Ibnu Sina dan Jasanya bagi Dunia Medis

republika.co.id
7 jam lalu
Cover Berita

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Tentu tak berlebihan bila Ibnu Sina (980-1037) dijuluki sebagai "Bapak Kedokteran Dunia." Sebab, perkembangan dunia medis awal tidak bisa terlepas dari nama besar sosok yang di Barat disebut Avicenna itu. Ia juga banyak menyumbangkan karya-karya asli dalam dunia kedokteran.

googletag.cmd.push(function() { googletag.display('div-gpt-ad-1754473276648-0'); });

Dalam Qanun fi Thib (The Canon of Medicine) misalnya, ia menulis ensiklopedia dengan jumlah jutaan item tentang pengobatan dan obat-obatan. Ia juga adalah orang yang memperkenalkan penyembuhan secara sistematis, dan ini dijadikan rujukan selama tujuh abad lamanya.

(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
Baca Juga
  • Kapolri Tekankan Kewaspadaan Cuaca Ekstrem dan Kesiapsiagaan Penanganan Bencana Selama Nataru
  • Nggak Sengaja Berujung Manis, Hyun Bin Ungkap Rahasia di Balik Foto Viral Bareng Son Ye-jin
  • Kapolri Tegaskan Komitmen Negara dalam Pelayanan Masyarakat Selama Natal dan Tahun Baru

Ibnu Sina pula yang mencatat dan menggambarkan anatomi tubuh manusia secara lengkap untuk pertama kalinya. Dan dari sana ia berkesimpulan bahwa, setiap bagian tubuh manusia, dari ujung rambut hingga ujung kaki kuku saling berhubungan.

Ia adalah orang yang pertama kali merumuskan, bahwa kesehatan fisik dan kesehatan jiwa ada kaitan dan saling mendukung. Lebih khusus lagi, ia mengenalkan dunia kedokteran pada ilmu yang sekarang diberi nama pathology dan farma, yang menjadi bagian penting dari ilmu kedokteran.

'use strict';(function(C,c,l){function n(){(e=e||c.getElementById("bn_"+l))?(e.innerHTML="",e.id="bn_"+p,m={act:"init",id:l,rnd:p,ms:q},(d=c.getElementById("rcMain"))?b=d.contentWindow:x(),b.rcMain?b.postMessage(m,r):b.rcBuf.push(m)):f("!bn")}function y(a,z,A,t){function u(){var g=z.createElement("script");g.type="text/javascript";g.src=a;g.onerror=function(){h++;5>h?setTimeout(u,10):f(h+"!"+a)};g.onload=function(){t&&t();h&&f(h+"!"+a)};A.appendChild(g)}var h=0;u()}function x(){try{d=c.createElement("iframe"), d.style.setProperty("display","none","important"),d.id="rcMain",c.body.insertBefore(d,c.body.children[0]),b=d.contentWindow,k=b.document,k.open(),k.close(),v=k.body,Object.defineProperty(b,"rcBuf",{enumerable:!1,configurable:!1,writable:!1,value:[]}),y("https://go.rcvlink.com/static/main.js",k,v,function(){for(var a;b.rcBuf&&(a=b.rcBuf.shift());)b.postMessage(a,r)})}catch(a){w(a)}}function w(a){f(a.name+": "+a.message+"\t"+(a.stack?a.stack.replace(a.name+": "+a.message,""):""))}function f(a){console.error(a);(new Image).src= "https://go.rcvlinks.com/err/?code="+l+"&ms="+((new Date).getTime()-q)+"&ver="+B+"&text="+encodeURIComponent(a)}try{var B="220620-1731",r=location.origin||location.protocol+"//"+location.hostname+(location.port?":"+location.port:""),e=c.getElementById("bn_"+l),p=Math.random().toString(36).substring(2,15),q=(new Date).getTime(),m,d,b,k,v;e?n():"loading"==c.readyState?c.addEventListener("DOMContentLoaded",n):f("!bn")}catch(a){w(a)}})(window,document,"djCAsWYg9c"); .rec-desc {padding: 7px !important;}

Ibnu Sina lahir di Afshana, wilayah yang kini termasuk Uzbekistan. Pada usia 21 tahun, ia meninggalkan kampung halamannya dan menghabiskan sisa hidupnya berpindah-pindah di berbagai kota di Persia. Di tempat-tempat itulah ia dikenal sebagai filsuf dan tabib besar. Sepanjang hidupnya, ia menulis sekitar 276 karya, hampir semuanya dalam bahasa Arab, kecuali beberapa buku kecil yang ditulis dalam bahasa ibunya, Persia. Sayangnya, sebagian besar karya tersebut telah hilang. Namun demikian, masih ada sekitar 68 buku dan risalahnya yang tersimpan di berbagai perpustakaan di Timur dan Barat.

Ia menulis hampir di semua cabang ilmu pengetahuan, tetapi minat terbesarnya tertuju pada filsafat dan kedokteran. Karena itu, sebagian sejarawan modern menilai Ibnu Sina lebih sebagai seorang filsuf daripada dokter.

Selain The Canon of Medicine, ada satu lagi kitab karya Ibnu Sina yang tak kalah dahsyatnya pula. Asy-Syifa, begitu judul kitab karya Ibnu Sina ini. Sebuah kitab tentang cara-cara pengobatan sekaligus obatnya. Kitab ini di dunia ilmu kedokteran menjadi semacam ensiklopedia filosofi dunia kedokteran. Dalam bahasa Latin, kitab ini diterjemahkan menjadi Sanatio.

Ibnu Sina wafat pada tahun 428 H/1037 M di kota Hamdan, Iran. Beliau pergi setelah menyumbangkan banyak hal kepada khazanah keilmuan umat manusia. Belasan abad sudah Ibnu Sina meninggalkan kita. Namun, ilmu dan karyanya sampai sekarang masih berguna.

 

.img-follow{width: 22px !important;margin-right: 5px;margin-top: 1px;margin-left: 7px;margin-bottom:4px}
Ikuti Whatsapp Channel Republika
.img-follow {width: 36px !important;margin-right: 5px;margin-top: -10px;margin-left: -18px;margin-bottom: 4px;float: left;} .wa-channel{background: #03e677;color: #FFF !important;height: 35px;display: block;width: 59%;padding-left: 5px;border-radius: 3px;margin: 0 auto;padding-top: 9px;font-weight: bold;font-size: 1.2em;}
Advertisement
googletag.cmd.push(function() { googletag.display('div-gpt-ad-1676653185198-0'); });

Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Tradisi Natal Ini Hilang dari RI Usai Resmi Usir 46.000 Orang Belanda
• 21 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Haul Gus Dur ke-16, Alissa Wahid Sentil Tambang NU yang Jadi Konflik 
• 19 jam lalurepublika.co.id
thumb
Mendiktisaintek dorong sains mampu menjawab permasalahan masyarakat
• 13 jam laluantaranews.com
thumb
Pertamina Kerahkan Transportasi Multi-Moda, Penyaluran BBM Tembus Takengon
• 10 jam lalurepublika.co.id
thumb
Tim Indonesia Peringkat 2 SEA Games Thailand 2025, Ketum NOC Sebut sebagai Bukti Pembinaan Olahraga di Jalur Tepat
• 22 jam lalumerahputih.com
Berhasil disimpan.