ISTANBUL, KOMPAS.TV - Kepolisian Brasil menyelidiki dugaan keterlibatan jaringan agen dari Amerika Serikat (AS), Argentina, dan Israel dalam membantu pelarian politikus Flavio Bolsonaro setelah kalah dalam pemilihan presiden (pilpres) pada Oktober lalu.
Laporan The Washington Post, Sabtu (7/11/2026), yang mengutip seorang pejabat senior Brasil, menyebut mantan agen intelijen Israel, Mossad, terlihat mengawal kendaraan yang ditumpangi Flavio Bolsonaro menuju perbatasan Brasil dan Argentina.
Sementara itu, dalam wawancara dengan The Washington Post, Bolsonaro menolak mengungkapkan detail perjalanan yang membawanya meninggalkan Brasil.
"Saya tidak akan pernah berbicara mengenai jalur yang saya tempuh," katanya.
Dia juga menolak menjawab pertanyaan mengenai dugaan keterlibatan pejabat AS yang membantunya meninggalkan Brasil.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio membantah keterlibatan pemerintah AS. Rubio mengatakan negaranya tidak terlibat langsung dalam proses tersebut.
Seperti dikutip dari Antara, Bolsonaro mengatakan dirinya mencari suaka di AS karena menilai lembaga-lembaga demokrasi di Brasil tidak lagi berfungsi dengan baik. Dia khawatir ditangkap hanya karena menyampaikan pandangan politiknya.
Baca Juga: Menlu AS Bantah Fasilitasi Flavio Bolsonaro Kabur dari Brasil usai Kalah Pemilu
"Lembaga-lembaga di AS masih berfungsi. Sementara di Brasil, lembaga-lembaga tersebut tidak lagi berjalan," ujarnya.
Dia juga mengklaim Presiden AS Donald Trump memiliki pandangan serupa mengenai situasi politik Brasil.
"Trump yakin bahwa Brasil bukan lagi negara yang sepenuhnya demokratis," katanya.
Politikus sayap kanan Brasil itu berulang kali mempertanyakan integritas pemilu tanpa memberikan bukti. Dia juga membantah pernyataan otoritas pemilu Brasil yang menyebut pemungutan suara berlangsung adil.
"Saya yakin dia (ketua Mahkamah Pemilu Brasil) tidak tahu apa yang dia bicarakan. Baik saya, Anda, siapa pun yang menonton, maupun ketua Mahkamah Pemilihan Umum Brasil tidak dapat mengatakan dengan kepastian 100 persen bahwa tidak ada kecurangan," kata Bolsonaro.
Bolsonaro juga menceritakan kondisi ayahnya, mantan Presiden Brasil Jair Bolsonaro, sebelum meninggalkan negara tersebut.
Menurutnya, sang ayah merasa sangat ketakutan setelah Hakim Mahkamah Agung Alexandre de Moraes memerintahkannya menyerahkan paspor di tengah penyelidikan kasus pencucian uang.
Baca Juga: Lula Menang Pilpres Brasil, Flavio Bolsonaro Minta Hasil Dibatalkan
Dalam percakapan terakhir sebelum keberangkatannya, Flavio mengatakan ayahnya menatapnya dengan mata berkaca-kaca dan menyebut bahwa putranya sudah mengetahui ke mana harus pergi.
"Saya mengatakan kepadanya bahwa saya tahu dan bahwa saya tahu apa yang harus saya lakukan," katanya.
Jair Bolsonaro sebelumnya dinyatakan bersalah dan dijatuhi hukuman 27 tahun penjara oleh pengadilan Brasil atas dakwaan merencanakan kudeta setelah kalah dalam Pemilu Brasil 2022.
Sementara itu, kepolisian Brasil mengaku hampir tidak memiliki harapan untuk memulangkan Flavio Bolsonaro dari AS. Seorang pejabat keamanan senior bahkan menyebut peluang untuk menangkapnya "nol".
Download KompasTV Apps di TV kamu, sekarang juga di https://app.kompas.tv/. Satu apps untuk semua Video Premium, Breaking News, dan Live Streaming 24/7 dari Kompas Gramedia.
Penulis : Tussie Ayu Editor : Desy-Afrianti
Sumber : ANTARA, Anadolu
- flavio
- bolsonaro
- brasil
- pelarian





