Dua Pendaki Hilang di Gunung Semeru, Tim SAR Terkendala Erupsi

kompas.id
2 jam lalu
Cover Berita

Sampai Minggu (8/11/2026) siang, operasi pencarian dan pertolongan (SAR) belum mendapatkan kejelasan mengenai nasib dua pendaki asal Surabaya yang hilang di Gunung Semeru, Jawa Timur.

Operasi SAR sulit dilakukan secara maksimal karena Gunung Semeru masih erupsi dan berstatus Siaga atau Level III. Tim SAR mengoperasikan thermal drone atau drone termal untuk mendeteksi keberadaan manusia di kawasan rawan bencana.

Dua pendaki tersebut ialah Beryliyant Kusuma Wiraditama (19) dan Mochamad Wahyu Febriansyah (19). Dari penelusuran di media sosial Instagram, informasi orang hilang atas nama Beryliyant diunggah oleh Ikatan Keluarga Silat Putra Indonesia (IKSPI) Kera Sakti Ranting Tenggilis, Surabaya. Sementara informasi orang hilang atas nama Febriansyah diunggah oleh Universitas Hayam Wuruk Perbanas, Surabaya. Febriansyah diketahui berstatus mahasiswa Program Studi Manajemen angkatan 2025.

Kontak terakhir dengan kedua pendaki disebut terjadi pada Senin (2/11/2026) malam. Berdasarkan informasi terakhir tersebut, mereka diduga mendaki Gunung Semeru, yang memiliki ketinggian 3.676 meter di atas permukaan laut, melalui jalur Ayek-Ayek atau Ayak-Ayak di Ranu Pani, Lumajang.

Padahal, pendakian ke puncak tertinggi di Pulau Jawa itu telah ditutup sejak 26 Agustus 2026 oleh Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BBTNBTS) karena kebakaran hutan dan lahan serta peningkatan aktivitas vulkanik.

Baca JugaSejauh Apa Dampak Erupsi Semeru?

Informasi dari Resort Pengelolaan Taman Nasional (RPTN) Ranu Pani menyebutkan, kedua pendaki diduga telah tiba di Lumajang sejak 31 Oktober 2026. Mereka kemudian menyewa sepeda motor dari Terminal Lumajang dan menuju Ranu Pani. Namun, mereka kemudian mengetahui bahwa pendakian ke Gunung Semeru masih ditutup.

”Betul ada laporan orang hilang, tetapi kronologi belum ada karena tidak ada yang tahu mereka masuk,” kata Kepala Bagian Tata Usaha BBTNBTS Bambang Suryono.

Secara terpisah, Kepala Kantor SAR Banyuwangi I Made Oka Astawa mengatakan, pihaknya menerima laporan orang hilang di Gunung Semeru pada Sabtu (7/11/2026) petang. Laporan tersebut dibuat oleh Resort Pengelolaan Taman Nasional Ranu Pani. ”Kami menindaklanjuti dengan mengirim tim SAR,” kata Oka Astawa.

Tim yang dilibatkan berasal dari Kantor SAR Banyuwangi, Pos SAR Jember, BBTNBTS, Kepolisian Resor Kota Besar Surabaya, BPBD Kabupaten Lumajang, serta potensi SAR dan masyarakat Ranu Pani.

Oka Astawa melanjutkan, dari laporan tersebut diketahui bahwa Beryliyant dan Febriansyah sempat menghubungi keluarga dan kerabat terkait rencana mendaki Gunung Semeru.

Pada Jumat (6/11/2026), pemilik sepeda motor yang disewa kedua pendaki mendatangi Ranu Pani untuk mencari tahu keberadaan kendaraan tersebut. Bersama petugas RPTN Ranu Pani, mereka kemudian mencari kedua pendaki dan menemukan sepeda motor terparkir di ladang warga. ”Temuan sepeda motor itu menjadi salah satu petunjuk untuk operasi SAR,” kata Oka Astawa.

Hingga Minggu, nasib kedua pendaki masih belum diketahui dan keduanya masih dalam pencarian.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Lumajang Isnugroho mengatakan, aktivitas Gunung Semeru perlu terus diwaspadai. Masyarakat diminta mematuhi imbauan untuk tidak mendaki atau beraktivitas di area berbahaya, terutama kawasan yang berpotensi terdampak guguran awan panas dan aliran lahar.

Mengutip laman resmi magma.esdm.go.id, erupsi terkini Gunung Semeru terjadi pada Minggu pukul 08.40 WIB. Tinggi kolom letusan teramati sekitar 500 meter di atas puncak atau 4.176 meter di atas permukaan laut.

Kolom abu teramati berwarna kelabu dengan intensitas tebal mengarah ke barat daya dan barat. Erupsi terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 15 milimeter dan durasi 103 detik.

Baca JugaAwan Panas Semeru Meluncur hingga 4,5 Km, Warga Diminta Waspada

Letusan tersebut merupakan erupsi keempat pada Minggu pagi. Erupsi sebelumnya terjadi pada pukul 04.46 WIB, 05.04 WIB, dan 05.22 WIB. Tinggi kolom abu dalam rangkaian erupsi tersebut berkisar 300-500 meter di atas puncak.

Gunung Semeru masih tergolong aktif. Status Siaga mengindikasikan adanya potensi peningkatan aktivitas vulkanik yang perlu terus diwaspadai.

Masyarakat dilarang beraktivitas dalam radius 5 kilometer dari kawah atau puncak karena bahaya lontaran batu pijar. Aktivitas juga dilarang di sektor tenggara, terutama sepanjang Besuk Kobokan hingga jarak 13 kilometer dari puncak.

Masyarakat juga diminta tidak beraktivitas dalam jarak 500 meter dari tepi sempadan Besuk Kobokan. Terdapat potensi perluasan awan panas dan aliran lahar hingga jarak 17 kilometer dari puncak.

Selain itu, masyarakat perlu mewaspadai potensi awan panas, guguran lava, dan lahar di sepanjang sungai atau lembah yang berhulu di Gunung Semeru. Sejumlah aliran yang perlu diwaspadai antara lain Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat.

Potensi aliran lahar juga perlu diwaspadai di sungai-sungai kecil yang merupakan anak sungai dari aliran-aliran tersebut.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
5 Perusahaan RI Paling Banyak Operasikan Truk ODOL, Ini Namanya
• 8 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
OJK Serahkan Dua Petinggi Bank di Malang ke Jaksa, Dugaan Transaksi Bermasalah Capai Rp54,9 Miliar.
• 2 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Tingkatkan Keamanan Siber Kampus, CSIRT UNM Ikuti Workshop BSSN
• 20 jam lalurepublika.co.id
thumb
PLN Gelar Electric Run 2026 Gaungkan Transisi Energi
• 21 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Komite Palestina Serukan Gereja Dunia Bersama-sama Bantu Pengungsi Gaza
• 1 jam lalumetrotvnews.com
Berhasil disimpan.