Jakarta, VIVA - Keputusan Denada menjalani operasi plastik Brazilian Butt Lift (BBL) di Turki ternyata bukan semata-mata demi mengejar penampilan ideal. Penyanyi tersebut mengaku ingin mengembalikan proporsi tubuhnya agar terlihat lebih harmonis setelah mengalami penurunan berat badan cukup banyak dalam beberapa tahun terakhir.
Denada menegaskan bahwa tindakan tersebut bukan dilakukan karena merasa minder atau tidak percaya diri dengan kondisi fisiknya. Ia hanya ingin merasa lebih nyaman dan bahagia dengan perubahan tubuh yang dialaminya seiring bertambahnya usia.
"Bukan insecure ya, tapi kepengin happy aja. Karena aku turun berat badan lumayan banyak dalam waktu berapa tahun terakhir ini, sehingga aku merasa sepertinya jadi kurang harmonis lagi bentuknya. Dan juga tentunya karena bertambahnya usia, banyak anggota tubuh kita yang pasti berubah, entah bentuknya, kekencangannya, dan lain sebagainya," ungkap Denada saat ditemui di kawasan Tendean, Mampang, Jakarta Selatan pada belum lama ini.
Denada mengungkapkan pengalaman tersebut saat ditemui di kawasan Tendean, Mampang, Jakarta Selatan. Ia menjelaskan bahwa prosedur BBL yang dijalaninya masih terbilang baru karena ketika kembali ke Indonesia, usia operasinya baru sekitar dua pekan.
"Ini umurnya baru dua minggu, aku baru aja balik dari Turki. Aku habis melakukan prosedur operasi plastik, namanya BBL atau Brazilian Butt Lift, operasi untuk daerah bokong dan pinggul," ungkapnya lagi.
Dalam prosedur tersebut, Denada tidak hanya menggunakan implan silikon. Ia juga menjalani tindakan pemindahan lemak tubuh untuk membantu membentuk area bokong dan pinggul.
Denada membeberkan bahwa implan yang digunakan memiliki ukuran 350 cc. Sementara itu, lemak tubuh turut dimasukkan pada bagian kanan, kiri, dan belakang bokong.
"Implannya 350 cc, tapi juga dimasukin body fat juga. Jadi body fat di sebelah kanan kiri, lalu di belakang juga dikasih body fat, tapi di belakang ada implannya 350 cc," jelasnya.
Sebelum menjalani operasi, Denada mengaku tidak terburu-buru menentukan tempat tindakan. Ia melakukan riset panjang karena memahami bahwa BBL termasuk prosedur bedah estetika yang memiliki risiko tinggi.





