Siswa SMA Sulap Tembang Macapat Jadi Cerita Perdamaian di Youth Storytelling Competition 2026

kumparan.com
1 jam lalu
Cover Berita

Tembang Macapat yang awalnya tak banyak dikenal oleh Rafa Alvarianto (16), ternyata dapat menjadi inspirasinya untuk menyusun cerita tentang perdamaian.

Siswa kelas XI SMA Al Irsyad Satya Islamic School, Bandung, itu mengolah filosofi tembang Jawa tersebut menjadi karya yang membawanya meraih juara pertama kategori Written Narrative tingkat SMA dalam kompetisi Youth Storytelling Competition for International School Students 2026.

Rafa bercerita sengaja mencari inspirasi dari budaya yang belum dikenalnya agar cerita yang dibuat tidak monoton. Memulai penelusurannya di internet, ia menemukan Tembang Macapat, yang kemudian dikembangkan menjadi alur cerita.

“Untuk brainstorming, saya kebetulan adalah orang yang tipikal suka cerita yang unik, jadi saya nggak mau yang monoton dan mainstream gitu. Jadi saya coba ulik lagi budaya apa sih yang saya belum kenal? Saya coba cari-cari di internet ternyata ada yang namanya Tembang Macapat,” kata Rafa saat ditemui kumparan di Gedung A Kemendikdasmen, Jakarta Pusat, Minggu (8/11).

Tembang Macapat merupakan tembang Jawa yang setiap pupuhnya memiliki makna filosofis. Rafa kemudian mengambil makna tersebut untuk menyusun cerita yang berangkat dari Maskumambang hingga Pocung.

“Tembang Macapat adalah kayak pupuh gitu, lagu-lagu Jawa yang di mana setiap pupuhnya itu memiliki arti filosofis tersendirinya. Nah, dari arti filosofis itu saya mengambil, mengubahnya menjadi sebuah alur cerita yang terstruktur dari Maskumambang atau bayi yang mengambang, sampai Pocung atau kematian,” tuturnya.

Dalam karya Written Narrative tersebut, Rafa mengangkat tema perdamaian dengan sudut pandang yang lebih kompleks, yakni hubungan antargenerasi. Ia menilai, konflik dan dendam yang terjadi pada satu generasi seharusnya tidak diwariskan kepada generasi berikutnya.

“Perdamaian itu harus dimulai dari generasi kita, untuk memikul segala permasalahan, segala dendam, permasalahan, untuk tidak dilanjutkan ke generasi selanjutnya, agar perdamaian terjadi di antara kita semua, tanpa melibatkan generasi selanjutnya yang tidak terlibat,” terang Rafa.

Untuk menyusun cerita tersebut, Rafa perlu mendalami budaya yang sebelumnya belum banyak ia ketahui. Ia mengaku terbantu oleh pencarian informasi di internet agar dapat memahami filosofi Tembang Macapat yang ingin diangkat.

“Kesulitannya sebenarnya adalah me-reach out lebih dalam tentang pelajaran budayanya. Dikarenakan ini juga saya awalnya nggak tahu apa-apa tentang pelajaran ini, tapi kan saya ingin mendalami ceritanya, jadi saya juga ada sedikit googling, ada bantuan dari internet, yang di mana itu membantu saya untuk membuat saya lebih tahu lebih dalam,” jelas Rafa.

Kendati mengalami proses yang menantang, Rafa menilai pengalaman tersebut membuatnya mengenal budaya baru. Ia juga merasa proses menyusun cerita menjadi menyenangkan hingga akhirnya berhasil meraih juara pertama.

“Dikarenakan aku juga awalnya nggak tahu bahwa aku bisa menulis cerita, aku coba aja dan aku memang tertarik dengan sesuatu hal yang unik jadi aku cobalah written narrative ini. Dan ternyata enjoyable dan bisa mendapatkan juara ini,” ungkap dia.

Rafa sendiri baru dua kali mengikuti Youth International Storytelling. Pada kompetisi tahun sebelumnya, ia berpartisipasi dalam kategori Film Narrative dan meraih juara harapan pertama. Tahun ini, ia mencoba kategori Written Narrative dan berhasil menjadi juara pertama.

