Dolar Amerika Serikat (AS) melemah pada perdagangan di Jumat (28/11). Ia mencatatkan kinerja mingguan terburuk dalam beberapa pekan, seiring meningkatnya keyakinan pasar bahwa suku bunga akan dipangkas oleh Federal Reserve (Fed) di Desember.
Dilansir dari Reuters, Senin (1/12), Indeks Dolar (DXY) yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama, turun 0,09% menjadi 99,44. Secara mingguan, indeks tersebut mencatatkan penurunan sebesar 0,61%.
Baca Juga: OJK Dorong Peningkatan Literasi Keuangan Digital Mahasiswa di UMSU
Tekanan terhadap dolar muncul setelah serangkaian data tenaga kerja yang melemah, sehingga mendorong trader memperkirakan pelonggaran kebijakan moneter lebih lanjut, meskipun sejumlah pejabat bank sentral masih mengingatkan bahwa inflasi tetap berada pada level yang tinggi.
“Rasanya setelah rilis data pasca-penutupan pemerintahan, secara umum hasilnya lemah. secara keseluruhan data mengarah pada kemungkinan pemangkasan,” kata Ahli Strategi Valas Scotiabank, Eric Theoret.
AS baru-baru ini merilis tumpukan data ekonomi yang tertunda setelah berakhirnya penutupan pemerintahan selama lebih satu bulan, bahkan menjadi merupakan rekor terlama government shutdown dari Negeri Paman Sam.
Baca Juga: AFTECH Perluas Literasi Fintech dan Keuangan Digital untuk Generasi Muda di Bangka Belitung
Investor kini memperkirakan peluang pemangkasan suku bunga sebesar 87%. The Fed diyakini akan memangkas suku bunga pada pertemuan 9–10 Desember 2025.