Polres Mojokerto bersama Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) dan sejumlah pemangku kepentingan menggelar apel gelar pasukan untuk mengantisipasi bencana hidrometeorologi menjelang musim hujan 2026. Apel berlangsung di Lapangan Mapolres Mojokerto.
Apel dipimpin Kapolres Mojokerto AKBP Raden Erik Bangun Prakasa. Dalam apel tersebut, petugas juga memeriksa kesiapan sarana dan prasarana evakuasi, mulai dari kendaraan dinas, perahu karet, hingga perlengkapan penanggulangan bencana.
Dalam amanatnya, Raden Erik menyampaikan data kejadian bencana alam di Jawa Timur sepanjang 2026. Tercatat sebanyak 672 kejadian bencana yang mengakibatkan 28 orang meninggal dunia dan 55 orang luka-luka. Kerugian material akibat bencana tersebut mencapai Rp7,552 miliar.
"Data ini harus menjadi alarm bagi kita semua. 672 kejadian, 28 meninggal dunia, kerugian Rp7,5 miliar. Kita tidak boleh menganggap enteng bencana. Satu nyawa pun sangat berharga bagi kita," tegasnya.
Ia juga menyinggung prediksi BMKG mengenai musim hujan 2026-2027 yang diperkirakan datang lebih lambat, tetapi disertai potensi cuaca ekstrem di sejumlah wilayah, termasuk Jawa Timur.
Menurutnya, wilayah hukum Polres Mojokerto telah memasuki masa pancaroba sejak akhir Oktober 2026. Kondisi tersebut ditandai dengan hujan ringan hingga hujan disertai petir.
"BMKG sudah memprediksi musim hujan datang lebih lambat tapi potensi cuaca ekstrem meningkat. Kita sudah masuk pancaroba. Ini momentumnya kita siapkan semuanya, jangan sampai kita underestimate," ujarnya.
Untuk mengantisipasi dampak bencana, Kapolres menekankan tiga langkah utama yang harus dilakukan seluruh jajaran bersama para pemangku kepentingan.
Pertama, memetakan wilayah rawan bencana bersama instansi terkait. Kedua, memperkuat koordinasi dan jalur komunikasi antarlembaga. Ketiga, membentuk posko kesiapsiagaan agar setiap laporan masyarakat dapat ditindaklanjuti dengan cepat dan tepat.
"Saya perintahkan kepada seluruh jajaran agar melaksanakan pemetaan wilayah rawan bencana bersama stakeholder, memperkuat koordinasi dan jalur komunikasi serta membentuk posko kesiapsiagaan, sehingga setiap laporan dapat ditindaklanjuti secara cepat dan tepat," perintahnya.
Selain itu, ia meminta seluruh personel dipastikan dalam kondisi prima dan dilengkapi alat pelindung diri (APD). Menurutnya, keselamatan petugas sama pentingnya dengan keselamatan masyarakat yang dilindungi.
"Pastikan seluruh personel dalam kondisi prima serta dilengkapi APD, karena keselamatan petugas sama pentingnya dengan keselamatan masyarakat yang dilindungi. Jangan sampai kita menolong tapi kita justru menjadi korban," pesannya.
Kapolres juga meminta jajarannya mewaspadai potensi cuaca ekstrem, seperti angin kencang, petir, banjir, dan tanah longsor. Kewaspadaan khusus diminta di wilayah dataran tinggi, seperti Pacet, Trawas, dan Gondang, yang rawan longsor.
Ia menegaskan, penanggulangan bencana membutuhkan kerja sama seluruh instansi. Polri, TNI, pemerintah daerah, dan unsur masyarakat harus bersinergi untuk memberikan perlindungan serta pelayanan kepada warga.
"Negara harus hadir untuk memberikan perlindungan dan pelayanan kepada masyarakat. Kita sebagai representasi negara harus mampu menanggulangi dan meminimalisir dampak yang diakibatkan bencana. Kita semua tidak ingin ada yang menjadi korban," ungkapnya.
Ia pun mengingatkan seluruh personel agar menjalankan tugas kemanusiaan dengan penuh tanggung jawab, keikhlasan, dan profesionalisme.
"Jalankan tugas ini dengan penuh tanggung jawab, keikhlasan, dan profesionalisme. Kita hadir untuk melindungi masyarakat Mojokerto. Semoga Tuhan melindungi setiap langkah pengabdian kita," pungkasnya.
Apel gelar pasukan tersebut diharapkan dapat memperkuat kesiapsiagaan Kabupaten Mojokerto dalam menghadapi ancaman bencana hidrometeorologi, sekaligus meminimalkan risiko korban jiwa dan kerugian material.
Hadir dalam kegiatan tersebut Wakil Bupati Mojokerto dr. Muhammad Rizal Octavian, Wakil Ketua DPRD H. Arif Winarko, pejabat utama Polres Mojokerto, para kapolsek, serta perwakilan TNI, Kejaksaan Negeri Kabupaten Mojokerto, Satpol PP, BPBD, Dinas Kesehatan, Dinas Sosial, DPRKP2, Perhutani KPH Pasuruan, dan relawan PMI Kabupaten Mojokerto.




