Skandal Ceker Ayam Oplosan Berakhir Pilu

kumparan.com • 2 jam yang lalu
Cover Berita

Kisah kakek di UGD hanyalah pemanasan. Di minggu-minggu berikutnya, Fitrah semakin terasah. Naluri hukumnya yang tajam kini berpadu dengan kelincahan jurnalistiknya yang out of the box. Bos Top, redaktur berwajah datar bak papan setrika yang diam-diam kagum pada keanehan pendekatan Fitrah, mulai memberinya tugas yang lebih "menantang".

Suatu malam, Fitrah sedang dalam perjalanan pulang setelah meliput festival layang-layang—tugas terbaru Bos Top yang absurd, di mana Fitrah malah berhasil mewawancarai seorang bapak yang meratapi nasib layang-layangnya yang putus karena dianggap anak hilang. Tiba-tiba, ponselnya berdering. Nama Bos Top muncul di layar, diiringi ringtone lagu dangdut koplo yang memekakkan telinga.

"Ke UGD RS Pusat Kota sekarang," suara datar Bos Top terdengar tegang, kontras dengan ringtone-nya. "Ada kasus keracunan massal. Diduga dari katering acara wali kota. Cepat! Kali ini harus netesin air mata sambil tertawa terbahak-bahak, no excuse!"

Ini dia! Korupsi kelas kakap yang sesungguhnya! Pikir Fitrah, adrenalinnya terpacu. Dia putar balik mobilnya dan tancap gas, nyaris menyerempet seekor kucing hitam—dejavu dengan Meonggar—sebelum sadar itu cuma bayangan dari knalpot truk.

Setibanya di UGD RS Pusat Kota, suasananya jauh lebih kacau dari UGD Mitra Keluarga Waras. Brankar-brankar pasien membanjiri koridor, mirip parkiran motor saat lebaran. Aroma muntah dan disinfektan bercampur aduk, menciptakan parfum terburuk yang pernah dicium Fitrah, mengalahkan bau jengkol rendaman di kantor Bos Top. Media lain sudah berkerumunan di lobi, berebut pernyataan resmi dari pihak rumah sakit yang terus menghindar, tampak seperti sekumpulan piranha kelaparan yang berebut cacing.

Fitrah tahu, jika dia ikut berkerumunan, dia hanya akan mendapatkan remah-remah informasi yang sama basi dengan opor ayam yang dikonsumsi korban. Dia butuh sesuatu yang eksklusif, sesuatu yang out of the box, atau lebih tepatnya, di luar nalar.

Menggunakan keahliannya menghindari keramaian—dan mungkin juga menghindari bau—dia menyelinap ke area yang sedikit lebih tenang, dekat ruang tunggu keluarga. Di sana, dia melihat seorang pria paruh baya dengan setelan jas rapi tapi kusut, mondar-mondir sambil sesekali mengacak rambutnya yang mulai memutihkan. Wajahnya pucat pasi, bukan karena sakit, tapi karena panik level dewa yang siap pingsan kapan saja.

"Ini bukan korban biasa," naluri Fitrah, yang kini setajam silet, berteriak.

Fitrah mendekat dengan langkah santai namun pasti, seolah-olah ingin menanyakan alamat. "Permisi, Bapak terlihat cemas. Apakah ada keluarga yang menjadi korban? Mungkin saya bisa bantu?"

Pria itu menoleh, matanya merah dan berkaca-kaca, nyaris menangis bombay. "Iya, istri dan anak saya ada di dalam. Mereka parah sekali, Mas! Gara-gara opor ayam sialan itu!"

Opor ayam? Fitrah menahan tawa geli. Dari korupsi kelas kakap jadi opor ayam? Sungguh tragis-komedi.

"Turut prihatin, Pak," Fitrah memasang wajah paling simpatik yang dia punya, teringat ekspresi dosennya saat memberikan nilai C+. "Boleh saya tahu nama Bapak? Kami dari media, ingin memastikan semua korban—terutama yang keracunan opor—mendapatkan penanganan terbaik."

Pria itu ragu sejenak, tapi kekhawatiran yang mendalam mengalahkan kehati-hatiannya. "Nama saya Bima. Bima Wicaksono."

Bima Wicaksono? Otak cerdas Fitrah langsung menyala, secepat koneksi wifi gratis di kafe. Bima Wicaksono adalah pemilik PT Boga Lidah Pasrah, perusahaan katering terbesar di kota itu, yang kebetulan juga pemenang tender katering untuk acara wali kota hari ini. Jackpot!

"Pak Bima," Fitrah merendahkan suaranya, seolah berbisik rahasia negara, "Apakah Bapak tahu sumber keracunan ini dari katering mana?"

Pria itu semakin pucat, seperti hantu yang baru saja melihat tagihan utang di akhir bulan. Dia melihat sekeliling, memastikan tidak ada yang mendengar. "Saya... saya belum tahu pasti, Mas. Masih diselidiki. Tolong jangan bilang siapa-siapa ya, saya pemiliknya. Nanti bisnis saya hancur!"

