Lautan Pasifik Berubah Warna, Menandai Jejak Mikroplastik dari Luar Angkasa

kompas.id
3 jam lalu
Cover Berita

Lautan kita perlahan berubah jadi tempat pembuangan sampah terbesar di planet ini. Plastik mengapung di permukaan, terseret arus sampai ke pulau-pulau terpencil, tenggelam ke dasar laut, dan terurai jadi partikel-partikel begitu kecil sehingga nyaris mustahil dilihat dengan mata telanjang.

Kini, ada indikasi baru pencemaran itu dapat mengubah warna lautan. Riset terbaru yang diterbitkan dalam jurnal Communications Earth & Environment pada 5 November 2026 menemukan perubahan karakter optik perairan di sekitar Great Pacific Garbage Patch (GPGP), kawasan akumulasi sampah plastik terbesar di Samudra Pasifik Utara.

Dengan menganalisis rekaman satelit selama dua dekade, para peneliti menemukan bahwa perairan di kawasan tersebut mengalami peningkatan kecerahan pada spektrum cahaya biru dan hijau.

Perubahan tersebut menghasilkan pergeseran spektrum warna menuju sian, perpaduan biru dan hijau. Pola tersebut berbeda dari perairan di sekitarnya yang tidak memperlihatkan perubahan serupa.

Temuan ini membuka kemungkinan bahwa akumulasi mikroplastik tak hanya mencemari laut secara fisik dan kimiawi, tapi juga mengubah cara air laut berinteraksi dengan cahaya matahari. Lebih jauh, perubahan warna itu berpotensi jadi petunjuk untuk mendeteksi pencemaran mikroplastik dari luar angkasa.

Shea Cheatham, Daniel Koestner, dan Børge Hamre dari Universitas Bergen, Norwegia, menganalisis tiga kumpulan data pengamatan warna laut berbasis satelit, masing-masing mencakup periode 20 tahun, dari Agustus 2002 hingga September 2022.

Tantangannya yakni mendeteksi mikroplastik berukuran amat kecil dan tersebar di dalam kolom air. Berbeda dengan sampah plastik berukuran besar yang bisa dikenali melalui pengamatan visual atau citra satelit, partikel mikroplastik sulit dideteksi memakai perangkat penginderaan jauh konvensional.

Baca JugaMikroplastik Turut Mengancam Ibu Hamil dan Janin

Alih-alih mencari keberadaan plastik secara langsung, para peneliti mengamati perubahan spektrum pantulan cahaya laut (ocean color reflectance). Warna laut sendiri merupakan hasil interaksi cahaya dengan berbagai material di dalam air, termasuk fitoplankton, bahan organik terlarut, sedimen, dan partikel-partikel tersuspensi.

Mikroplastik yang melayang di kolom air juga bisa menghamburkan cahaya sehingga memengaruhi karakter optik perairan. "Bukti jelas skala polusi mikroskopis amat penting untuk mengatasi masalah meningkatnya penggunaan serta pengelolaan plastik yang buruk," sebut Cheatham.

Hasil pengamatan menunjukkan peningkatan kecerahan biru dan hijau di sekitar GPGP konsisten dengan pola yang diperkirakan muncul akibat akumulasi mikroplastik. Simulasi komputer memperkuat dugaan tersebut.

Dalam 124.750 skenario perubahan spektrum kecerahan yang dimodelkan, pola perubahan menuju sian (warna antara biru dan hijau atau biasa disebut turquoise) muncul pada 13 persen simulasi yang memperhitungkan mikroplastik. Angka itu lebih dari empat kali daripada simulasi yang hanya memperhitungkan faktor alami, yakni 3 persen.

Meski demikian, para peneliti mengingatkan bahwa temuan itu belum membuktikan mikroplastik sebagai penyebab tunggal perubahan warna laut. Perubahan komposisi plankton, bahan organik terlarut, dan partikel alami lainnya juga dapat memengaruhi karakter optik perairan.

Karena itu, pengukuran langsung konsentrasi mikroplastik di laut masih diperlukan untuk mengonfirmasi hubungan tersebut.

Lautan dipenuhi partikel plastik

Adapun GPGP merupakan kawasan akumulasi sampah plastik yang terbentuk akibat pertemuan arus laut di Samudra Pasifik Utara, di antara California dan Hawaii.

Kawasan tersebut bukan merupakan pulau sampah padat seperti yang sering digambarkan dalam ilustrasi populer, melainkan wilayah luas tempat berbagai ukuran sampah plastik terkonsentrasi dan terus bergerak mengikuti dinamika arus laut.

