CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Hujan deras disertai angin kencang menerjang Jalur Gaza sejak Jumat malam, menyebabkan sedikitnya 70.000 tenda pengungsi terendam banjir. Peristiwa ini memaksa ribuan keluarga kehilangan tempat berlindung di tengah terbatasnya sarana penanganan darurat.
Pemerintah Gaza mengestimasi kerugian awal akibat badai mencapai 3 juta dolar AS. Cuaca ekstrem tersebut juga merobohkan puluhan dinding bangunan. Sumber medis melaporkan lima warga Palestina mengalami luka-luka akibat tertimpa reruntuhan tembok yang sebelumnya telah rusak diserang Israel.
Juru bicara Pemerintah Gaza City, Hosni Muhanna, mengungkapkan bahwa cuaca buruk ini semakin memperberat kondisi pengungsi yang tidak memiliki alternatif tempat tinggal. Saat ini, sekitar satu juta jiwa berdesakan di area yang hanya mencakup 30 persen dari luas Gaza City.
Dalam kurun 12 jam, curah hujan di Kota Gaza menembus 60 milimeter atau setara 15 persen dari total curah tahunan. Cuaca ekstrem membuat angin kencang merobek serta menerbangkan tempat bernaung warga, sementara banjir meluap di area penampungan.
Petugas kewalahan merespons sekitar 250 laporan terkait jalan terendam, erosi, dan krisis saluran air. Muhanna menegaskan, sekitar 270 lokasi pengungsian di Gaza City terancam banjir parah karena kapasitas drainase menyusut hingga 20 persen akibat kerusakan perang.
Ia mendesak pembukaan penuh pintu perlintasan agar pasokan kebutuhan musim dingin, bantuan kemanusiaan, serta alat berat dapat segera masuk ke Jalur Gaza.
Kondisi darurat serupa disampaikan Direktur Hubungan Masyarakat Badan Pertahanan Sipil Gaza, Abdullah al-Majdalawi. Pihaknya menerima ratusan panggilan darurat mengenai kamp yang terendam serta bangunan yang hampir roboh. Tim penyelamat hanya mampu menanggulangi ancaman jiwa secara mendesak tanpa bisa menyediakan hunian pengganti.
"Kami mendatangi warga dan mendapati seluruh kamp terendam banjir, termasuk tenda, penghuninya, perabotan, dan tempat tidur mereka," kata al-Majdalawi. "Kami tidak berdaya menghadapi kenyataan tragis dan sulit di Gaza ini."
Menurut al-Majdalawi, ribuan keluarga terpaksa bertahan di ruang terbuka akibat blokade Israel serta pembatasan masuknya bahan bangunan dan rumah prefabrikasi.
Krisis tempat bernaung ini mempertegas laporan Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) yang mencatat 1,98 juta jiwa atau 94 persen populasi Gaza membutuhkan tempat tinggal dan pasokan pokok. Sebanyak 58 persen di antaranya berada dalam status kebutuhan kritis hingga katastrofik.
Sebelumnya, Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) juga memperingatkan bahwa 950.000 warga Gaza menempati zona berisiko banjir sedang hingga tinggi, dengan lebih dari 400.000 orang berada di kawasan paling rawan.
Dampak agresi Israel yang menghancurkan infrastruktur sejak Oktober 2023 terus menyulitkan warga. Meski gencatan senjata telah berlangsung sejak Oktober 2025, proses rekonstruksi dan penyediaan hunian layak masih terhambat akibat pembatasan akses bahan bangunan oleh pihak Israel.
Sumber: Anadolu/Antara




