Warisan budaya tak harus selalu hadir dalam bentuk yang lama. Di tangan para perajin, wastra tradisional, motif Nusantara, hingga ikon arsitektur daerah dapat menjelma menjadi blazer, tas, dompet, dan papercraft yang akrab dengan gaya hidup masyarakat urban.
Semangat itulah yang terasa di JAKCraft 2026. Menjelang siang, lantai dasar pusat perbelanjaan itu berubah menjadi pameran kecil yang dipenuhi produk perajin lokal. Warna-warni kain batik dan kerajinan tangan menggeser perhatian pengunjung yang lalu-lalang di antara deretan toko jenama besar. Di bawah atrium yang terang, berjajar sejumlah tenan yang masing-masing dilengkapi kain alas, patung peraga, dan lampu sorot kecil yang menerangi rak-rak pajangan.
Di salah satu tenan, kain tenun bermotif khas Jepara terpajang dengan gradasi warna yang harmonis. Benangnya tersusun rapi dan rapat hingga membentuk corak yang presisi. Seluruh produk yang dijajakan merupakan hasil ketelatenan para perajin Jepara yang mengerjakannya dengan keterampilan tangan.
“Seluruh produk di sini dipintal secara manual menggunakan alat tradisional, tidak pakai bantuan mesin,” ujar Rahma, penjaga tenan RA Tenun, saat ditemui Sabtu (7/11/2026).
Uniknya, kain tenun tradisional tersebut diolah menjadi busana yang modis. Salah satunya ialah blazer perempuan yang dipajang di depan tenan. Bagian panel dan lengannya terbuat dari kain tenun Sumba berwarna kuning cerah dengan potongan longgar. Siluetnya sederhana tetapi elegan, mudah dipadukan untuk beragam kode busana, baik formal maupun kasual.
Tak hanya itu, masih banyak pakaian kekinian lain yang menonjolkan keindahan wastra tradisional. Beberapa di antaranya ialah gamis, rompi, kemeja, hingga jaket bomber.
Dari busana hingga prakarya lokal, pemandangan tersebut terhampar dalam satu panggung JAKCraft 2026 di Mal Kota Kasablanka, Jakarta Selatan. Mengusung tema “Lifestyle, Culture, and Heritage”, acara ini digelar selama sepekan pada 2-8 November 2026.
Bazar produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) ini mempertemukan para pelaku usaha dari Jabodetabek. Mereka menjajakan beragam produk yang memadukan kekayaan Nusantara dengan nuansa modern sehingga terasa dekat dengan masyarakat perkotaan seperti Jakarta.
Sentuhan serupa juga terlihat di tenan Herviolet. Di sini, kain bercorak Nusantara dijahit menjadi tas dan dompet dengan model trendi. Panel kain bermotif Sumba Pahikung, songket Palembang, dan ulos dikombinasikan dengan material kulit sapi. Hasilnya, beragam tas dan dompet perempuan dengan karakter autentik dan tidak persis sama satu dengan yang lain.
Di balik tenan itu ada Heri Roe (53), pemilik Herviolet, yang merintis usahanya sejak 2010. Mulanya, ia tidak langsung memproduksi tas. Heri memulai usahanya dengan membuat perhiasan dari batu-batu alam. Seiring waktu, ia mulai membuat clutch atau tas tangan yang dikombinasikan dengan batu-batu tersebut.
Rupanya, minat konsumen terhadap tas buatannya jauh lebih besar. Melihat peluang tersebut, Heri pun memutuskan memfokuskan usahanya pada produksi tas yang berlanjut hingga sekarang.
Pilihan itu sejalan dengan kegemaran Heri terhadap hal-hal bernuansa etnik, khususnya kain tradisional Nusantara. Dari situ, ia terdorong menciptakan diversifikasi produk agar kain tradisional tidak hanya identik dengan pakaian, tetapi juga bisa diaplikasikan pada produk fungsional lain seperti tas.
Kain-kain yang digunakan dikirim langsung dari para perajin di daerah asal. Sementara itu, proses pemotongan dan penjahitan dilakukan di rumah produksi di Pamulang, Tangerang Selatan, Banten. Sebelum dipasarkan, tas-tas tersebut diperiksa terlebih dahulu jahitannya oleh bagian pengendalian mutu.
“Model tasnya banyak terinspirasi dari merek luar negeri maupun lokal. Tapi, tetap ditambahkan ciri khas dari kami sehingga membedakan dengan merek lain. Jadi pembeli langsung mengenali kalau ini produk keluaran kami,” cerita Heri saat ditemui Sabtu (7/11/2026).
Tas-tas tersebut sengaja didesain dengan bentuk modern yang disesuaikan dengan selera masyarakat urban. Heri berharap warga kota dan anak muda dapat memakai produk bernuansa tradisional untuk kegiatan sehari-hari dengan rasa bangga dan percaya diri.