Riset sebelumnya oleh Lebreton dari The Ocean Cleanup Foundation dan tim yang diterbitkan dalam Scientific Reports pada 2018 memperkirakan kawasan seluas 1,6 juta kilometer persegi itu mengandung sekitar 79.000 ton plastik, dengan rentang estimasi 45.000–129.000 ton.

Hal yang lebih mencengangkan adalah jumlah partikelnya. Riset yang dipimpin Laurent Lebreton itu memperkirakan ada sekitar 1,8 triliun potongan plastik di kawasan itu. Sekitar 94 persen dari jumlah tersebut merupakan mikroplastik, meski kontribusinya hanya 8 persen dari total massa plastik.

Sebaliknya, lebih dari tiga perempat massa plastik di kawasan tersebut berasal dari sampah berukuran lebih dari lima sentimeter. Jaring ikan yang hilang atau dibuang ke laut menyumbang sedikitnya 46 persen dari total massa plastik.

Serial Artikel

Serpihan Plastik yang Terakumulasi di Samudra Pasifik Meningkat Pesat

Sampah plastik di perairan Pasifik telah mencakup area permukaan seluas 1,6 juta kilometer persegi, seluas tiga kali lipat Perancis.

Baca Artikel

Temuan itu memperlihatkan paradoks pencemaran plastik di laut: sampah berukuran besar mendominasi berat keseluruhan, tapi partikel-partikel kecil mendominasi jumlahnya. Plastik yang semula terlihat sebagai botol, kemasan, jaring ikan, atau tali perlahan terfragmentasi akibat paparan sinar ultraviolet, gelombang, dan proses pelapukan lainnya.

Namun tidak semua mikroplastik berasal dari pecahan sampah berukuran besar. Sebagian memang diproduksi dalam ukuran kecil untuk keperluan industri dan produk tertentu.

Persoalannya, makin kecil ukuran plastik, kian sulit pula mengendalikannya. Partikel yang telah tersebar di kolom air bisa terbawa arus, masuk ke rantai makanan, dan berinteraksi dengan organisme laut. Bahkan, sebagian dapat berada di lapisan perairan yang tidak terjangkau oleh metode pemantauan sampah permukaan.

Dalam riset Cheatham dan koleganya, mikroplastik berukuran di bawah 300 mikrometer jadi perhatian utama karena karakteristik optiknya dapat memengaruhi pantulan cahaya. Ukuran ini juga membuat partikel-partikel tersebut sangat sulit dipisahkan dari material alami di dalam air.

Menjalar ke rantai makanan

Pencemaran plastik di laut bukan lagi persoalan lokal. Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP) memperkirakan sekitar 11 juta ton plastik bocor ke ekosistem perairan tiap tahun. Plastik ditemukan hampir di seluruh lingkungan, mulai dari permukaan laut hingga kawasan laut dalam, termasuk Palung Mariana.

Skala masalah ini terkai erat dengan peningkatan produksi dan konsumsi plastik dunia. Dalam pesan kunci Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2025, UNEP memperkirakan konsumsi plastik global mencapai 516 juta ton pada 2025. Sementara hanya sekitar 9 persen dari seluruh plastik yang pernah diproduksi di dunia yang berhasil didaur ulang.

Angka tersebut menunjukkan bahwa pendekatan pengelolaan sampah yang hanya mengandalkan daur ulang tidak akan cukup untuk mengatasi persoalan pencemaran plastik.

Dampaknya juga tidak berhenti pada perubahan karakter fisik perairan. Mikroplastik dapat tertelan oleh berbagai organisme laut, mulai dari plankton, kerang, ikan kecil, hingga predator yang berada di tingkat lebih tinggi dalam rantai makanan.

Penelitian Ruijie Zhu dari Nanjing University bersama sejumlah peneliti dari beberapa institusi di China, Jerman, dan Amerika Serikat yang diterbitkan dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS) pada Maret 2025 bahkan memperlihatkan potensi dampak mikroplastik terhadap produktivitas ekosistem.

Baca JugaMikroplastik Ditemukan di Hampir Semua Sampel Otak Manusia

Dengan menganalisis 3.286 catatan penelitian, para ilmuwan memperkirakan pencemaran mikroplastik dapat mengurangi produksi fotosintesis berbagai ekosistem.

Riset ini memperlihatkan dampak mikroplastik berpotensi meluas hingga mengganggu fondasi produktivitas ekosistem dan ketahanan pangan.

Dampaknya diperkirakan berpotensi menyebabkan kehilangan produksi pangan laut sebesar 1,05–24,33 juta ton per tahun. Untuk tanaman pangan, estimasi kehilangan produksinya mencapai 109,73–360,87 juta ton per tahun.

Angka tersebut merupakan estimasi pemodelan global, bukan pengukuran langsung kehilangan produksi perikanan saat ini. Namun, riset ini memperlihatkan dampak mikroplastik berpotensi meluas hingga mengganggu fondasi produktivitas ekosistem dan ketahanan pangan.

