Jakarta (ANTARA) - Wakil Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Dradjad Hari Wibowo menyebut daya beli masyarakat tidak melemah, melainkan bergeser seiring perubahan pola konsumsi dan transformasi struktur perekonomian nasional.
“Daya beli masyarakat itu tidak melemah, hanya bergeser. Perekonomian kita itu sekarang bertransformasi," kata Dradjad pada program CNBC Indonesia Power Lunch dikonfirmasi di Jakarta, Sabtu.
Menurut dia, sejumlah sektor usaha industri tradisional yang belum menjadi tulang punggung penyerapan lapangan kerja mengalami tekanan, namun aktivitas ekonomi bergeser ke sektor lain yang berkembang.
Dradjad menjelaskan perubahan pola belanja rumah tangga perlu dipahami oleh pelaku usaha agar dapat menyesuaikan strategi bisnis dan melakukan transformasi menghadapi dinamika perekonomian.
Ia menambahkan pergeseran konsumsi tersebut turut mempengaruhi perkembangan berbagai sektor usaha, sehingga pemerintah dan dunia usaha perlu bersama-sama mengantisipasi perubahan struktur ekonomi.
"Beberapa sektor usaha industri tradisional yang belum menjadi tulang punggung penyerapan lapangan kerja, itu drop, tapi bergeser ke tempat lain. Rupanya memang terjadi pergeseran konsumsi dan pergeseran pola belanja dari rumah tangga. Ini perlu dipahami oleh para pelaku usaha, dan kemudian mereka juga harus bertransformasi,” ujarnya.
Dia menuturkan perubahan pola konsumsi turut mempengaruhi perkembangan berbagai sektor usaha. Sejumlah sektor industri tradisional, seperti tekstil, produk tekstil, dan alas kaki, menghadapi tekanan.
Sementara itu, sektor telekomunikasi, transportasi, serta hotel dan restoran menunjukkan pertumbuhan yang lebih tinggi.
"Pergeseran tersebut menjadi bagian dari transformasi ekonomi yang perlu diantisipasi baik oleh pemerintah maupun pelaku usaha," tuturnya.
Di tengah perubahan tersebut, aktivitas industri pengolahan nasional secara umum masih menunjukkan kinerja ekspansif. Hal itu tercermin dari Indeks Kepercayaan Industri (IKI) Oktober 2026 yang mencapai 53,77 atau meningkat dibandingkan September 2026 sebesar 51,93.
Ia menekankan capaian tersebut menunjukkan meskipun sejumlah subsektor menghadapi tekanan, aktivitas industri pengolahan secara keseluruhan masih berada dalam fase ekspansi.
"Dengan demikian, penguatan sektor industri tetap menjadi bagian penting dalam upaya memperluas kesempatan kerja dan meningkatkan nilai tambah perekonomian," katanya.
Menteri Perindustrian (Menperin) Muhammad Sarmuji menyebut Indeks Kepercayaan Industri menguat dengan mencatatkan angka 53,77 sehingga memperlihatkan optimisme pelaku usaha terhadap kondisi industri nasional yang terus berkembang sangat baik pesat positif.
"Selain itu ada juga data yang kita kumpulkan dalam bentuk indeks kepercayaan industri juga turut menguat, angkanya 53,77. Jadi mirip-mirip," kata Sarmuji di sela membuka kegiatan Sago Business Forum 2026 di Jakarta, Kamis (5/11).
Selain itu Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur Indonesia Oktober 2026 mencapai 54 yang mencerminkan ekspansi kuat sekaligus menunjukkan kondisi sektor industri yang terang.
"Kepercayaan investor, pelaku usaha khususnya industrialis kepada Indonesia saat ini sedang sangat baik. Jadi, narasi-narasi yang berkembang selama ini seolah-olah kita mengalami kemerosotan di sektor industri terbantahkan dengan data-data yang terakhir," tegasnya.
Berdasarkan data Standard & Poor's menunjukkan PMI manufaktur Indonesia Oktober 2026 mencapai angka 54, menjadi ekspansi terkuat dalam 31 bulan terakhir sekaligus menandai penguatan kinerja industri.
Angka PMI tersebut menunjukkan ekspansi manufaktur nasional terkuat sejak Maret 2024 berdasarkan indikator industri yang dipantau pemerintah secara berkala.
Menurutnya angka PMI di atas 50 mencerminkan industri berada dalam fase ekspansi, sedangkan capaian Indonesia melampaui sejumlah negara pembanding seperti Brasil, Malaysia, Vietnam, China, dan Australia pada periode tersebut.
Indonesia mencatat PMI manufaktur lebih tinggi dibandingkan Malaysia yang berada pada angka 51, Vietnam 52,3, China 52, serta Australia yang mengalami kontraksi dengan angka 49 berdasarkan laporan terbaru nasional terkini.
