Atik mengembuskan napas terakhir di Rumah Sakit Mayapada, Kota Tangerang, dalam usia 77 tahun setelah berjuang melawan sakit. Kepergian pelatih yang dikenal memiliki tangan dingin tersebut meninggalkan duka mendalam bagi keluarga besar bulu tangkis Indonesia.
Jenazah Atik Jauhari dimakamkan di pemakaman keluarga di Cipondoh, Kota Tangerang, pada Minggu siang. Prosesi pemakaman diberangkatkan dari rumah duka di Jalan Sukabakti VI No. 29, Kota Tangerang.
Almarhum meninggalkan seorang istri, Hj. Neng Titi, empat orang anak, serta lima cucu. Kabar meninggalnya Atik Jauhari dikonfirmasi Ketua Komunitas Bulu Tangkis Indonesia (KBI), Hariyanto Arbi.
"Betul, Kak Atik Jauhari wafat Minggu (8/11) pagi ini. Kami keluarga besar KBI ikut berduka cita dan merasa kehilangan dengan berpulangnya salah satu pahlawan bulu tangkis nasional tersebut," ujar Hariyanto Arbi. Pelatih Bertangan Dingin yang Bekerja dalam Senyap Di balik kesuksesan sejumlah pasangan ganda putra Indonesia di panggung dunia, terdapat sosok pelatih yang tidak selalu berada di bawah sorotan. Dialah Atik Jauhari. Atik dikenal sebagai pelatih yang tekun, ulet, dan memiliki insting tajam dalam membaca potensi pemain. Kemampuannya bukan hanya mengembangkan kualitas individu, tetapi juga menemukan kombinasi pasangan yang tepat sehingga mampu menghasilkan duet tangguh dan berprestasi.
Salah satu pemain yang merasakan langsung sentuhan kepelatihan Atik adalah Candra Wijaya. Peraih gelar juara dunia tersebut mengenang Atik sebagai sosok penting dalam perjalanan kariernya hingga mencapai level tertinggi bulu tangkis internasional.
"Saya turut berduka cita yang mendalam atas wafatnya Kak Atik. Kak Atik adalah pelatih bertangan dingin yang bekerja dalam senyap, ulet, tekun, dan memiliki instink tajam untuk melihat potensi masing-masing pemain dan kemudian bisa menyatukan menjadi pasangan ganda yang berprestasi. Berkat polesan Kak Atik, saya akhirnya bisa berprestasi di level dunia," kenang Candra Wijaya.
Atas dedikasi dan kontribusinya bagi bulu tangkis Indonesia, Atik Jauhari juga pernah menerima penghargaan sebagai Pelatih Terbaik 2023 versi Daihatsu Yonex-Sunrises Candra Wijaya International Badminton Centre (DYSCWIBC). Penghargaan tersebut menjadi salah satu bentuk pengakuan atas kiprah panjang dan pengabdiannya dalam membangun prestasi bulu tangkis nasional. Dari Pemain Nasional hingga Pelatih Timnas di Usia Muda Lahir di Bandung pada 14 Agustus 1949, perjalanan Atik Jauhari di dunia bulu tangkis dimulai sebagai pemain. Meski tidak mencatatkan prestasi fenomenal sebanyak yang kemudian diraihnya sebagai pelatih, Atik tetap memiliki sejumlah pencapaian selama aktif bermain.
Salah satunya adalah keberhasilannya bersama Christian Hadinata menjuarai Kejuaraan Nasional 1971 di Yogyakarta. Di level internasional, Atik juga pernah menjadi juara Belgia Terbuka 1973 bersama Tatat Budiman. Namun, namanya justru semakin bersinar ketika beralih profesi menjadi pelatih.
Setelah gantung raket, Atik dipercaya menangani tim nasional di Pelatnas PBSI pada usia yang masih sangat muda, sekitar 25 tahun. Sejak 1974 hingga 1999, dia menjadi bagian penting dari proses pembinaan pemain-pemain terbaik Indonesia.
Di tangannya, berbagai generasi pemain mendapatkan sentuhan pembinaan, mulai dari era Liem Swie King dan Bobby Ertanto hingga munculnya deretan pasangan ganda putra tangguh pada era 1990-an. Pengalaman panjang tersebut membentuk Atik menjadi salah satu pelatih yang disegani, bukan hanya di Indonesia, tetapi juga di dunia internasional. Meracik Ganda Putra Kelas Dunia Salah satu periode paling berkesan dalam karier kepelatihan Atik Jauhari adalah ketika dipercaya menangani sektor ganda putra Pelatnas PBSI bersama Christian Hadinata. Keduanya menjadi duet pelatih yang memiliki peran besar dalam membangun kekuatan ganda putra Indonesia.
Saat itu, Pelatnas PBSI dihuni banyak pemain berbakat, antara lain Eddy Hartono, Gunawan, Ricky Soebagdja, Rexy Mainaky, Imay Hendra, Bagus Setiadi, Denny Kantono, Antonius Budi Ariantho, Rudy Wijaya, Tony Gunawan, Candra Wijaya, hingga Sigit Budiarto.
Baca Juga :
Juara Dunia Bulu Tangkis Junior 2026, Atlet dan Pelatih PB Djarum Diguyur Bonus Rp200 JutaHasilnya luar biasa. Indonesia memiliki deretan pasangan ganda putra yang mampu bersaing dan mendominasi kejuaraan internasional. Salah satu hasil terbaik racikan Atik dan Christian adalah pasangan Ricky Soebagdja/Rexy Mainaky.
