JAKARTA -- Stigma terhadap berat badan tidak hanya berdampak pada kepercayaan diri, tetapi juga dapat memengaruhi kesehatan mental dan menghambat seseorang mencari pertolongan medis. Padahal, obesitas dan kesehatan mental memiliki hubungan dua arah yang saling memengaruhi.
Dokter spesialis kedokteran jiwa, dr. Putri Nugraheni, Sp.KJ, menjelaskan, orang dengan obesitas dapat mengalami tekanan psikologis akibat stigma dari lingkungan maupun penilaian terhadap dirinya sendiri. Kondisi tersebut turut memengaruhi kesejahteraan emosional dan cara seseorang memandang dirinya.
Baca Juga
Pentingnya Proteksi Kesehatan untuk Penyakit Autoimun
Indra Sjafri Dukung Kesehatan Mata Pemain Bola
Jangan Coba-Coba Olah Daging Hewan Mati Mendadak, Ini Risikonya bagi Kesehatan
"Stigma bisa kontraproduktif karena memengaruhi well-being dan perilaku seseorang dalam mencari bantuan untuk memperbaiki kondisi kesehatannya," ujar Putri dalam diskusi media mengenai hubungan obesitas dan kesehatan mental di Jakarta yang digelar Novo Indonesia.
Menurut dia, obesitas dan gangguan kesehatan mental tidak bisa lagi dipandang sebagai dua persoalan yang terpisah. Keduanya memiliki hubungan timbal balik yang dapat membentuk lingkaran yang sulit diputus apabila tidak ditangani secara tepat.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Putri mencontohkan, obesitas berkaitan dengan peradangan sistemik atau inflamasi dalam tubuh. Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang dapat meningkatkan risiko depresi. Di sisi lain, masalah kesehatan mental juga bisa memengaruhi pola makan, tidur, dan aktivitas fisik seseorang.
Ketika mengalami tekanan psikologis, seseorang mungkin mencari cara untuk mengatasi emosinya melalui perilaku tertentu, salah satunya stress eating atau makan sebagai respons terhadap stres. Aktivitas fisik yang berkurang akibat kondisi mental yang menurun juga dapat berpengaruh terhadap berat badan.
"Hubungannya menjadi seperti lingkaran yang harus diputus dari dua sisi," kata Putri.