Konsumsi Rumah Tangga Melambat di Kuartal III-2026, Wamenko Dradjad: Faktor Musiman

idxchannel.com
8 jam lalu
Cover Berita

Pemerintah menepis kekhawatiran sejumlah pihak yang mengaitkan deselerasi konsumsi domestik dengan pelemahan daya beli masyarakat secara luas.

Konsumsi Rumah Tangga Melambat di Kuartal III-2026, Wamenko Dradjad: Faktor Musiman. Foto: iNews Media Group.

IDXChannel - Wakil Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Dradjad Hari Wibowo menegaskan tidak ada persoalan pada daya beli masyarakat, meskipun laju pertumbuhan konsumsi rumah tangga pada triwulan III-2026 tercatat sedikit melambat dibandingkan triwulan sebelumnya. 

Pemerintah menilai perlambatan tipis pada pos konsumsi tersebut murni dipengaruhi oleh faktor musiman pascaberakhirnya periode libur panjang sekolah dan keagamaan, bukan akibat penurunan kapasitas belanja masyarakat.

Baca Juga:
Pembiayaan Korporasi Tumbuh 21,3 Persen di September 2026, Jauh Lampaui Kredit Konsumsi

Pemerintah menepis kekhawatiran sejumlah pihak yang mengaitkan deselerasi konsumsi domestik dengan pelemahan daya beli masyarakat secara luas. Dia menilai aktivitas belanja rumah tangga tetap berada di zona ekspansi yang solid kendati ritmenya melambat.

"Konsumsi rumah tangga enggak turun, konsumsi rumah tangga tetap naik. Tetap naik, tapi pertumbuhannya memang agak sedikit lebih kecil karena apa? Karena liburannya sudah habis. Jadi tiap liburan itu konsumsi selalu naik," ujar Wakil Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Dradjad Hari Wibowo saat ditemui di Sarinah Jakarta, Minggu (8/11/2026).

Baca Juga:
BI Proyeksikan Ekonomi Aceh 2026 Tumbuh 4,6 Persen Ditopang Konsumsi dan Investasi

Dradjad memaparkan fenomena yang berlangsung saat ini bukanlah penurunan daya beli, melainkan pergeseran alokasi belanja masyarakat menuju sektor transportasi, komunikasi, serta pariwisata dan perhotelan. Dinamika tersebut dinilai membuktikan bahwa kapasitas finansial masyarakat tetap terjaga kokoh di tengah narasi perlambatan ekonomi.

"Kenapa kita tumbuh sangat bagus? Karena ternyata daya beli masyarakat yang selama ini tuh dinarasikan lemah, itu enggak betul. Ternyata daya beli masyarakat kita tuh sangat bagus, sangat tinggi, hanya bergeser," ujar Dradjad.

Baca Juga:
Ada Perubahan Pola Konsumsi Masyarakat, Ini Sektor yang Menarik Dicermati Investor

Kekuatan konsumsi domestik tersebut turut mengerek laju pertumbuhan ekonomi nasional melampaui kinerja mayoritas negara mitra global. Capaian ini menempatkan Indonesia di jajaran teratas dalam peta pemulihan ekonomi internasional di antara negara-negara anggota G20.

"Pertumbuhan kita itu tertinggi kedua dari anggota G20 setelah India. Jadi pertumbuhan kita mengalahkan China. Selama ini orang kan selalu memakai China sebagai patokan. Kita sudah tumbuh lebih tinggi dari China, lebih tinggi dari Korea Selatan. China 4,5 persen, Korea Selatan 3,4 persen, Jerman 1,2, Jepang 0,7 persen," tutur Dradjad.

Berdasarkan data resmi Badan Pusat Statistik (BPS), ekonomi Indonesia pada triwulan III-2026 mencatatkan pertumbuhan sebesar 5,47 persen secara tahunan (year-on-year/YoY), melaju lebih tinggi dibandingkan capaian triwulan II-2026 yang sebesar 5,29 persen maupun triwulan III-2025 sebesar 5,04 persen.

Pengeluaran konsumsi rumah tangga masih menjadi motor penggerak utama pertumbuhan nasional dengan porsi mencapai 51,97 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) serta memberikan andil sebesar 2,62 persen terhadap pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan.

Selain konsumsi rumah tangga yang tumbuh 5,04 persen, akselerasi ekonomi nasional pada periode ini turut ditopang oleh Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) atau investasi yang melesat 6,06 persen dengan kontribusi 30,81 persen terhadap PDB, konsumsi pemerintah yang tumbuh 8,95 persen, serta lonjakan aktivitas masyarakat pada kelompok restoran dan hotel sebesar 6,59 persen dan sektor transportasi-komunikasi sebesar 5,83 persen.

Kendati pemerintah memandang positif kondisi perekonomian, Direktur Ekonomi Center of Economic and Law Studies (Celios), Nailul Huda menekankan agar pengambil kebijakan tetap mewaspadai tren deselerasi konsumsi domestik. Catatan statistik kuartalan menunjukkan adanya penurunan kecepatan belanja masyarakat pada kuartal ketiga bila dikomparasikan dengan kuartal sebelumnya.

"Konsumsi rumah tangga (RT) di triwulan III-2026 mengalami perlambatan dibandingkan triwulan II-2026. Pertumbuhan konsumsi RT triwulan II-2026 sebesar 5,06 persen, sedangkan pertumbuhan konsumsi RT triwulan III 2026 menjadi 5,04 persen," kata Huda dalam analisisnya, dikutip Minggu (8/11/2026).

Dia mengingatkan bahwa dominasi konsumsi rumah tangga yang mencakup lebih dari separuh PDB nasional memiliki dampak sistemik terhadap keberlanjutan pertumbuhan ekonomi jangka panjang. Ia membandingkan pergerakan kuartalan saat ini dengan pola historis tahun sebelumnya ketika perlambatan belanja masyarakat langsung berdampak pada penurunan laju PDB.

"Memang dibandingkan pertumbuhan konsumsi RT triwulan III-2025, angka saat ini lebih tinggi, namun pada saat itu pertumbuhan ekonomi juga melambat dari 5,12 persen (triwulan II-2025) menjadi 5,04 persen (triwulan III-2025). Dengan kontribusi lebih dari 50 persen, perlambatan konsumsi RT seharusnya menyeret pertumbuhan ekonomi secara total," kata Huda.

(NIA DEVIYANA)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Ketua Fraksi MPR PAN Soroti soal Usulan Pemakzulan Gibran
• 7 jam lalurctiplus.com
thumb
Navigator Helikopter BNPB yang Jatuh di Sungai Barito Ditemukan Tewas
• 7 jam laluviva.co.id
thumb
NasDem Bugar Berbagi, Sahroni: Perayaan Ini Harus Dirasakan oleh Semua Kalangan
• 2 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Bali United Pesta Gol ke Gawang Persik
• 1 jam lalumetrotvnews.com
thumb
HSU Perkuat SDM PKH Demi Percepat Pengentasan Kemiskinan
• 1 jam lalurepublika.co.id
Berhasil disimpan.