Fitrah, dengan teknik interogasi ala pengacara ulung, mulai melancarkan pertanyaan-pertanyaan terstruktur, lembut tapi menusuk. Dia tidak menuduh, dia hanya meminta fakta, mengutip standar keamanan pangan UU No. 18 Tahun 2012 dan potensi konsekuensi hukumnya—yang membuat Pak Bima makin gemetar seperti handphone kena silent mode.

Tertekan oleh rasa bersalah, panik akan nasib keluarga dan bisnisnya, serta didesak oleh pengetahuan Fitrah yang fasih soal regulasi, Pak Bima akhirnya runtuh.

"Bukan salah saya sepenuhnya, Mas," bisiknya putus asa. "Wali kota yang minta! Dia mau potong anggaran, minta bahan yang lebih murah, yang... yang sudah agak kedaluwarsa. Ceker ayam impor oplosan!"

Jackpot ceker ayam oplosan level dewa! Fitrah merasakan detak jantungnya berpacu lebih kencang daripada monitor jantung di sebelahnya. Dia baru saja mendapatkan berita eksklusif yang melibatkan korupsi tingkat tinggi dan ancaman kesehatan publik melalui bagian ayam yang paling remeh-temeh dan murah di pasaran.

"Bapak punya bukti soal permintaan wali kota itu?" tanya Fitrah, tangannya dengan sigap memastikan recorder jadulnya merekam setiap kata dengan jelas.

Pak Bima mengangguk lemah. "Ada di email. Saya simpan semuanya. Hiks... tolong jangan bilang istri saya kalau saya hampir membinasakan dia pakai ceker ayam busuk. Nanti dia minta cerai!"

Fitrah tahu dia tidak bisa memaksa Pak Bima memberikan bukti saat itu juga. Dia sudah mendapatkan pengakuan kunci yang lucu sekaligus tragis.

Dia pamit dengan sopan, meninggalkan Pak Bima yang kini teruduk lemas di bangku tunggu, meratapi nasib ceker ayamnya dan potensi perceraian. Fitrah melesat keluar dari UGD, menjauhi kerumunan wartawan lain yang masih sibuk mewawancarai perawat yang kelelahan.

Di mobilnya, di bawah temaram lampu jalan, Fitrah mendengarkan kembali rekamannya. Suara Pak Bima jelas, penuh pengakuan, diakhiri isak tangis pilu yang bikin tertawa sekaligus terharu. Dia tersenyum lebar. Ujian UGD memberinya pelajaran paling berharga: berita eksklusif bisa ditemukan di tempat yang paling kacau, jika Anda tahu cara bertanya yang benar—dan kapan harus mengutip pasal.

Esok paginya, Kabar Kilat menjadi satu-satunya media yang memuat berita utama menggemparkan: "Skandal Ceker Ayam Wali Kota Guncang Kota! Bukti Korupsi Bahan Pangan Terungkap di UGD."

Bos Top, untuk pertama kalinya dalam sejarah redaksi, terlihat tersenyum lebar. Wajah datarnya kini memancarkan aura kemenangan yang jarang terlihat.

Namun, drama belum berakhir. Tepat saat Kabar Kilat edisi pagi didistribusikan, berita mengejutkan datang dari UGD.

Pak Bima Wicaksono, sang narasumber kunci, yang semalaman overthinking memikirkan jeruji besi, tatapan kecewa istrinya, dan ceker ayam busuk, ternyata mengalami serangan jantung mendadak di ruang tunggu. Dia kritis.

Seluruh redaksi terdiam. Bos Top membeku, kopi di tangannya tumpah. Fitrah, yang sedang merayakan kemenangan dengan secangkir kopi, merasa dingin menjalar ke tulang punggungnya. Ceritanya memang sukses besar, tetapi harga yang dibayar terasa terlalu mahal.

Beberapa jam kemudian, kabar duka datang. Pak Bima meninggal dunia.

Berita itu menjadi headline susulan yang jauh lebih dramatis dan kelam: "Saksi Kunci Skandal Korupsi Wali Kota Meninggal di UGD: Keadilan Masih Misteri?"

Fitrah Nusantara resmi menjadi salah satu wartawan magang subterranean redaksi, tetapi kemenangan pertamanya terasa pahit. Dia belajar bahwa di dunia jurnalistik, kadang kala, kisah human interest bisa berubah menjadi tragedi nyata dalam sekejap mata, dan narasumber kunci bisa lenyap begitu saja, meninggalkan misteri yang lebih besar—dan ending cerita yang menggantung. (Bersambung - Aroma Kopi, Berkas Perkara, dan Hantu Ceker Ayam)


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Baca juga:

thumb
thumb
thumb
thumb
thumb
Berhasil disimpan.