“Actually, ini adalah tahun kedua aku mengikuti persis Youth International Storytelling. Di tahun sebelumnya aku mengikuti yang Film Narrative dan kala itu aku dapat juara harapan satu. Dan sekarang di tahun yang selanjutnya aku coba pindah cabang lomba, Written Narrative, dapat juara satu, Alhamdulillah,” ujar Rafa.

Saat ditanya mengenai kiat mengikuti kompetisi storytelling, Rafa mengajak siswa lain untuk berani mencoba.

“Tips dari saya sih, coba aja dulu ya. Karena siapa tahu kalian menemukan jati diri kalian selama proses ini,” ucapnya.

Selain mencoba hal baru, Rafa menekankan pentingnya mengenal budaya sendiri, termasuk bagi siswa yang bersekolah di lingkungan internasional.

“Jadi coba aja dulu dan jangan ngaret. Dan juga, perdalami budaya kalian. Walaupun kalian merasa kayak siswa international school atau apa, dan pokoknya perdalam aja budaya kalian,” tutup Rafa.

Karya Rafa menjadi salah satu contoh bagaimana peserta mengolah cerita melalui pendekatan kreatif dalam Youth Storytelling Competition for International School Students 2026. Kompetisi yang digelar Kementerian Kebudayaan itu mengusung tema “Stories for the World: Tolerance, Humanity, and Peace”.

Dalam kesempatan itu, Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengatakan, kompetisi tersebut menjadi salah satu upaya untuk menghidupkan kembali tradisi bertutur dan bercerita di kalangan generasi muda.

Menurut dia, tradisi tersebut merupakan bagian dari budaya Indonesia yang perlu terus dirawat dan dikembangkan.

“Nah, salah satu elemen yang ingin kita kedepankan sekarang ini adalah tradisi bertutur, tradisi bercerita, storytelling, yang juga merupakan budaya kita yang perlu kita rawat, kita lindungi, dan kita kembangkan, bahkan kita hidupkan, kita manfaatkan,” jelas Fadli dalam sambutannya di Gedung A Kemendikdasmen, Jakarta Pusat, Minggu (8/11).

Dia menilai, tradisi mendongeng yang dahulu banyak dilakukan orang tua kepada anak-anak kini semakin berkurang.

Karena itu, ia berharap kompetisi tersebut dapat menjadi platform untuk memperkenalkan cerita Indonesia kepada generasi muda, termasuk siswa sekolah internasional dan bilingual.

“Kalau dulu saya kira orang-orang tua kita banyak yang mendongeng bertutur kepada anak-anaknya, sekarang semakin sedikit, sehingga cerita-cerita rakyat mungkin banyak mendapatkan saingan dengan cerita-cerita lainnya,” terangnya.

Fadli juga menilai siswa sekolah internasional memiliki potensi untuk memperkenalkan cerita lokal dan nasional kepada dunia melalui kemampuan berbahasa yang mereka miliki.

“Nah kita harus memperkenalkan cerita-cerita lokal, cerita-cerita nasional. Saya pikir ini satu hal yang sangat strategis, apalagi adik-adik ini mempunyai keahlian, kemampuan berbahasa Inggris yang baik. Ini akan menjadi duta-duta budaya kita,” kata dia.

Youth Storytelling Competition for International School Students 2026 ini diikuti 765 peserta dari 25 provinsi. Fadli berharap kegiatan tersebut dapat menjadi agenda rutin dan menjangkau lebih banyak peserta pada penyelenggaraan berikutnya.

“Mudah-mudahan ke depan kegiatan ini bisa menjadi bagian dari kegiatan rutin, bahkan mungkin bisa kita perluas lagi jangkauannya, diperbesar lagi hadiahnya,” pungkasnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Dua Motor Hilang di Surabaya dan Jombang, Berikut Nomor Polisi dan Cirinya
• 22 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Fenomena Gen Z Ramai-Ramai Pakai HP Jadul, Ternyata Ini Alasannya
• 19 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Gunung Semeru Erupsi Beruntun 4 Kali Pagi Ini, Kolom Abu 500 Meter
• 9 jam lalurctiplus.com
thumb
Diserang Kapak di Masjid, Tiga Korban Penganiayaan Jalani Perawatan
• 1 jam laludetik.com
thumb
Polda Jateng Jamin Proyektil di Tubuh Bocah Kendal Bukan dari Senjata Organik Polri
• 19 jam lalurepublika.co.id
Berhasil disimpan.