang mudah diakses usaha-usaha kecil.

 “Jadi, masyarakat lokal tidak hanya melihat pariwisata tumbuh di sekitarnya. Mereka harus punya suara dan mendapat bagian dari keuntungan yang dihasilkan,” ucap Than.

Perkembangan zaman beriringan dengan pesatnya perubahan teknologi memang tidak dapat dibendung. Namun, kemauan semua orang untuk tetap berpihak dan mengutamakan manusia di atas apapun akan menjadi landasan penting untuk beradaptasi pada tiap perubahan. Apalagi, pariwisata selalu menekankan pada hubungan dan interaksi antarmanusia yang tak tergantikan.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Tekan Tawuran, Pramono Anung Resmikan Arena Tinju di Kolong Flyover Kampung Melayu
• 2 jam laluokezone.com
thumb
Perempuan di Cimahi Tewas Diduga Dianiaya, Polisi Tangkap Pelaku
• 14 jam lalukumparan.com
thumb
Kemenag kembangkan KOSMIN & mushaf Al Quran isyarat untuk disabilitas
• 22 jam laluantaranews.com
thumb
​​​​​​​Saga Transfer AC Milan Jadi Kenyataan, Gerry Cardinale Capai Kesepakatan dengan Eintracht Frankfurt soal Markus Krosche
• 1 jam lalutvonenews.com
thumb
[Foto] Jokowi Hadiri Sidang Kasus Ijazah Palsu Terdakwa Roy Suryo - Doktor Tifa
• 5 jam lalukatadata.co.id
Berhasil disimpan.