Baca juga: Pengamat: Penguatan distribusi cabai jaga daya beli, lindungi petani
Baca juga: Airlangga: Target kredit Rp400 triliun untuk tingkatkan daya beli
“Daya beli masyarakat itu tidak melemah, hanya bergeser. Perekonomian kita itu sekarang bertransformasi," kata Dradjad pada program CNBC Indonesia Power Lunch dikonfirmasi di Jakarta, Sabtu.
Menurut dia, sejumlah sektor usaha industri tradisional yang belum menjadi tulang punggung penyerapan lapangan kerja mengalami tekanan, namun aktivitas ekonomi bergeser ke sektor lain yang berkembang.
Dradjad menjelaskan perubahan pola belanja rumah tangga perlu dipahami oleh pelaku usaha agar dapat menyesuaikan strategi bisnis dan melakukan transformasi menghadapi dinamika perekonomian.
Ia menambahkan pergeseran konsumsi tersebut turut mempengaruhi perkembangan berbagai sektor usaha, sehingga pemerintah dan dunia usaha perlu bersama-sama mengantisipasi perubahan struktur ekonomi.
"Beberapa sektor usaha industri tradisional yang belum menjadi tulang punggung penyerapan lapangan kerja, itu drop, tapi bergeser ke tempat lain. Rupanya memang terjadi pergeseran konsumsi dan pergeseran pola belanja dari rumah tangga. Ini perlu dipahami oleh para pelaku usaha, dan kemudian mereka juga harus bertransformasi,” ujarnya.
Dia menuturkan perubahan pola konsumsi turut mempengaruhi perkembangan berbagai sektor usaha. Sejumlah sektor industri tradisional, seperti tekstil, produk tekstil, dan alas kaki, menghadapi tekanan.
Sementara itu, sektor telekomunikasi, transportasi, serta hotel dan restoran menunjukkan pertumbuhan yang lebih tinggi.
"Pergeseran tersebut menjadi bagian dari transformasi ekonomi yang perlu diantisipasi baik oleh pemerintah maupun pelaku usaha," tuturnya.
Di tengah perubahan tersebut, aktivitas industri pengolahan nasional secara umum masih menunjukkan kinerja ekspansif. Hal itu tercermin dari Indeks Kepercayaan Industri (IKI) Oktober 2026 yang mencapai 53,77 atau meningkat dibandingkan September 2026 sebesar 51,93.
Ia menekankan capaian tersebut menunjukkan meskipun sejumlah subsektor menghadapi tekanan, aktivitas industri pengolahan secara keseluruhan masih berada dalam fase ekspansi.
"Dengan demikian, penguatan sektor industri tetap menjadi bagian penting dalam upaya memperluas kesempatan kerja dan meningkatkan nilai tambah perekonomian," katanya.
Menteri Perindustrian (Menperin) Muhammad Sarmuji menyebut Indeks Kepercayaan Industri menguat dengan mencatatkan angka 53,77 sehingga memperlihatkan optimisme pelaku usaha terhadap kondisi industri nasional yang terus berkembang sangat baik pesat positif.
"Selain itu ada juga data yang kita kumpulkan dalam bentuk indeks kepercayaan industri juga turut menguat, angkanya 53,77. Jadi mirip-mirip," kata Sarmuji di sela membuka kegiatan Sago Business Forum 2026 di Jakarta, Kamis (5/11).
Selain itu Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur Indonesia Oktober 2026 mencapai 54 yang mencerminkan ekspansi kuat sekaligus menunjukkan kondisi sektor industri yang terang.
"Kepercayaan investor, pelaku usaha khususnya industrialis kepada Indonesia saat ini sedang sangat baik. Jadi, narasi-narasi yang berkembang selama ini seolah-olah kita mengalami kemerosotan di sektor industri terbantahkan dengan data-data yang terakhir," tegasnya.
Berdasarkan data Standard & Poor's menunjukkan PMI manufaktur Indonesia Oktober 2026 mencapai angka 54, menjadi ekspansi terkuat dalam 31 bulan terakhir sekaligus menandai penguatan kinerja industri.
Angka PMI tersebut menunjukkan ekspansi manufaktur nasional terkuat sejak Maret 2024 berdasarkan indikator industri yang dipantau pemerintah secara berkala.
Menurutnya angka PMI di atas 50 mencerminkan industri berada dalam fase ekspansi, sedangkan capaian Indonesia melampaui sejumlah negara pembanding seperti Brasil, Malaysia, Vietnam, China, dan Australia pada periode tersebut.
Indonesia mencatat PMI manufaktur lebih tinggi dibandingkan Malaysia yang berada pada angka 51, Vietnam 52,3, China 52, serta Australia yang mengalami kontraksi dengan angka 49 berdasarkan laporan terbaru nasional terkini.
Baca juga: Pengamat: Penguatan distribusi cabai jaga daya beli, lindungi petani
Baca juga: Airlangga: Target kredit Rp400 triliun untuk tingkatkan daya beli





