Jakarta, VIVA - Di balik sosoknya yang dikenal berani melontarkan roasting pedas kepada tokoh publik, Kiky Saputri ternyata menyimpan pengalaman pahit yang membekas hingga sekarang. Komika tersebut mengaku mengalami trauma setelah melewati sejumlah peristiwa berat, termasuk keguguran dan operasi pengangkatan salah satu ovarium.
Pengalaman itu membuat Kiky mulai mempertimbangkan kembali pekerjaannya sebagai komika spesialis roasting. Ia bahkan memutuskan untuk mengurangi pekerjaan yang mengharuskannya terus memikirkan materi sindiran hingga larut malam.
Kiky mengungkapkan bahwa salah satu pengalaman yang paling membekas terjadi ketika dirinya mengalami keguguran. Saat itu, ia tengah sibuk mempersiapkan materi roasting untuk sejumlah tokoh politik. Kebiasaan begadang dan tekanan pekerjaan membuatnya merasa terus berada dalam kondisi stres.
"Ada trauma sendiri. Waktu Kiky keguguran pertama, janinnya di kuretase lalu dimasukin laboratorium. Dicek hormon kortisolnya tinggi (hormon stres)," kata Kiky Saputri, mengutip tayangan Youtube, Minggu (8/11/2026).
Ia kemudian menceritakan bagaimana tuntutan pekerjaannya sebagai roaster membuat pikirannya sulit beristirahat. Proses menyiapkan materi membutuhkan konsentrasi dan kreativitas, bahkan sering kali membuatnya terjaga sampai pagi.
"Nah, aku kan pekerjaannya roasting, jadi otaknya nggak berhenti berpikir. Aku kalau bikin materi roasting pasti begadang sampai pagi. Pas keguguran, aku lagi begadang roasting Pak Anies-Cak Imin, kemudian sebelumnya roasting Mas Gibran," kenangnya.
Beban yang dirasakan Kiky semakin berat setelah mengalami keguguran pada 6 Februari. Tidak lama berselang, tepatnya 7 Maret, ia harus menjalani operasi pengangkatan ovarium kiri sehingga kini hanya memiliki satu ovarium.
"Itu titik aku down, apalagi setelah keguguran 6 Februari lalu, tanggal 7 Maretnya aku operasi angkat ovarium kiri, jadi tinggal sebelah kanan. Jadi mentalku makin habis," jelas istri Muhammad Khairi itu.
Selain persoalan kesehatan, Kiky juga mengaku harus menghadapi tekanan dari publik akibat profesinya. Menurutnya, tidak sedikit orang yang salah memahami pekerjaan roasting hingga menganggap dirinya memiliki keberpihakan terhadap tokoh tertentu.
Padahal, ia menegaskan bahwa materi roasting dibuat berdasarkan permintaan pihak yang mengundangnya dan merupakan bagian dari pekerjaan profesional.





