Pemprov Jabar atur izin perumahan sesuai risiko bencana dan tata ruang

antaranews.com
1 jam lalu
Cover Berita
Majalengka (ANTARA) - Pemerintah Provinsi Jawa Barat (Pemprov Jabar) mengatur penerbitan izin pembangunan perumahan di wilayahnya, berdasarkan risiko bencana dan kesesuaian tata ruang untuk menjaga keselamatan masyarakat sekaligus memastikan sektor properti tetap berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi daerah.

Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Jabar Herman Suryatman mengatakan kebijakan tersebut memberikan ruang bagi pembangunan perumahan di kawasan aman, sementara lokasi rawan banjir dan longsor harus melalui pembatasan ketat.

"Pak Gubernur menyampaikan bahwa bagi perumahan yang ada risiko banjir, ada risiko longsor jangan diberikan izin karena akan berdampak terhadap keselamatan masyarakat," kata Herman saat ditemui di Majalengka, Jabar, Minggu.

Ia menjelaskan kebijakan moratorium perumahan tidak dimaksudkan untuk menghentikan seluruh aktivitas pembangunan, melainkan mengarahkan pengembangan hunian agar memperhatikan kondisi lingkungan dan potensi bencana.

Baca juga: PKP catat realisasi KUR perumahan per 31 Oktober capai Rp29,1 triliun

Pemerintah kabupaten/kota, kata dia, tetap memiliki kewenangan memproses perizinan perumahan di wilayah yang tidak memiliki risiko banjir maupun longsor serta sesuai dengan ketentuan tata ruang.

"Pak Gubernur memberikan koridor saja. Bagi perumahan-perumahan yang tidak ada risiko banjir, risiko longsor, saya kira kabupaten/kota punya otoritas untuk menindaklanjuti," ujarnya.

Ia menyampaikan sebagai pedoman pelaksanaan, Gubernur Jabar Dedi Mulyadi telah menerbitkan surat edaran kepada pemerintah kabupaten/kota mengenai pengendalian pembangunan perumahan berdasarkan kondisi wilayah.

Herman mengatakan, Pemprov Jabar pun mengawasi pelaksanaan kebijakan tersebut untuk memastikan pembangunan di daerah berjalan sesuai arahan pemerintah pusat dan ketentuan keselamatan.

Baca juga: Menteri PKP siap bantu Kampung Bahari lewat program perumahan

Menurut dia, sektor perumahan tetap memiliki potensi ekonomi besar karena kegiatan pembangunan melibatkan tenaga kerja serta berbagai jenis usaha penyedia material bangunan.

Ia memperkirakan pembangunan satu unit rumah melibatkan sedikitnya tiga orang, belum termasuk rantai pasok bahan bangunan yang mencakup ratusan jenis usaha.

Ia berharap pengaturan perizinan berdasarkan risiko wilayah dapat menjaga keseimbangan antara pertumbuhan industri perumahan, kelestarian lingkungan, dan perlindungan keselamatan masyarakat.

"Sektor perumahan sektor potensial harus dipacu, tetapi jangan mengorbankan lingkungan, jangan mengorbankan keselamatan masyarakat," ucap dia.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Mentan Amran Tindak Lanjuti 340 Aduan Masyarakat, Ancam Tindak Tegas Mafia Pangan
• 6 jam lalupantau.com
thumb
Banjir Bandang di Aceh: Jembatan Gantung Darurat Rusak, 5 Rumah Hanyut | SAPA MALAM
• 5 jam lalukompas.tv
thumb
Tepis Isu Munaslub, Golkar Papua Tengah Tegaskan Dukungan ke Bahlil
• 10 jam lalukumparan.com
thumb
Imbas Kemarau Panjang, Harga Cabai Rawit di Bangka Tembus Rp120 Ribu/Kg
• 18 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Sekjen DPD Sambut Para Finalis DPD RI Awards: Inovasi dari Daerah Percikan Harapan
• 6 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.