REPUBLIKA.CO.ID, SEMARANG, – Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti menegaskan bahwa wayang merupakan warisan kebudayaan tradisional yang mewariskan pelajaran hidup yang tetap relevan bagi setiap generasi. Hal itu disampaikannya saat membuka Festival Wayang Semesta 2026 di Lapangan Pancasila, Simpang Lima, Semarang, Minggu malam.
Menurut Agustina, wayang adalah kekayaan peradaban yang menceritakan karakter manusia dan kehidupannya. Ia menilai, inti dari cerita tersebut secara garis besar tidak berubah meskipun zaman terus berganti.
"Wayang ada adalah kekayaan peradaban kita," katanya. Di dalam setiap lakon maupun tokoh pewayangan, tersimpan kisah tentang kehidupan, seperti kebijaksanaan, kepemimpinan, keberanian, dan nilai-nilai kemanusiaan.
Agustina menganalogikan bahwa masyarakat sejak dulu kerap diperlambangkan atau di-'condro' ke dalam tokoh wayang. "Dulu dan sekarang, watak, karakter, kejadian, keinginan, emosi sama," ujarnya menjelaskan relevansi nilai-nilai tersebut.
Kolaborasi Tiga Legenda Wayang Orang
Festival Wayang Semesta 2026 menampilkan kolaborasi spektakuler dari tiga legenda wayang orang dalam satu panggung. Mereka membawakan lakon bertajuk "Sekar Mustika".
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Ketiga kelompok yang tampil dalam pementasan utama tersebut adalah Wayang Orang Ngesti Pandowo dari Semarang, Wayang Orang Sriwedari dari Solo, dan Wayang Orang Bharata dari Jakarta.
"Saya memberikan penghormatan yang luar biasa kepada seluruh seniman dan pengelola tiga kelompok karena sudah bertemu dan mempertemukan sesuatu untuk bisa dinikmati," ungkap Agustina.
Selain pementasan kolosal wayang orang, festival ini juga menghadirkan Wayang Potehi Tek Gie Hien, pertunjukan wayang kulit oleh dalang cilik, serta penampilan penari dari Akademi Wayang Semarang. Acara semakin meriah dengan hiburan dari penyanyi Nugraha Pawestri, OM Syalala, Vaganza Band, dan bintang tamu nasional Gilang Dirga.
Dorong Pariwisata dan Ekonomi Kreatif
Agustina menegaskan komitmennya untuk terus mempertahankan Festival Wayang Semesta agar wayang tetap hidup di tengah masyarakat. Ia menilai festival ini memiliki arti penting bagi pengembangan pariwisata dan ekonomi kreatif Kota Semarang.
Penyelenggaraan festival di kawasan Simpang Lima yang gratis bagi masyarakat dinilai mampu memperkuat daya tarik kota sebagai destinasi wisata. "Tahun 2027 akan semakin banyak kita mengadakan acara. Kalau ada acara, ada UMKM yang tumbuh. Apalagi kalau gratis, pertunjukannya gratis, UMKM-nya pasti akan sangat banyak," jelasnya.
Melalui cara tersebut, pementasan wayang tidak hanya dilestarikan, tetapi juga menghidupkan roda perekonomian. "Kita dapat menghidupi para seniman wayang di dalam kehidupan perdagangan jasa dan proses perekonomian Kota Semarang yang terus tumbuh ini," pungkas Agustina.