Ancaman Banjir Mengintai, Sejumlah Rumah Pompa di Gresik Masih Andalkan Sistem Manual

beritajatim.com
1 jam lalu
Cover Berita

Gresik (beritajatim.com) – Ancaman genangan di kawasan perkotaan Gresik belum sepenuhnya terjawab dengan keberadaan rumah pompa. Sejumlah saluran air masih menghadapi persoalan sedimentasi, sementara sistem pengoperasian pompa di titik tertentu masih mengandalkan mekanisme manual.

Kondisi tersebut menjadi pekerjaan rumah Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gresik menjelang musim hujan. Jika tidak segera dibenahi, kapasitas rumah pompa dikhawatirkan tidak akan maksimal ketika debit air meningkat bersamaan dengan pasang air laut.

Salah satu titik yang membutuhkan perhatian serius berada di rumah pompa Pulopancikan. Selain kesiapan mesin, saluran menuju muara sungai juga membutuhkan penanganan karena endapan lumpur berpotensi menghambat kelancaran aliran air.

Persoalan lainnya adalah sistem pengoperasian pompa yang belum otomatis. Perubahan dari mekanisme manual menjadi sistem otomatis dinilai penting agar pompa bisa merespons kenaikan debit air tanpa harus menunggu pengoperasian petugas.

Tak hanya Pulopancikan, persoalan serupa juga ditemukan di sejumlah titik lain. Di antaranya rumah pompa Kali Tutup Timur, Kali Tutup Barat, Kali Tuwo, serta dua unit rumah pompa di kawasan Banjarsari, tepatnya di belakang kompleks Pemerintah Daerah.

Kepala Dinas Cipta Karya, Perumahan dan Kawasan Permukiman (CKPKP) Gresik, Ida Lailatussa’diyah, mengatakan sejumlah infrastruktur tersebut menjadi perhatian dalam persiapan menghadapi musim penghujan.

Masih menurut Ida, Pulopancikan termasuk titik penting karena berhubungan langsung dengan kondisi air pasang. Karena itu, kesiapan pompa harus dibarengi dengan pembenahan saluran. “Rumah pompa Pulopancikan menjadi salah satu titik krusial, terutama karena berkaitan dengan kondisi air pasang,” katanya, Sabtu (7/11/2026).

Persoalan sedimentasi juga menjadi perhatian di kawasan Kali Tutup Timur. Saluran dan pintu air di lokasi tersebut berkaitan dengan potensi genangan di kawasan Jalan Samanhudi Gresik. Endapan yang menumpuk perlu dikeruk agar aliran air menuju Pulopancikan tidak terhambat.

Sementara itu, di kawasan Jalan Raden Santri Gresik, terdapat rencana pembangunan saluran yang menghubungkan Jalan Samanhudi dengan kawasan pelabuhan melalui tujuh ruas saluran. Skema tersebut disiapkan untuk mengarahkan aliran air menuju Pulopancikan dan Kali Tutup Timur.

Namun, pembenahan tidak cukup hanya dengan membangun saluran baru. Sejumlah pintu air di kawasan WEP yang mengarah ke utara dan Pulopancikan juga membutuhkan pengerukan sedimentasi.

Pelaksanaannya tidak sederhana. Keberadaan tiang pancang bangunan serta keterbatasan ruang untuk mobilisasi alat berat menjadi kendala teknis yang harus diperhitungkan. Pengerukan tidak boleh justru merusak infrastruktur yang sudah berdiri.

Wakil Bupati (Wabup) Gresik, Asluchul Alif, menuturkan bahwa dirinya mendorong agar persoalan sedimentasi segera dikoordinasikan lintas perangkat daerah.

“Penanganan sedimentasi ini perlu segera ditindaklanjuti. Kita akan koordinasikan dengan perangkat daerah terkait agar pengerukan dapat dilakukan secara optimal. Tentunya, pelaksanaannya harus memperhatikan kondisi infrastruktur yang ada,” tuturnya.

Di sisi lain, persoalan banjir perkotaan tidak hanya bergantung pada kesiapan pompa dan pembangunan saluran. Kebiasaan masyarakat membuang sampah sembarangan juga berpotensi memperparah penyumbatan saluran air. [dny/kun]


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Frans Seda, Tokoh Asal NTT, Akan Dianugerahi Gelar Pahlawan Nasional
• 1 jam lalukompas.id
thumb
Harga Emas Lesu Hari Ini, Cek Daftar Lengkapnya
• 11 jam lalurepublika.co.id
thumb
Angin Kencang Sapu Tasikmalaya, 20 Rumah Rusak dan Pohon Tumbang
• 21 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Sentimen konsumen AS membaik seiring meredanya ekspektasi inflasi
• 5 jam laluantaranews.com
thumb
Cegah Curanmor, Bhabinkamtibmas Polres Pelabuhan Makassar Sisir Lorong dan Ingatkan Warga
• 5 jam laluharianfajar
Berhasil disimpan.