Di laut, fotosintesis terutama dilakukan oleh fitoplankton, organisme mikroskopis yang menjadi fondasi sebagian besar jaring makanan laut. Fitoplankton juga berperan penting dalam siklus karbon global melalui penyerapan karbon dioksida.

Dengan demikian, pencemaran mikroplastik bukan hanya persoalan sampah yang mengotori pantai atau mengancam satwa laut. Ada potensi gangguan yang lebih luas terhadap proses ekologis yang menopang kehidupan di lautan.

Pencemaran dari luar angkasa

Temuan terbaru tentang perubahan warna laut memberikan kemungkinan baru dalam memantau pencemaran plastik. Selama ini, pengukuran mikroplastik umumnya membutuhkan pengambilan sampel air, penyaringan, dan analisis laboratorium.

Metode tersebut memerlukan waktu, biaya, serta tenaga besar, sehingga sulit diterapkan untuk memantau wilayah laut yang sangat luas secara terus-menerus.

Penginderaan jauh melalui satelit berpotensi mengatasi sebagian keterbatasan tersebut. Jika hubungan antara konsentrasi mikroplastik dan perubahan spektrum pantulan cahaya bisa dibuktikan lebih lanjut, satelit dapat membantu mengidentifikasi area yang berpotensi mengalami akumulasi mikroplastik.

Meski begitu, teknologi ini belum bisa menggantikan pengukuran langsung. Perubahan warna laut dipengaruhi banyak faktor, sementara karakteristik perairan di tiap wilayah berbeda. Validasi melalui pengambilan sampel di lapangan tetap diperlukan agar perubahan spektrum cahaya tidak keliru ditafsirkan sebagai pencemaran plastik.

Bagi negara kepulauan seperti Indonesia, perkembangan metode pemantauan ini relevan. Dengan wilayah laut amat luas, ribuan pulau, serta ketergantungan warga terhadap sumber daya perikanan, pencemaran plastik merupakan ancaman yang perlu dipantau bukan hanya di kawasan pesisir, tetapi juga di perairan lepas.

Selama ini perhatian terhadap sampah plastik sering kali terpusat pada yang terlihat, seperti pantai yang dipenuhi kemasan, sungai yang tersumbat, atau satwa laut yang terjerat jaring. Padahal, sebagian besar masalah mungkin justru berlangsung dalam bentuk yang tidak kasatmata.

Mikroplastik tidak mudah dikumpulkan kembali setelah tersebar di lautan. Bahkan, teknologi pembersihan yang dikembangkan untuk mengangkat sampah plastik berukuran besar hampir tidak mungkin diterapkan untuk menyaring partikel-partikel mikroskopis dari kolom air dalam skala luas.

Karena itu, upaya mengatasi pencemaran plastik harus dimulai jauh sebelum sampah mencapai laut: mengurangi produksi dan konsumsi plastik yang tak perlu, memperbaiki sistem pengelolaan sampah, mencegah kebocoran dari daratan, serta mengendalikan sumber pencemaran dari aktivitas perikanan dan industri.

Lautan mungkin sedang memperlihatkan perubahan yang selama ini tak kita sadari. Jika perubahan warna biru dan hijau itu menjadi salah satu jejak akumulasi mikroplastik, maka satelit telah membantu kita membaca sesuatu yang selama ini tersembunyi di dalam air.

Namun kemampuan melihat pencemaran dari luar angkasa tidak otomatis menyelesaikan masalah di permukaan bumi. Kita mungkin segera bisa memetakan jejak plastik hingga ke tengah samudra, tapi pertanyaan jauh lebih mendasar, mengapa kita terus memproduksi dan membuang plastik jauh lebih cepat daripada kemampuan alam untuk menghadapinya?


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
ESDM Alihkan 137 Hektare Lahan Eks Tambang Batu Bara Senilai Rp70,68 Miliar ke Kopassus
• 13 jam laluidxchannel.com
thumb
Hasil Kualifikasi MotoGP Qatar 2026: Marco Bezzecchi Asapi Marc MArquez untuk Kunci Pole Position di Sirkuit Losail
• 13 jam lalutvonenews.com
thumb
RUU Perampasan Aset, Rencana Pembentukan Badan Khusus dan Pelajaran dari Inggris
• 22 jam lalukompas.id
thumb
Jepang Geger! 128 Bank Sempat Lumpuh, Nasabah Tak Bisa Tarik Uang
• 17 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
BIKE Siapkan Capex Rp5,6 Triliun Bidik Bisnis Data Center hingga Kawasan Industri
• 29 menit laluidxchannel.com
Berhasil disimpan.