Selain produk-produk fesyen, di sudut lain JAKCraft 2026 terdapat pula beragam kerajinan yang memadukan budaya Nusantara dengan kreativitas masa kini. Di tenan Ichinogami, kerajinan tersebut hadir dalam bentuk kertas.
Tampak rumah adat Toraja, rumah Bolon Batak Toba, Tugu Jogja, dan Jam Gadang Bukittinggi berdiri sebagai miniatur tiga dimensi. Bahannya menggunakan art paper 210 gram, lengkap dengan detail ukiran dan ornamennya. Sejumlah pengunjung yang lewat tertarik mampir dan mengamati detail-detail tersebut dari dekat.
Ichinogami menjual papercraft, yakni kertas berpola yang dapat dirakit menjadi figur. Setiap kemasan sudah memuat pola dan panduan pembuatan. Garis hitam digunting, garis putus-putus dilipat, sedangkan bagian bernomor direkatkan sesuai urutan hingga membentuk figur.
Pencetusnya, Rauf Raphanus (42), warga Jakarta Barat, ingin memperkenalkan budaya Indonesia kepada anak-anak melalui medium tiga dimensi. Melalui papercraft, mereka dapat mempelajari sekaligus melihat visualisasi tiga dimensi bangunan-bangunan bersejarah Indonesia secara nyata dan presisi, tidak sebatas dari gambar atau video.
“Selain itu, kami ingin mendorong anak-anak agar lebih kreatif, melatih kemampuan berpikir kreatif, memecahkan masalah, sekaligus meningkatkan kemampuan motorik mereka,” ujar Rauf, Sabtu (7/11/2026).
Tak hanya tempat dan bangunan ikonik Indonesia, Ichinogami juga memproduksi miniatur dalam berbagai wujud lain. Di antaranya terdapat seri hewan, transportasi, karakter kartun, hingga figur animasi populer Jepang.
Inspirasi awal Rauf muncul sejak kecil. Ayahnya kerap membawa majalah anak-anak sepulang dari perjalanan dinas. Majalah-majalah tersebut sering memuat bonus papercraft yang dapat dirakit.
Ketika duduk di bangku kuliah, Rauf menyadari bahwa model papercraft semacam itu dapat dirancang sendiri. Pemahaman tersebut mendorongnya mendirikan komunitas penghobi papercraft, tempat para anggotanya berbagi desain, cara merakit, hingga merawat hasil karya.
Ichinogami kemudian dirintis sejak 2015. Usaha tersebut dijalankan Rauf bersama istrinya, yang mengurus manajemen, klien, dan pemasaran, sedangkan Rauf menangani desain dan konsep. Hingga kini, usahanya berkembang dan telah menjalin kerja sama dengan sejumlah toko suvenir, seperti di Taman Mini, Sarinah, dan Ancol.
Kendati menjual kerajinan berbahan kertas, Rauf menaruh perhatian besar terhadap pelestarian lingkungan. Ia menegaskan bahwa seluruh bahan baku kini menggunakan kertas ramah lingkungan yang bersertifikat. “Kami tidak mau pakai kertas sembarangan,” ujarnya.
Kertas yang digunakan, kata Rauf, tidak berasal dari hutan yang dibabat. Produsennya menanam pohon di lahan khusus, memanennya setelah lima hingga enam tahun, lalu menanam kembali di lahan yang sama agar tidak menggunduli hutan.
Kepedulian tersebut berlanjut pada sisa produksi. Potongan kertas yang tidak terpakai, hasil cetak yang salah, hingga sisa lokakarya dikumpulkan dan didaur ulang menjadi kertas baru, lalu dibentuk kembali menjadi papercraft.
“Kami juga senantiasa mengajak konsumen untuk reuse dan recycle. Pembeli bisa menukar sepuluh kemasan kosong dengan satu papercraft baru, dan kemasan yang sudah ditukar akan ditandai sebagai barang pakai ulang,” tutur Rauf.
Melalui JAKCraft 2026, Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah (PPKUKM), Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda), dan Badan Pengurus Daerah Asosiasi Eksportir dan Produsen Handicraft Indonesia (BPD ASEPHI) Jakarta menghadirkan puluhan produk kriya dan kerajinan lokal dari anggota ASEPHI.
Acara ini diharapkan mampu memberikan kesempatan yang lebih luas bagi para perajin dan pelaku UMKM untuk memperkenalkan produk unggulan, memperluas jangkauan pasar, bertukar inspirasi, hingga membangun jejaring usaha. Pesan tersebut disampaikan Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Jakarta Hani Pramono pada acara pembukaan.
“Upaya melestarikan budaya tidak cukup hanya dengan mengenal dan mengaguminya. Kita juga perlu memberi ruang bagi para perajin untuk terus berkarya, sekaligus mendukung produk-produk lokal dengan cara menggunakan dan membelinya,” kata Hani, Senin (2/11/2026).





