Kuwu Sindang, Carnita (Kuwu Encang), merupakan sosok pelopor budi daya ayam petelur di desanya sejak 2023. Inisiatifnya menginspirasi desa-desa sekitar untuk menguji peruntungan di lini usaha yang sama.
Beberapa bulan terakhir, peternak ayam petelur di wilayah Sindang menghadapi berbagai masalah kenaikan biaya pakan dan anjloknya harga. Di saat harga pakan melambung tinggi di atas Rp330.000 per sak, harga jual telur justru merosot tajam di bawah kisaran ideal (Rp25.000–Rp28.000/kg).
Suhu udara yang tinggi di Indramayu pun memicu gangguan pernapasan dan risiko penyakit pada ternak. Ditambah hasil panen yang merosot mencapai sekitar 15%. Dari populasi 1.700–2.000 ekor ayam yang biasanya menghasilkan 1 kuintal (100 kg) telur per hari, kini hanya mencapai rata-rata 85 kg per hari.
Sebagai langkah pencegahan, para peternak rutin memberikan vitamin, menjaga imunitas dari virus, serta menyemprotkan disinfektan hayati (seperti EM4 atau ALK) saat suhu kandang memanas untuk mengurai bakteri dan menjaga pernapasan ayam.
Saat ini, total populasi ayam petelur di kawasan Embung Jangkar Desa Sindang, Kabupaten Indramayu, baik milik mandiri maupun BUMDes, mencapai hampir 3.000 ekor, dengan prioritas penjualan untuk memenuhi kebutuhan warga lokal.
Kuwu Encang mengapresiasi wacana intervensi pemerintah pusat melalui Kementan, Bapanas, Bulog, dan ID Food yang berencana menyerap hasil telur peternak senilai Rp30 miliar.
Kepastian harga beli dari pemerintah dinilai akan menjadi angin segar untuk menjamin margin usaha peternak kecil di tengah fluktuasi harga pasar.





