Magelang: Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi mendorong elektrifikasi Rice Milling Unit (RMU) atau penggilingan padi skala kecil untuk menekan biaya produksi dan meningkatkan efisiensi usaha pertanian. Penggunaan mesin listrik dinilai mampu menghemat biaya operasional hingga 50 persen dibandingkan mesin diesel.
Salah satu penerapan program tersebut dilakukan di Gapoktan Maju Makmur, Desa Ngadirojo, Kecamatan Secang, Kabupaten Magelang. Elektrifikasi RMU di wilayah tersebut diresmikan sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan sekaligus meningkatkan produktivitas petani.
Ahmad Luthfi mengatakan, elektrifikasi RMU skala kecil dapat membantu kelompok tani memanfaatkan potensi pertanian di masing-masing desa. Penggunaan listrik sebagai pengganti solar dinilai lebih hemat dan efisien.
"Satu, bisa memanfaatkan biaya solar diganti listrik yang hampir ya 50 persen itu biayanya bisa lebih ngirit dan efisien," ujar Ahmad Luthfi dikutip dari tayangan Selamat Pagi Indonesia Metro TV, Sabtu 7 November 2026.
Menurutnya, penerapan RMU skala kecil juga berpotensi dikembangkan di sejumlah kelompok tani. Program tersebut diharapkan menjadi model percontohan yang dapat diperluas ke wilayah lain di Jawa Tengah.
"Kalau satu Gapoktan sudah mampu, kalau ini ada beberapa tempat menggunakan yang skala kecil nanti akan menjadi besar, merupakan suatu role model yang bisa dikembangkan di wilayah kita," katanya.
Berdasarkan data sebaran, Jawa Tengah memiliki 23.343 unit penggilingan padi. Sebagian besar merupakan penggilingan skala kecil, sementara 804 unit masuk kategori skala sedang dan 65 unit skala besar. Namun, dari keseluruhan jumlah tersebut, baru 16 RMU yang telah dielektrifikasi.
Baca Juga :
Perkuat Produksi Pangan, Pemprov Jateng Bangun Irigasi dan Siapkan Asuransi PetaniDampak peralihan dari mesin diesel ke mesin listrik dirasakan anggota Gapoktan Maju Makmur, Sudarno. Ia mengatakan, penggunaan mesin listrik membuat hasil penggilingan lebih baik, biaya lebih murah, serta meningkatkan jumlah produksi dan konsumen.
"Setelah mendapat bantuan dari gubernur ini tentang elektrifikasi, ternyata hasilnya jauh lebih bagus dibandingkan dulu sebelumnya ketika memakai diesel. Ternyata setelah pakai listrik ini, jauh lebih murah, lebih efisien," kata Sudarno.
Ia menambahkan, peningkatan kualitas hasil penggilingan turut diikuti bertambahnya produksi dan jumlah konsumen.
Program elektrifikasi ini terlaksana melalui kolaborasi Bank Indonesia, PLN, pemerintah pusat, dan pemerintah daerah. Selain penghematan biaya produksi, transformasi mesin diesel ke listrik disebut menghasilkan penghematan rata-rata biaya hingga 60 persen serta menurunkan emisi karbon dioksida sekitar 12 persen.
Di sisi lain, ketersediaan beras di Jawa Tengah tercatat surplus sekitar 1,54 juta ton hingga Agustus 2026. Stok beras mencapai 4,35 juta ton, sedangkan kebutuhan berada di angka 2,81 juta ton.
Berdasarkan proyeksi hingga Desember 2026, ketersediaan beras di Jawa Tengah diperkirakan mencapai 5,39 juta ton, sementara kebutuhan berada di angka 4,11 juta ton. Dengan demikian, provinsi tersebut diproyeksikan mencatat surplus beras sekitar 1,22 juta ton hingga akhir tahun.




