jpnn.com, JAKARTA - Direktur MDPI Foundation, Yasmin Simbolon mengajak masyarakat mulai membiasakan konsumsi tuna sebagai salah satu pilihan sumber protein, misalnya dengan memasukkannya ke dalam menu keluarga seminggu sekali.
Menurut Yasmin, tuna memiliki potensi untuk menjadi bagian dari pola konsumsi masyarakat yang lebih beragam.
BACA JUGA: Kelola Uang Gajian, ShopeePay Sediakan Fitur Tarik Tunai Tanpa Biaya
Melalui berbagai pilihan olahan, masyarakat bisa menikmati tuna tanpa harus terpaku pada hidangan tertentu atau cara penyajian yang rumit.
“Memulai kebiasaan mengonsumsi tuna tidak harus dengan perubahan besar. Kita bisa mulai dengan memasukkan tuna ke dalam menu keluarga seminggu sekali, memilih jenis yang sesuai, dan mengolahnya dengan cara yang kita sukai. Dari kebiasaan sederhana ini, masyarakat juga bisa mulai lebih peduli terhadap asal-usul ikan yang mereka konsumsi,” ujar Yasmin.
BACA JUGA: 6 Manfaat Ikan Tuna yang Baik untuk Tubuh, Bikin Jantung Bahagia
Ikan tuna dikenal sebagai salah satu sumber protein hewani dengan kandungan gizi yang tinggi.
Berdasarkan Tabel Komposisi Pangan Segar Indonesia dari Badan Pangan Nasional, ikan tuna mengandung sekitar 25,76 gram protein per 100 gram bahan pangan, sehingga berpotensi menjadi salah satu alternatif pemenuhan kebutuhan protein dalam menu sehari-hari.
BACA JUGA: Hadirkan Konsep dan Menu Baru, YOSHINOYA Buka Outlet di Kemanggisan
Founder & CEO Asosiasi Perikanan Pole & Line dan Handline Indonesia (AP2HI), Janti Djuari menyoroti pentingnya edukasi konsumen mengenai kandungan protein ikan tuna sekaligus aspek keamanan pangan yang selama ini turut memengaruhi persepsi masyarakat.
Salah satu isu yang kerap menjadi perhatian adalah histamin, yaitu senyawa yang dapat terbentuk pada ikan tertentu, termasuk tuna, ketika penanganan dan penyimpanannya tidak dilakukan dengan baik.
Histamin dalam kadar tinggi dapat menimbulkan gangguan kesehatan, sehingga penerapan standar penanganan dan rantai dingin menjadi faktor penting dalam menjaga keamanan produk tuna.
“Ikan tuna merupakan sumber protein yang sangat baik dan memiliki potensi besar untuk dikonsumsi lebih luas oleh masyarakat. Namun, edukasi mengenai kualitas dan penanganan ikan juga harus diperkuat. Kekhawatiran terhadap histamin perlu dijawab dengan informasi yang tepat, termasuk pentingnya menjaga suhu dan kualitas ikan sejak ditangkap hingga sampai ke tangan konsumen,” ujar Janti.
Edukasi ini diharapkan dapat membantu masyarakat lebih percaya diri dalam memilih ikan tuna, dengan memperhatikan kualitas produk, kebersihan tempat penjualan, serta penyimpanan yang sesuai. Penanganan yang tepat menjadi bagian penting untuk menjaga mutu dan keamanan tuna sebelum dikonsumsi.
Selain aspek gizi dan keamanan pangan, konsumen juga diajak menjadi lebih kritis terhadap asal-usul ikan yang mereka beli.
Melalui Bincang Tuna yang digelar di Indonesia Tuna Pavilion dalam rangkaian SIAL Food & Drinks Indonesia 2026, JIExpo Kemayoran, Jakarta, Jumat (6/11), kolaborasi antara industri, organisasi masyarakat sipil, inovator pangan, dan konsumen diharapkan dapat memperkuat budaya konsumsi tuna yang tidak hanya mempertimbangkan cita rasa dan kandungan gizi, tetapi juga kualitas, asal-usul, dan keberlanjutan sumber daya.
Kegiatan Bincang Tuna Episode 3 juga menjadi bagian dari rangkaian menyambut World Fisheries Day atau Hari Perikanan Sedunia, yang diperingati setiap 21 November sebagai momentum untuk meningkatkan kesadaran mengenai pentingnya perikanan bagi ketahanan pangan, keberlanjutan sumber daya laut, dan penghidupan masyarakat pesisir.
Melalui momentum ini, Bincang Tuna mengajak konsumen untuk lebih menghargai setiap hasil tangkapan dengan mengenali asal-usul ikan, memahami praktik penangkapan yang bertanggung jawab, serta menjadikan pilihan konsumsi sebagai bentuk dukungan terhadap keberlanjutan perikanan dan kesejahteraan masyarakat pesisir.(chi/jpnn)
Redaktur & Reporter : Yessy Artada




