JAKARTA -- Pengabdian mahasiswa di masyarakat tidak selalu berjalan mulus. Dalam waktu 21 hari, mahasiswa Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) yang terkenal sebagai Kampus Digital Kreatif, dituntut memahami kebutuhan masyarakat, menyusun program, sekaligus belajar bekerja bersama orang-orang dengan karakter yang berbeda. Pengalaman itu menjadi bagian dari perjalanan Kelompok Barugbug hingga meraih Juara Umum (Kelompok Terbaik) II BSI Explore 2026.
Kelompok yang bertugas di Desa Barugbug, Kecamatan Jatisari, Kabupaten Karawang, tersebut dipimpin Regina Pracilla Syifa, mahasiswa Program Studi (Prodi) Ilmu UBSI kampus BSD. Selama penugasan, mereka menjalankan sejumlah program pendidikan dan sosial sekaligus mengangkat persoalan pencemaran lingkungan yang dirasakan masyarakat setempat.
Baca Juga
FEB UBSI Susun Roadmap Riset Tiga Tahun, Perkuat Kolaborasi Diaspora dan Publikasi Ilmiah
Melihat Semangat Anak Desa, Mahasiswa UBSI Pulang dari BSI Explore 2026 Membawa Perspektif Baru
Integrasi AI dan E-Commerce, UBSI Perkuat Daya Saing UMKM Global
Barugbug berada bersebelahan dengan Desa Situdam dan dipisahkan oleh Bendungan Barugbug. Menurut Regina, salah satu persoalan yang menjadi perhatian kelompoknya adalah kondisi aliran air yang terlihat hitam dan berbau menyengat. Ia mengaitkan kondisi tersebut dengan dugaan pencemaran limbah industri di sekitar Cikampek.
“Selama 21 hari penugasan, fokus utama kami adalah mengangkat isu pencemaran lingkungan akibat limbah pabrik di sekitar Cikampek yang membuat aliran air di sana terlihat hitam dan berbau pekat,” kata Regina, Rabu (4/11).
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Persoalan lingkungan itu menjadi salah satu isu yang ingin mereka suarakan. Regina berharap pemerintah dan pihak terkait dapat meninjau kondisi tersebut serta mengambil langkah penanganan demi menjaga kesehatan dan kesejahteraan masyarakat.
Di luar isu lingkungan, kelompok Barugbug juga menjalankan program literasi dan edukasi digital. Regina menjelaskan, masyarakat setempat sudah cukup akrab dengan teknologi digital. Karena itu, kelompoknya memilih untuk lebih menekankan penguatan literasi membaca, khususnya bagi anak-anak di sekolah.
Mereka juga berupaya mengenalkan potensi produk lokal yang belum banyak diketahui masyarakat luas, seperti olahan daun kelor dan melon yang dikembangkan di desa tersebut. Bagi Regina, potensi lokal tidak cukup hanya tersedia, tetapi juga perlu diperkenalkan agar semakin dikenal dan memiliki peluang untuk berkembang.
Namun, menjalankan program di lapangan bukan berarti seluruh tantangan berasal dari kondisi desa. Regina mengungkapkan, dinamika internal kelompok menjadi salah satu hal yang perlu mereka kelola selama penugasan.
“Karena anggota kami semuanya perempuan, menyatukan ego dan menyelaraskan ide membutuhkan pendekatan yang netral,” katanya.
Pengalaman tersebut menjadi bagian dari proses belajar mahasiswa UBSI di luar ruang kelas. Mereka tidak hanya berhadapan dengan masyarakat dan persoalan desa, tetapi juga belajar membangun komunikasi, mengelola perbedaan pendapat, serta menjaga kekompakan dalam waktu yang terbatas.
Regina mengaku bersyukur atas kerja sama seluruh anggota kelompok yang membuat mereka mampu menyelesaikan penugasan dan meraih penghargaan. Meski tidak menyangka akan terpilih sebagai Juara Umum II, pencapaian itu menjadi pengalaman berharga bagi kelompok Barugbug.
“BSI Explore 2026 menjadi ruang bagi kami untuk belajar melalui pengabdian langsung kepada masyarakat. Bagi kelompok Barugbug, pengalaman ini meninggalkan pesan bahwa kontribusi mahasiswa tidak berhenti pada program yang dijalankan selama penugasan,” tuturnya.
Di tengah capaian penghargaan, Regina berharap persoalan pencemaran lingkungan di Desa Barugbug mendapat perhatian lebih serius. Ia juga berharap program literasi dan pengenalan potensi lokal dapat menjadi langkah awal bagi masyarakat untuk terus mengembangkan pendidikan dan potensi desa.