Ricky/Rexy menjelma menjadi salah satu pasangan ganda putra terbaik dunia. Puncaknya, mereka berhasil merebut medali emas Olimpiade Atlanta 1996, sebuah pencapaian bersejarah bagi bulu tangkis Indonesia. Keberhasilan tersebut tidak lepas dari peran besar Atik dan Christian dalam membentuk serta mengembangkan kualitas pasangan tersebut. Mengantarkan Candra/Sigit Juara Dunia dan Candra/Tony Menjuarai All England Bukan hanya Ricky/Rexy, tangan dingin Atik Jauhari juga berperan dalam kesuksesan pasangan-pasangan ganda putra Indonesia lainnya. Candra Wijaya/Sigit Budiarto menjadi salah satu bukti keberhasilan racikan kepelatihannya. Pasangan ini berhasil menjadi juara dunia pada Kejuaraan Dunia Bulu Tangkis 1997 di Glasgow, Skotlandia.
Atik juga memiliki kejelian dalam meramu pasangan baru. Salah satu contohnya adalah ketika Candra Wijaya dipasangkan dengan Tony Gunawan. Kombinasi tersebut terbukti berhasil. Candra/Tony sukses meraih gelar juara All England 1999.
Kemampuan Atik membaca karakter dan potensi pemain menjadi salah satu faktor penting di balik keberhasilan berbagai pasangan ganda putra Indonesia tersebut. Tidak berlebihan apabila namanya disebut sebagai salah satu arsitek penting kejayaan ganda putra Indonesia pada era 1990-an. Berperan dalam Tiga Gelar Piala Thomas Indonesia Kontribusi Atik Jauhari tidak berhenti pada keberhasilan pasangan-pasangan ganda putra. Sebagai bagian dari tim kepelatihan nasional, dia turut berperan dalam keberhasilan tim putra Indonesia mempertahankan supremasi bulu tangkis dunia.
Indonesia berhasil membawa pulang Piala Thomas pada 1994 di Jakarta, 1996, dan 1998 di Hong Kong. Keberhasilan tersebut semakin menegaskan besarnya kontribusi Atik dalam membangun kekuatan bulu tangkis Indonesia, khususnya sektor ganda putra. Di balik kemenangan para pemain di lapangan, terdapat kerja panjang seorang pelatih yang mengasah kemampuan, membangun kekompakan, serta menyiapkan strategi pertandingan. Mengembara ke Swedia, Thailand, dan India Setelah mengabdikan diri di Pelatnas PBSI selama 25 tahun, Atik Jauhari memutuskan melanjutkan perjalanan kariernya ke luar negeri. Pada 1999, dia menerima tantangan melatih tim bulu tangkis Swedia.
Selama lima tahun, Atik membagikan pengalaman dan ilmunya kepada pemain-pemain di negara tersebut hingga 2004. Setelah kembali ke Indonesia pada 2004, Atik tidak lama berada di Tanah Air.
Pada 2006, dia kembali mengembara ke luar negeri dengan menerima tugas sebagai pelatih di Thailand hingga 2008. Selanjutnya, pada periode 2009-2010, Atik melanjutkan kiprahnya sebagai pelatih bulu tangkis di India.
Pengalaman melatih di sejumlah negara tersebut menunjukkan bahwa kualitas dan kapasitas Atik Jauhari diakui secara internasional. Dia menjadi salah satu pelatih Indonesia yang ikut menyebarkan ilmu dan filosofi pembinaan bulu tangkis ke berbagai negara.
Dalam sebuah kesempatan, Atik pernah menyampaikan pandangannya bahwa semakin banyak pelatih Indonesia yang bekerja di luar negeri, semakin kuat pula citra Indonesia sebagai negara yang disegani dalam dunia bulu tangkis. Dia bahkan mengibaratkan kekuatan Indonesia di bulu tangkis seperti Brasil dalam sepak bola. Selamat Jalan, Atik Jauhari Kepergian Atik Jauhari bukan sekadar kehilangan seorang mantan pemain atau pelatih nasional. Indonesia kehilangan sosok penting yang ikut membangun fondasi kejayaan bulu tangkis, khususnya sektor ganda putra. Ricky/Rexy, Candra/Sigit, hingga Candra/Tony merupakan bagian dari warisan kepelatihannya yang akan selalu dikenang.
Atik mungkin tidak selalu mendapatkan sorotan sebesar para pemain yang berdiri di podium juara. Namun, sentuhan, ketekunan, dan kejeliannya dalam membentuk pasangan-pasangan hebat telah meninggalkan jejak yang tidak ternilai.
Namanya akan selalu menjadi bagian dari sejarah kejayaan bulu tangkis Indonesia. Selamat jalan, Atik Jauhari. Terima kasih atas dedikasi dan pengabdian panjang untuk bulu tangkis Indonesia.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
- URL Berhasil di Salin Dunia Bulu Tangkis Berduka, Pelatih Legendaris Atik Jauhari Meninggal Dunia Klik untuk baca: https://www.medcom.id/olahraga/bulutangkis/eN44AGwN-dunia-bulu-tangkis-berduka-pelatih-legendaris-atik-jauhari-meninggal-dunia
(ASM)





