Diserang Verbal, Mufli Hidayat Ungkap Alasan Kartu Merah Kontra Borneo

celebesmedia.id
2 jam lalu
Cover Berita

CELEBESMEDIA.ID, Makassar — Pemain muda PSM Makassar, Mufli Hidayat, akhirnya memberikan penjelasan terkait kartu merah yang diterimanya ketika menghadapi Borneo FC pada pekan kesembilan kompetisi Super League 2026/2027. 

Ia mengaku tersulut emosi akibat mendapat hinaan verbal yang menyerang pihak keluarga serta mendiang ayahnya sebelum insiden dengan Hugo Samir terjadi.

Peristiwa tersebut terjadi pada menit ke-66 jalannya pertandingan. Mufli harus diusir keluar lapangan lebih cepat setelah terlibat insiden sundulan kepala terhadap penyerang sayap Borneo FC, Hugo Samir.

Sebelum mengambil tindakan tegas, pengadil lapangan, wasit M Erfan Effendi, sempat meninjau insiden tersebut melalui fasilitas Video Assistant Referee (VAR). Selepas melihat tayangan ulang, wasit langsung menjatuhkan kartu merah kepada Mufli, yang tampak sangat emosional menyikapi putusan itu.

Seusai pertandingan, pesepak bola asal Bone tersebut langsung memberikan klarifikasi terbuka lewat fitur story di akun Instagram pribadinya. Pada awal pesannya, Mufli menyampaikan permintaan maaf secara terbuka kepada seluruh elemen klub dan suporter Juku Eja.

“Pertama-tama saya ingin menyampaikan permohonan maaf khususnya kepada tim dan seluruh pendukung PSM Makassar atas kartu merah yang sy terima pada pertandingan sore ini,” tulis Mufli dalam klarifikasinya, Sabtu (7/11).

Kendati demikian, Mufli membeberkan alasan di balik sikap emosionalnya di atas lapangan hijau. Ia menyebutkan bahwa dirinya menerima cercaan lisan yang dinilai sudah melampaui batas kewajaran dan menyerang kehormatan keluarganya.

l“Saya mendapat hinaan verbal (verbal abuse) yang menyerang nama baik keluarga saya, dengan menyinggung almarhum bapak saya dengan kata-kata yang sangat tidak pantas,” tulisnya.

Meski enggan menyebutkan secara spesifik siapa sosok yang melontarkan kalimat provokatif tersebut, Mufli menegaskan bahwa hinaan itu sudah jauh dari sekadar psywar dalam sebuah pertandingan sepak bola profesional.

Bagi Mufli, tensi tinggi, persaingan sengit, serta duel fisik di lapangan adalah hal yang lumrah. Namun, tindakan menyerang ranah pribadi dan keluarga sama sekali tidak bisa ditoleransi.

“Bagi saya, itu bukan lagi sekadar psywar atau provokasi dalam sepakbola. Tapi merupakan bentuk pelecehan terhadap keluarga dan melewati batas rasa hormat sebagai manusia dan pemain sepakbola profesional,” tulis Mufli.

Menutup pernyataannya, Mufli berpesan agar seluruh insan sepak bola senantiasa menjaga etika dan sikap saling menghargai. Ia mengingatkan bahwa rivalitas di atas lapangan tidak boleh merusak nilai-nilai kemanusiaan dan rasa hormat antarsesama pemain.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Udara Jakarta tak sehat bagi kelompok sensitif pada Minggu pagi
• 6 jam laluantaranews.com
thumb
PAM JAYA Sediakan Air Minum Gratis di 8 Kawasan Pedestrian Jakarta
• 33 menit laluviva.co.id
thumb
KRL Produksi INKA Rangkaian Kedelapan Siap Beroperasi Mulai 1 Desember 2026
• 21 jam lalukumparan.com
thumb
Hasil Seleksi Administrasi Uji Kompetensi BKN 2026, Ini Cara Cek dan Jadwal Ujiannya
• 23 jam lalumedcom.id
thumb
BULOG Raih Penghargaan Nasional, Bukti Nyata Keberhasilan Stabilisasi dan Distribusi Pangan
• 17 jam laluokezone.com
Berhasil disimpan.