Bisnis.com, JAKARTA — Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (Ikappi) mencatat jumlah pembeli pada momentum Natal dan Tahun Baru (Nataru) kali ini mengalami penurunan hingga 40% dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya, sejalan dengan tekanan daya beli dan kenaikan harga bahan pangan.
Ketua Umum Ikappi Abdullah Mansuri menyebut bahwa penurunan pembeli di Nataru tahun ini terlihat jelas dari pantauan pedagang di berbagai daerah.
“Tahun ini memang mengalami penurunan cukup signifikan, sekitar 40% dibanding tahun lalu. Artinya memang daya beli masyarakat menurun dan memang keterjangkauan pasar terhadap masyarakat itu sangat menurun. Ini yang terjadi,” kata Abdullah kepada Bisnis, Rabu (31/12/2025).
Menurut dia, kondisi ini berbeda dengan tren tahunan yang biasanya mencatat lonjakan transaksi menjelang akhir tahun. Kali ini, kenaikan harga sejumlah komoditas pangan justru menahan laju konsumsi rumah tangga.
Abdullah mengungkap, sejumlah harga komoditas pangan melonjak tajam menjelang tahun baru 2026. Dia memerincikan, harga cabai rawit merah melonjak tajam hingga menyentuh Rp120.000 per kilogram, atau setara dengan harga daging sapi.
Komoditas lain seperti cabai keriting juga naik menjadi Rp40.000 per kilogram dan bawang merah ukuran sedang dibanderol Rp60.000 per kilogram. Lalu, harga bawang putih naik menjadi Rp40.000 per kilogram, sedangkan bawang putih kating menjadi Rp45.000 per kilogram.
Selain itu, harga pangan yang bersumber dari protein hewani seperti ayam juga naik signifikan menjadi Rp50.000 per ekor, sedangkan harga dada ayam fillet dibanderol Rp60.000 per kilogram.
Berikutnya, telur ayam yang naik dari Rp28.000 per kilogram menjadi Rp32.000 per kilogram. Tak hanya itu, minyak goreng curah turut mengalami kenaikan menjadi Rp20.000 per liter dari sebelumnya Rp19.000 per liter.
Masih mengacu pantauan Ikappi di akhir 2025, harga beras di pasar tradisional berada pada level Rp14.000 per kilogram dan gula pasir Rp18.500 per kilogram.
Abdullah berharap agar stabilisasi harga dan pemulihan daya beli masyarakat dapat menjadi fokus utama pasca perayaan tahun baru.
“Kami berharap agar fase berikutnya pasca tahun baru ini penting untuk dijaga sih,” ujarnya.




