TABLOIDBINTANG.COM - Sejumlah musisi dan pelaku seni di Amerika Serikat memilih angkat kaki dari panggung Kennedy Center setelah nama Donald Trump dikaitkan dengan gedung seni prestisius tersebut.
Keputusan itu memicu gelombang protes di kalangan seniman yang menilai langkah tersebut sarat kepentingan politik dan bertentangan dengan nilai kebebasan berekspresi.
Penambahan nama Donald Trump pada John F. Kennedy Center for the Performing Arts di Washington DC langsung menuai reaksi keras.
Banyak seniman menilai sosok Trump kerap diasosiasikan dengan kebijakan yang memecah belah dan tidak sejalan dengan prinsip keterbukaan serta keberagaman yang dijunjung dunia seni.
Salah satu pembatalan paling menyita perhatian datang dari grup jazz ternama, The Cookers. Grup ini secara mengejutkan menarik diri hanya beberapa hari sebelum jadwal tampil pada malam Tahun Baru 2026.
Keputusan tersebut diumumkan melalui pernyataan resmi yang dikutip media internasional.
Dalam pernyataannya, The Cookers menegaskan bahwa jazz lahir dari perjuangan panjang menuntut kebebasan berpikir dan berekspresi.
Mereka menilai nilai-nilai tersebut bertolak belakang dengan citra dan kebijakan Donald Trump selama ini.
Gelombang penolakan tak berhenti di dunia musik. Kelompok tari Doug Varone and Dancers juga memutuskan membatalkan pertunjukan mereka di Kennedy Center. Padahal, keputusan tersebut membuat mereka harus menanggung kerugian finansial hingga sekitar USD 40 ribu atau setara Rp 670 juta.
Bagi kelompok tari tersebut, sikap mundur diambil demi menjaga prinsip. Mereka menilai nilai dan integritas seni jauh lebih penting daripada keuntungan materi.
Sebelumnya, musisi jazz Chuck Redd juga telah lebih dulu membatalkan konser malam Natalnya di Kennedy Center sebagai bentuk protes atas penggunaan nama Trump.
Langkah itu bahkan sempat berujung ancaman tuntutan ganti rugi dari pihak Kennedy Center.
Kontroversi ini mendapat tanggapan keras dari Presiden Kennedy Center, Richard Grenell.
Dalam surat resmi tertanggal 26 Desember 2025, ia menilai pembatalan para seniman bermuatan politis dan mencerminkan sikap tidak toleran.
Grenell menyebut para seniman yang hengkang merupakan bagian dari kebijakan pemesanan kepemimpinan lama yang berhaluan kiri. Ia menilai aksi memboikot seni atas nama seni sebagai ironi.
Di sisi lain, Kennedy Center menegaskan komitmennya untuk menolak segala bentuk diskriminasi dan tetap menghadirkan pertunjukan seni yang dapat diterima oleh semua kalangan, tanpa memandang latar belakang politik.
Penambahan nama Donald Trump di Kennedy Center diketahui terjadi pada awal Desember 2025. Namun alih-alih menjadi kebanggaan, langkah tersebut justru memicu kemarahan luas dari komunitas seni yang menilai kebijakan dan pernyataan Trump selama ini tidak ramah terhadap imigran, kelompok minoritas, serta kebebasan berekspresi.

:strip_icc()/kly-media-production/medias/5460043/original/048597900_1767202917-Prabowo_Tahun_Baru_di_Tapsel.jpg)
