Jakarta, CNBC Indonesia - Tren downgrade lifestyle atau menurunkan gaya hidup kini ramai dibicarakan masyarakat Indonesia, khususnya di media sosial. Kebiasaan mengurangi pengeluaran dan beralih ke produk yang lebih murah ini dinilai menjadi salah satu sinyal tekanan ekonomi yang dihadapi kelompok kelas menengah.
Pakar Perilaku Konsumen IPB University, Prof Megawati Simanjuntak mengatakan, perubahan gaya hidup tersebut tidak selalu didorong keinginan untuk berhemat, tetapi juga karena keterbatasan kondisi keuangan rumah tangga. Fenomena ini, kata ia, sebenarnya merupakan strategi bertahan hidup yang dikenal sebagai coping strategy atau strategi koping dalam ilmu keluarga dan konsumen.
"Dalam kajian ilmu keluarga dan konsumen, ini disebut strategi koping, yaitu cara keluarga menyesuaikan diri agar tetap bertahan. Berhemat dan mengganti produk dengan yang lebih murah merupakan bagian dari upaya tersebut, selain mencari tambahan penghasilan," ujar Megawati dalam keterangan resmi IPB University, dikutip Minggu (8/11/2026).
Ia bilang, ada dua hal menarik dari fenomena ini. Pertama, kebiasaan menurunkan gaya hidup kini banyak dilakukan kelompok kelas menengah yang selama ini dianggap relatif aman secara ekonomi. Kedua, masyarakat semakin terbuka membicarakan perubahan gaya hidup tersebut di media sosial, bahkan menjadikannya sebagai konten.
"Dulu, mengganti kopi kafe dengan kopi saset mungkin cukup disimpan sendiri. Sekarang, justru diceritakan," katanya.
Megawati menilai, fenomena downgrade lifestyle yang terjadi saat ini sebagian besar cenderung bukan sekadar pilihan untuk hidup sederhana, melainkan dipicu oleh keterpaksaan ekonomi. Pasalnya, pendapatan masyarakat tidak banyak meningkat, sementara harga kebutuhan sehari-hari terus mengalami kenaikan.
Ditambah lagi, kewajiban membayar cicilan membuat ruang keuangan rumah tangga semakin sempit.
"Dari luar, penghematannya tampak sama, padahal latarnya bisa berbeda. Jika dilakukan atas kesadaran mengelola keuangan, perilaku ini menjadi positif karena mengurangi tekanan gengsi berbelanja. Namun, jika karena daya tahan keuangan keluarga menipis, kondisi itu menjadi sinyal yang perlu diwaspadai," jelasnya.
Kondisi ini semakin rentan karena kelompok kelas menengah umumnya tidak banyak tersentuh bantuan sosial. Akibatnya, sebagian masyarakat berisiko mengalami penurunan kondisi ekonomi.
Selain tekanan pengeluaran, kekhawatiran terhadap pemutusan hubungan kerja (PHK) dan sulitnya mendapatkan pekerjaan turut membuat masyarakat memilih menahan belanja untuk menyiapkan dana cadangan.
Bisa Berdampak ke Ekonomi RI
Megawati mengingatkan, fenomena ini tidak hanya berdampak pada keuangan rumah tangga, tetapi juga berpotensi memengaruhi perekonomian nasional. Ketika kelas menengah semakin mengurangi pengeluaran, sejumlah sektor usaha seperti restoran, kafe, pusat perbelanjaan, fesyen, pariwisata, hiburan, otomotif, hingga properti berpotensi mengalami penurunan permintaan.
Dampaknya juga bisa menjalar ke pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang selama ini menyerap banyak tenaga kerja.
"Kondisi ini berisiko membentuk lingkaran yang saling memperlemah. Penurunan belanja dapat menekan pendapatan pekerja di sektor terkait. Ketika pendapatan mereka ikut menurun, pengeluaran rumah tangga kembali dikurangi sehingga konsumsi semakin melemah," ungkapnya.
Meski demikian, kebiasaan menurunkan gaya hidup juga memiliki sisi positif. Dalam jangka pendek, masyarakat dapat memperbaiki kondisi tabungan sekaligus beralih ke produk lokal yang lebih terjangkau.
Namun, apabila tren ini berlangsung dalam jangka panjang akibat tekanan ekonomi, konsumsi rumah tangga yang menjadi salah satu penopang perekonomian nasional berisiko melemah. Megawati bilang, apakah downgrade lifestyle akan menjadi kebiasaan baru masyarakat sangat bergantung pada kondisi ekonomi ke depan.
Jika tekanan ekonomi hanya bersifat sementara, masyarakat berpotensi kembali meningkatkan pengeluaran ketika kondisi membaik. Sebaliknya, jika pertumbuhan pendapatan terus tertinggal dari kenaikan biaya hidup, kebiasaan berhemat dapat berlangsung lebih lama.
"Jadi, ini bukan soal kelas menengah tidak mau belanja, tetapi soal kemampuan dan rasa aman. Kalau kita ingin konsumsi mereka pulih, kuncinya ada pada pemulihan daya beli dan kepercayaan terhadap kondisi ke depan, bukan sekadar mengajak mereka belanja lagi," tegasnya.
Oleh sebab itu Megawati menilai pemerintah perlu memastikan masyarakat menurunkan gaya hidup atas dasar pilihan sadar, bukan karena terpaksa menghadapi tekanan ekonomi.
"Untuk itu, daya beli dan kesempatan kerja yang baik tetap menjadi kunci," ujarnya.
(wur/wur)




