Embus angin yang menerpa kulit terasa sejuk dan meneduhkan. Sorot redup matahari di sebelah barat seakan hendak berpamitan, menutup hari ini dengan anggun dan berharap esok dapat menyapa kembali.
“Sudah jam empat.” ucapku dalam hati sambil melirik jam tangan butut yang aku beli di shopee. Suasana pantai lambat laun mulai berisik. Orang-orang berbondong-bondong turun untuk menikmati saat-saat terakhir bersenggama dengan matahari yang mengintip dari balik pegunungan.
Di celah keramaian orang-orang yang mengabadikan momen dengan smartphone mereka, ada satu sosok yang sangat tidak asing bagiku. Postur tubuhnya yang mungil sejenak membawaku ke masa lalu, mengembalikan ingatan-ingatan yang sudah layu.
Ketika ia menolehkan wajahnya, tanpa sengaja ia melihat diriku yang duduk sendiri di atas sebatang pokok kayu yang tertimbun pasir.
“Hai,” sapanya padaku dari kejauhan disertai lambaian tangan kanannya.
Dengan penuh keraguan aku membalas sapaannya sembari memastikan apakah ia benar-benar menyapaku, atau menyapa orang di belakangku. Alangkah terkejutnya aku, ternyata ia benar-benar masih ingat dengan diriku.
Jantungku berdegup kencang tetapi kakiku terus melangkah mendekat padanya, ingin segera memastikan apakah benar-benar dia. Wanita yang dulu pernah hadir memberikan warna. Dan akhirnya aku berada tepat di hadapannya.
Namanya Lestari, ia adalah kakak kelasku di SMP. Meski terpaut satu tingkat, tetapi kami sangat akrab. Hampir setiap hari aku menjahilinya. Bukan karena benci, melainkan karena ingin mendapatkan perhatiannya. Namun sudah dua belas tahun kami tak pernah berjumpa.
“Gimana kabarnya?” tanyaku untuk membuka hangatnya percakapan.
“Alhamdulillah baik.” jawabnya dengan lemah lembut.
Seakan tidak ada yang berubah dari dirinya. Suaranya masih sama seperti yang dulu. Sorot matanya yang bening, sebening embun pagi yang menari-nari di atas daun talas. Hidungnya yang pesek menambah keindahan makhluk ciptaan tuhan.
Kami duduk di atas pasir putih yang perlahan digenangi pasang air laut. Bercerita tentang masa lalu yang solah cepat berlalu. Ia masih ingat betul ketika dulu aku suka menjahilinya. Aku sangat malu mendengarnya dan hanya bisa mengelak seolah aku tidak ingat sama sekali.
Sorot matahari di ufuk barak perlahan mulai menghilang. Tak terasa sudah hampir satu jam kami berbincang-bincang. Di tengah perbincangan itu tiba-tiba ada seorang anak kecil sekitar usia tiga tahun memeluk lestari dari belakang dan berkata “mama.” Anak itu diikuti oleh seorang wanita yang agak tua.
Perlahan aku mulai mengingat, wanita agak tua itu adalah ibu Lestari. Tapi siapa anak kecil yang tiba-tiba memeluk lestari? Tunggu, tadi anak itu memanggil Lestari apa? “mama”. Aku tidak salah dengar kan? Tanyaku dalam hati.
“Lho ini siapa?” tanyaku pada lestari untuk memastikan apa yang sudah aku dengar.
“Mama ayo pulang” kata anak kecil tersebut kepada lestari dengan terbata-bata sambil menarik-narik tangan Lestari.
Sambil mengemasi barang-barangnya, Lestari menjawab pelan, “Ini anaknya aku.”
Seketika udara menjadi semakin dingin tatkala mendengar jawabanya. Membekukan hati yang tiba-tiba mengharapkannya kembali. Namun aku sadar, ini bukan film drama dengan segala keunikan kisah di dalamnya.
“Aku pulang dulu ya om," ucap Lestari, seakan mengajarkan anaknya berpamitan.
Aku tidak mampu untuk berkata sepatah kata pun selain menganggukkan kepalaku. Tetapi aku terus berpikir, “jika anak itu adalah anaknya, lantas di mana suaminya? Apakah ia sudah menjanda?” tanyaku dalam hati dengan penuh harapan.